Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 107


"Kang Odi?"


Ara baru saja membukakan pintu sebab tadi ada yang mengetuk.


"Permisi, Neng Ara."


"Ada apa Kang?" tanya Ara.


Kang Odi menyodorkan paper bag cokelat kepadanya yang entah berisi apa. Ara yang di sodorkan, ia terima-terima saja. Namun ia bingung.


"Ini apa Kang?"


"Itu, tadi ada ojek online katanya buat Neng."


Terlipat dahi Ara, "hah! Ara gak ada pesen apa-apa Kang. Cuma tadi pagi aja makanan buat sarapan. Emang ini yang ngirim atas nama siapa?"


"Wah, kalau itu saya kurang tahu Neng. Si abang ojeknya gak ada bilang," jawab Kang Odi. "Kalau gitu saya permisi ya Neng," pamit Kang Odi pada Ara.


"Iya, Kang. Makasih ya," ujar Ara dan langsung menutup kembali pintunya.


Waktu Ara buka ternyata isinya makanan berat. Ara pastinya heran, siapa yang mengirimnya makanan. Padahal makan siang masih lama. Apa Mama Fani, pikirnya.


___


Toktoktok


Pintu kaca mobil Rio di ketuk oleh seseorang lelaki muda. Cepat Rio buka kacanya.


"Mas, jangan parkir sembarangan dong! Ini 'kan jalan keluar rumah saya. Saya mau ngeluarin mobil jadi gak bisa," protes lelaki itu dengan wajah kesal.


Rio pun menoleh ke arah kiri dari dalam mobil. Memang benar lelaki ini hendak mengeluarkan mobilnya dari halaman rumahnya yang tanpa pagar.


"Oh, maaf Mas," ucap Rio bersalah.


"Gimana sih Mas, udah tiga jam Mas di sini. Lagi nungguin siapa sih?" tanya lelaki itu penasaran juga karena mobil Rio hanya terparkir begitu saja.


"Nunggu orang yang tinggal di sana," tunjuk Rio.


Lelaki itu melihat arah yang di tunjuk Rio. Mengarah ke indekos yang berdekatan dengan rumah sang pemuda.


"Siapa? Pacar?" tebaknya.


Rio tertegun, "i-iya."


"Ya ampun Mas, samperin aja. Kalau nunggu kejauhan amat, masa nunggu di sini."


Rio hanya tersenyum tipis dan bingung hendak menjawab apa lagi.


"Lagi berantem ya," tebak pemuda itu dengan tersenyum mengejek.


Sebenernya Rio tak nyaman di berondongi pertanyaan aneh-aneh oleh pemuda ini yang Rio tebak usianya sepantaran dengannya. Memang pemuda ini terlihat tipe orang yang ceplas-ceplos.


"Gengsi amat mau jujur aja," kelakarnya. "Ya, daripada Mas-nya nunggu di sini, entar di razia parkir liar, loh. Mending parkir di halaman rumah saya aja," tawarnya.


"Serius Mas?" senang Rio.


"Serius saya."


"Emang Mas ini mau kemana?"


Rio memandangi sang pemuda itu dengan memakai baju rapih.


"Oh, saya mau balik kampung. Biasa, mau jenguk orang tua," jawabnya. "Jadi halaman bakal kosong selama saya di sana."


Rio senang bukan main, ia bakal bisa memantau Ara dengan sepuasnya tanpa harus memikirkan mobilnya. Ia tidak akan menolak tawaran ini.


"Saya mau banget Mas."


"Pake aja, kalau gitu saya permisi pergi dulu ya. Ini mobil Mas minggir dulu," titahnya.


Rio mengangguk cepat, sebelum pemuda itu melangkah pergi. Rio panggil lagi.


"Mas, tunggu sebentar."


Lelaki itu mendekat lagi. Rio cepat mengeluarkan beberapa uang lembaran berwarna merah.


"Ini buat Mas, buat tambah-tambah uang perjalanan," sodornya.


Mata lelaki itu membulat saat menatap uang yang di berikan oleh Rio. Ia sempatkan melihat Rio yang sepertinya tidak keberatan dengan jumlah uang yang kini di depan matanya. Pastinya itu uang bukan sedikit, sebab lembaran kertas warna merah itu tidaklah sedikit.


"Gak usah Mas," tolak pemuda itu sopan.


"Ambi aja Mas, kalau enggak buat beli oleh-oleh keluarga di sana."


"Tapi ini kebanyakan Mas."


"Sekalian tanda terima kasih saya sama anggap aja ini uang sewa saya bayar halaman rumahnya."


Tertegun pemuda itu, tak menyangka siang-siang begini ia kedapatan uang kaget. Memang kaget, uang sebanyak itu hanya karena sepetak halaman rumahnya yang tidak seberapa.


Rio yang tak sabaran, langsung menarik tangan pemuda itu.


Pemuda itu masih tertegun, benar-benar tak menyangka. Hari ini ia bertemu orang yang bermurah hati. Padahal pemuda ini balik ke kampung memang sejujurnya dengan keadaan uang yang tidak bagus. Karena orang tuanya memaksa, akhirnya ia pulang dengan terpaksa. Tapi siapa sangka, uang sebanyak ini berada di tangannya.


