Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 108


"Mau pesan apa Mas?" tanya salah satu pelayan wanita muda.


Alex yang berusaha menutupi wajahnya dengan topi, terpaksa ia harus mendongak sedikit menatap pelayan itu.


"Ice coffee, satu," jawab Alex. Kembali mengalihkan pandangannya agar tak lama-lama saling menatap.


Pelayan itu dengan sigap mencatat, kemudian berpamitan.


"Sial, Rio! Gue harus ngelakuin ini semua demi hubungan mereka."


Rio memaksa Alex untuk masuk ke dalam cafe untuk melihat apa yang di lakukan Ara dan dengan siapa. Sebab Ara tak bisa langsung dapat mengenali wajahnya. Hanya sekali mereka bertemu. Jadi Rio memanfaatkan Alex. Ini semua Alex lakukan demi rasa pertemanan mereka, walau hatinya sedikit dongkol.


Sesekali Alex mencari sosok Ara yang sedari tadi ia tak lihat di meja mana pun. Alex pikir mungkin Ara sedang di toilet. Namun tebakannya langsung ia patahkan. Tak lama sosok yang ia cari keluar dari sebuah ruangan dengan seragam yang sama seperti pelayan-pelayan lainnya di sini.


Alex menatap tak percaya, Ara rupanya bekerja di sini. Ternyata Rio salah mencurigai Ara yang rutin datang di kira bertemu seseorang di kafe ini.


Tak memakan waktu banyak, Alex langsung mengambil ponselnya di saku celana. Tangannya langsung menggulir ke aplikasi kamera. Diam-diam Alex mengambil beberapa kegiatan Ara yang melayani pengunjung dengan ramah.


Setelah mendapatkannya langsung Alex mengirim foto-foto yang ia ambil ke Rio.


[Lo, gila. Bini lo tuh kerja, bukan selingkuh. Sakit emang. Suami macam apa sih lu, kegiatan istri sendiri masa gak tau!]


Tambah Alex di bawah foto-foto yang ia kirim dan langsung centang biru. Yang tandanya si penerima sudah melihat.


___


Kedua mata Rio berkaca-kaca setelah melihat foto-foto Ara yang di ambil Alex diam-diam di dalam kafe. Hatinya sakit yang teramat mengetahui fakta yang sesungguhnya.


Kecurigaannya memang sampah kalau sudah mengetahui semuanya. Ternyata Ara bekerja selama ini untuk menghidupi dirinya sendiri. Apa yang di katakan Ara kemarin di rumah mamahnya, bukanlah bualan semata. Kartu ATM yang ia berikan memang tindakan tak main-main.


Bukannya tanpa sebab Ara sampai bekerja demi harga dirinya tak di injak-injak oleh suaminya sendiri. Pertemuan setelah Ara pergi entah kemana selama satu minggu. Pertemuan di rumah orang tuanya, klimaksnya.


Rio dengan gusar setelah kepergian Ara dari toilet. Apa yang di katakan Ara seperti memang awal mula masalah hadir di dirinya, tapi Rio lupa kapan dirinya begitu kejam mengatakan Ara datang di kehidupannya hanya semata karena harta yang keluarganya miliki.


Di situasi seperti itu, Rio malah menelpon Alex untuk mencari tau. Alex yang di tanyai hal yang tak masuk akal, malah mengumpat Rio. Namun mendengar nada gemetar Rio, membuat Alex menghela nafas panjang. Memang masalah yang di hadapi sahabatnya cukup pelik.


Alex mengalah, ia tak tega. Akhirnya meminta waktu sebentar untuk mengingat apa yang di maksud Rio. Setelah beberapa menit, Alex langsung ingat. Lalu menceritakan apa yang ia ingat saja.


Memang benar pada waktu itu Rio dengan nada kesal mengatakan Ara wanita yang hanya mau hartanya saja dan tidak tulus menjalani pernikahan mereka. Jelas membuat hati Rio mencelos mendengarnya. Mendengar kalimat Alex yang awalnya muncul dari mulutnya sendiri.


Bukan itu saja, Alex menambahkan kalau waktu ia hendak pergi dari gedung Rio. Alex berpapasan dengan salah satu staf dari mereka. Sebelum Alex pergi, staf itu sempat menanyakan seorang wanita yang hanya berdiri cukup lama di depan pintu masuk ruangan Rio. Staf itu mengatakan wanita itu bukanlah pegawai dari kantor Rio.


Siapa lagi kalau bukan Ara. Staf itu pun mengakhiri mengatakan wanita pergi begitu saja dengan wajah menangis.


