Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 48


Langkah Ara terhenti, berdiri mematung menatap kedua manusia yang Ara tak sukai. Duduk manis, menonton televisi, saling melempar candaan. Tadinya Ara sudah mulai mengubur perasaan sakitnya perlahan. Tapi sekarang terkoyak paksa, kembali merasakan sesak teramat di dada.


"Hai! " Sapa Angel melempar senyum ramahnya pada Ara yang tengah mematung seperti orang bodoh.


Ara tak mau balik menyapa, tapi matanya menatap ke arah Rio yang kini juga memandangnya tanpa dosa.


"Sabar, ini keputusan kamu Ra, dan ini sudah di terima oleh Rio. Buat apa merasa sakit hati, kamu yang rugi. Biarkan mereka saling mencinta. Kuat, kuat." Monolog Ara.


Persekian detik Ara terdiam, ia akhirnya tersenyum palsu dan membalas sapaan Angel. "Hai !"


"Kamu baru pulang." Tanya Angel.


Angguk Ara.


Pada dasarnya Angel orang yang humble, dan sepertinya orang baik. Tapi entah karena Angel masuk dalam hubungannya dengan Rio secara tiba-tiba di saat Ara menjadi istri Rio itu membuat Ara merasa sakit hati dan merasa kurang menerima hadirnya Angel. Atau menerima kenyataan bahwa Rio tak berterus terang pada Angel tentang statusnya. Entahlah, intinya Ara tak merasa nyaman dan aman jika bertemu dengan Angel. Apa memang Ara benar-benar jatuh cinta pada Rio?


Ara hilangkan berfikir kotor tentang perasaanya. Ya kotor jika menyangkut tentang Rio.


"Angel bakalan nginep di sini untuk seminggu ke depan." Gak ada hujan, gak ada angin. Halilintar bukan Gen Halilintar. Tapi emang seperti halilintar menyambar semua indera Ara secara beruntun.


Laki-laki ini pintar sekali membuat Ara melayang ke atas lalu menghempaskan tanpa melihat ke bawah. Belum Ara mengambil nafas akibat sesak berada satu ruangan dengan mereka. Jantung seperti terhimpit benda keras, sesak makin sesak rasanya.


"Ra, kuat, Ra." Bhatin Ara menyemangati dirinya sendiri. Jemarinya ia remas kuat-kuat. Berdiri tegar, lalu tersenyum tipis dan mengangguk.


Rio sama sekali tak memberikan penjelasaan apapun tentang kenapa Angel harus menginap di rumah mereka. Setidaknya mengajak Ara duduk dan berbicara baik-baik. Jika itu terjadi, Ara pun tak sudi.


Ara pergi meninggalkan keduanya. Baru saja menaiki anak tangga.


"Kamar atas di tempati Angel, semua barang udah di pindahin ke kamar tamu." Nada dingin yang selalu mengganggu telinga Ara.


"Oke, Rio benar-benar ingin hubungan ini berjalan sesuai apa yang aku katakan kemarin. Gak masalah, setidaknya aku belum terlalu dalam jatuh ke sebuah lubang yang suatu saat nanti aku sulit keluar. "Bhatin Ara, ia genggam erat tralis tangga ketika Rio mengatakannya dengan jelas.


Ara tatap kamarnya yang kemarin ia tempati dari bawah tangga. Jantungnya sedikit teremas. Pertunjukan Rio sangatlah epic. Kenapa dirinya harus di nikahan dengan lelaki sialan ini. Tidak menyayanginya, tidak mencintainya, setidaknya menghargainya sebagai istrinya. Lupakanlah, Ara sendiri yang mengatakan untuk tidak menyebut tanggung jawab masing-masing ketika di rumah. Biarkan status mereka hanya untuk kedua orang tua mereka.


Ara tak jadi menaiki anak tangga. Ia pergi ke kamar tamu yang Rio katakan. Ara buka pintu kamar tamu, benar yang di katakan Rio. Barang-barangnya sudah tertata rapih di kamar tamu. Ara tutup rapat pintu, ia benci memliki hati lemah seperti dirinya. Di depan mereka bisa kuat, tapi di belakang mereka. Ara hanyalah seonggok sampah untuk mereka. Hatinya sedih sekali, tapi ia harus kuat.


Ara lepas tas punggungnya dan meletakkannya di meja rias. Ara buka lemari pakaiannya, Ara tersenyum masam melihat barang-barangnya benar ada di sini semua. Ia ambil satu stel baju tidur berlengan pendek dan celana di atas lutut.