Pemuda itu mendekat lagi ke mobil Rio.


"Makasih ya, Mas," ucapnya dengan memberikan hormat berulang kali tanda terima kasih


"Iya sama-sama," lelaki itu langsung kembali menuju mobilnya dengan cepat.


Mobil si pemuda melewati mobil Rio. Klakson mobil si pemuda bunyi sebelum pergi melesat dari pandangan.


____


Sudah jam tujuh malam sekarang. Ara tidak ada keluar sama sekali. Rio yang menghabiskan berjam-jam di dalam mobil hanya memantau Ara.


Berarti selama ini Ara tidak pergi kemana-mana. Syukurlah, Rio lega saja. Ara termasuk masih baru di sini, pastinya Ara belum menguasai jalanan ibu kota.


Mobil sport Lamborghini Gallardo Superleggera berwarna hitam pekat berhenti tepat di depan mobil Rio.


Keluarlah sosok lelaki dari mobil yang ia kendarai. Dengan berpakaian rumahan tetapi tetap elegan. Lelaki itu mendekat ke mobil Rio.


Rio yang mengenal siapa itu, ia langsung keluar dari dalam mobilnya.


"Lo ngapain sih di sini?" tanya Alex. "Astaga, penampilan lo kayak orang gembel!"


Alex menatap terkejut melihat sosok Rio yang tidak karu-karuan. Rio tak mengindahkan ucapan Alex, ia malah membuang muka.


"Ngapain sih, nyamperin. Gue bilang besok aja."


Kedua pria itu saling menyandarkan diri ke badan mobil.


"Gabut aja, lagian lo ngapain di sini. Ini rumah siapa?" Alex melihat ke arah depan rumah yang dimana mobil Rio terparkir. "Simpenan lo?"


"Apaan sih, simpenan apa? Istri satu aja bikin pusing, pake nambah-nambah!" celetuk Rio.


"Ah, kemarin-kemarin aja lu bisa tuh bawa Angel ke rumah yang ada istri lo. Bisa aja 'kan lo beliin dia rumah."


"Gak usah di bahas, ini rumah orang. Gue numpang parkir di sini."


Asap membumbung ke area wajah Alex. Ia hisap sebatang rokok.


"Terus lo ngapain di sini?"


"Tuh," tunjuknya menggerakkan kepala maju mengarah ke indekos.


Alex langsung berdiri dari sandaran, melihat gerbang indekos yang terdengar seperti akan di buka. Tangannya sengaja menyandar ke bahu Rio.


"Simpenan lo di situ rupanya?" tanyanya antusias


"Mulut lo," bahunya ia alihkan agar tidak menjadi sandaran gratis temannya itu.


Rio melihat yang keluar ternyata Ara. Buru-buru Rio menyeret teman baiknya itu bersembunyi agar Ara tidak mengetahui keberadaannya.


"Eh, apaan sih?" kesal Alex yang membawa dirinya seperti kucing saja. Rio menarik kerah bajunya.


"Diem Lex," Rio menangkup mulut Alex takut suara Alex terdengar.


Alex pasrah saja, ia malah ikut memperhatikan istri temannya itu juga.


Ara rupanya akan pergi dengan ojek online. Pakaiannya rapih, sepertinya Ara akan pergi menemui seseorang. Setelah motor yang membawa Ara pergi, baru mereka muncul dari persembunyian.


"Itu 'kan istri lo. Ngapain sih, kayak pengintai gak jelas gini. Tinggal datangin apa susahnya sih. Kayak ketemu bakal di makan hidup-hidup."


Lagi-lagi Rio tak mengindahkan ucapan Alex. Ia memilih membuka pintu mobilnya. Ia cabut kunci mobil miliknya.


"Ini lo mau ngapain?" Rio menarik lengan Alex.


Dirinya di paksa Rio untuk masuk ke dalam mobilnya sendiri di bagian depan penumpang. Karena di paksa, ya sudahlah Alex menurut saja.


Rio masuk ke dalam mobil Alex di bagian kemudi. Langsung tanpa basa-basi, mobil Alex itu memacu dengan kecepatan tinggi menyusul kemana Ara pergi.


___


Sampailah di sebuah cafe. Lagi-lagi cafe yang biasa Ara datangi, yang biasanya pasti ada Gilang. Tentu saja yang di tebak Rio benar. Tak lama Gilang datang dengan motornya.


"Udah langsung temuin aja, mumpung di sana."


Mata Rio terus mengintai ke arah cafe. "Gak semudah itu, Lex."


"Kalau lo terus diem-diem gini, kapan hubungan lo bakal maju sih. Hubungan lo tuh dah kayak di ujung tanduk."


Rio menoleh ke arah Alex dengan tatapan tajam. Rasanya Rio ingin meng-lem mulut Alex, dari tadi gak ada diemnya.


Saat bersamaan Rio dan Alex saling memandang. Terpikir satu ide di kepala Rio. Karena tiba-tiba Rio tersenyum lebar. Alex mendadak merinding, perasaannya menjadi tidak enak.


"Ngapa lo liat gue gitu amat."


Senyum Rio semakin melebar hingga menunjukan barisan giginya.


___