Bagai belati menghunus jantungnya, Rio hampir tak bisa bernafas dengan benar mendengar keseluruhan cerita Alex. Dirinya tak menyangka mulutnya yang kurang ajar semakin kurang ajar menyakiti seseorang wanita yang padahal tak ada niat sama sekali.


Kenapa juga hari itu Ara harus datang ke kantornya. Andai dia tak datang, apa hubungan mereka akan seberantakan ini?


Ara sudah menyulutkan api besar di hubungan mereka dengan jelas. Memang hubungan mereka layak di katakan di ujung tanduk.


Kepedihan, kesedihan, kesakitan yang dulu Ara rasakan kini telah berpindah ke Rio. Bahkan mungkin rasa sakitnya ini mungkin tidak seberapa dengan rasa sakit yang Ara rasakan setiap harinya ketika bersamanya. Hatinya semakin hancur, kala mendapatkan fakta bahwa uang yang selama ini ia kasih untuk memudahkan segalanya tak pernah Ara pakai sepeserpun.


Rio menggenggam erat kartu ATM yang Ara berikan kemarin. Tak bisa lagi di jelaskan bagaimana keadaan hatinya sekarang. Kalau di tanya, hanya sebuah penyesalan yang percuma. Semakin mengingat Ara semakin Rio menggila.


Ia pegang erat kendali stir mobil, kedua pelupuk matanya tak sanggup menahan butiran air bening. Rio berteriak sekuat-kuatnya sesekali memukul stir mobil. Luruh air matanya bersamaan hatinya yang hancur. Entah mengapa ada kata penyesalan di hidup, merasa seperti tak bisa di ulangi dan hanya bisa di perbaiki. Akankah semakin sempurna atau semakin cacat?


___


Alex lari setelah keluar dari kafe menuju mobilnya.


"Huh! ... hujan, bentar lagi mau hujan." Ngeluh Alex masuk ke dalam mobil


Cuaca tiba-tiba mendadak gerimis.


"Nangis lu?" tanya Alex melihat Rio tertunduk dengan suara isakan tangis.


"Sabar, bro. Memang udah waktunya lo kena karma karena udah nyakitin Ara. Lagian Ara cantik kayak gitu lo siain," ucap Alex seraya menepuk pundak Rio seolah mengerti apa yang sedang di alami sahabatnya saat ini.


Bukan pertama kalinya Alex melihat Rio bersedih karena lagi-lagi percintaannya selalu tak berjalan mulus.


Angel, wanita pertama yang menorehkan luka di hati Rio terlebih dahulu. Mungkin itu awalan, Rio merasakan yang teramat sakit sebab Angel memutuskan hubungan mereka secara sepihak hanya karena Angel tak bisa menjalani hubungan jarak jauh.


Tapi, bagi Alex ini pertama kalinya Rio menitikan air mata untuk wanita. Ara. Sesenggukan, membuat Alex merasa bahwa Rio benar-benar telah jatuh cinta dengan Ara. Sekarang hanya penyesalan terbesar baginya.


Berbeda dengan cinta pertama Rio, dimana dirinya yang terluka. Sekarang dirinyalah yang membuat luka itu sendiri.


"Udah, pikirin besok lagi. Nenangin diri dulu, sekarang lo tau semuanya. Lo pasti bakal memperbaiki semuanya, karena lo udah tau awal permasalahannya. Kalau lo yakin, Ara buat lo. Perjuangin dengan cara lo sendiri, paham!" jelas Alex berusaha memberi kekuatan untuk Rio.


Rio mengangguk, lalu mengusap sisa air matanya. Rio pun memacu kendaraan meninggalkan area kafe dengan kecepatan yang lumayan.


Setengah perjalanan, Alex bingung. Rio tidak mengarahkan mobil ke arah rumahnya ataupun tempat mobilnya berada. Malah tempat biasa mereka nongkrong.


"Eh, Rio. Lu mau ngapain ke sini?" tanya Alex.


Rio hanya terdiam sembari memarkirkan mobil milik Alex di tempat parkir.


"Minum dikit aja," kata Rio seraya melepaskan seat belt.


Alex malah bingung jadinya. Dirinya tak mood untuk minum. Tapi melihat Rio berjalan masuk ke dalam gedung. Membuat Alex khawatir. Alex tak bisa meninggalkan Rio begitu saja dalam keadaan kacau seperti ini. Tak yakin Rio hanya minum sedikit, pikirannya sedang kacau. Pasti akan mabuk berat. Dengan perasaan terpaksa, Alex pun turun dari mobil. Mengikuti Rio yang sudah hilang dari pandangan.


___