***


Ara baru selesai mandi, ia keluar sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia tutup pintu kamar mandi, ia terkejut melihat Rio sudah duduk di ranjangnya dengan memandang dirinya.


Aktivitasnya mengeringkan rambut terhenti, persekian detik menatap Rio. Lalu kembali mengeringkan rambutnya dengan seolah-olah biasa saja mendapatkan Rio di sini.


"Mau apa si balok es?" Bhatin Ara.


Ara acuhkan keberadaan Rio. Ia memilih melewati Rio, dan duduk di meja rias.


"Ra! " panggil Rio.


"Ra ! Jawab." Ara jelas mengacuhkannya sekarang malah maksa dirinya untuk menjawab. Ara tidak ada mood meladeni mahluk aneh sejagat raya. Sebentar-bentar berubah sikap.


"Ra, aku mau jelasin." Ara berhenti dari aktivitasnya, ia menatap Rio dari cermin.


"Tentang?" Lanjut Ara mengeringkan rambutnya .


"Angel !" Jantung Ara benar-benar di remas kuat-kuat mendengar nama terlisan dari bibir Rio.


Buru-buru Ara menutupinya dengan terus mengeringkan rambutnya. Dengan matanya terus mencuri-curi ke arah Rio dari cermin.


"Aku gak butuh." Ketus Ara.


"Aku rasa butuh."


"Untuk apa?" Nada naik satu oktaf dari Ara. Dadanya bergemuruh, lelah sekali mengahadapi Rio yang selalu menghadirkan Angle di tengah-tengah hubungan mereka yang tak jelas ini.


Ara berbalik badan, menyorot tajam ke arah Rio. Sesak rasanya, dan Ara benci rasa ini. Rasa yang ingin dia buang sejauh-jauhnya. Ara jatuh hati tapi ia tolak mentah-mentah kenyataan ini. Lebih baik melawan rasa sakit ini, menguburnya sedalam-dalamnya. Daripada harus membiarkan dan jatuh itu lebih menyakitkan.


"Ara fikir, hubungan kita hanya di atas kertas, dan di akui hanya dua keluarga. Mau Rio bawa seribu wanita pun, masuk ke dalam rumah ya silahkan. Ara gak melarang itu. Ara ini siapa? Bukan siapa-siapa. Oh, istri, istri bayangan kan." Jelas Ara.


"Ara harap Rio paham apa yang Ara bilang kemarin malam."


"Cukup penjelasaan Ara tentang ini semua. Sekarang terserah Rio mau melakukan apa. Mau Rio bawa seribu, dua ribu, bahkan wanita sedunia ke rumah ini silahkan. Ini gak ada hubungannya sama Ara."


Rio hanya tertegun Ara menjelaskan isi hatinya.


"Udahlah, Ara capek, Ara mau istirahat. Ara mohon Rio keluar. Nanti Angel curiga lagi. Udah sana, mending temenin tuh kekasihmu." Ara menarik-narik lengan Rio sebisa mungkin. Yang di tarik tak bergeming.


"Dengerin aku sebentar !" Tegas Rio seraya menarik balik Ara sampai Ara sedikit membungkuk. Jarak wajah me mereka hanya beberapa senti. Mata Ara membulat, rahangnya melemas. Mata mereka saling beradu tanpa kedip.


"Ara ga-" Kalimat Ara terhenti akibat Rio tiba-tiba menciumnya sekilas.


"Keter-" Mata Ara membulat, lagi-lagi Rio mencium bibirnya sekilas.


Pipi Ara tak bisa di sembunyikan rona warna merah di pipinya. Ara di buat salah tingkah. Tapi di dalam hatinya selain ada getaran aneh, ia pun mengumpat banyak hal tentang Rio.


"Makanya, nurut." Kata Rio yang semakin menarik tubuh Ara mendekati dirinya. Tapi Ara tahan sebisa mungkin agar tak jatuh di pelukan Rio.


"Rio, lepas." Berontak Ara. "Aku gak mau dengerin alasan apapun dari mulut mu!" Kekeh Ara.


Rio tersenyum menyeringai, menatap Ara nakal.


"Argh!!" Pekik Ara, Rio menarik lengan Ara sampai jatuh ke ranjang. Sigap, Rio langsung mengunci tubuh Ara dengan menaiki tubuhnya sendiri, dan pergelangan tangan Ara dengan kedua tangan nya.


"Rio sialan!" Maki Ara.


"Sshttt..."