Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 69


Ada Mama Rio yang tengah berjalan mondar-mandir. Dan Rio yang tengah duduk di sofa. Melihat kepulangan Ara, Mama berhambur memeluk Ara.


"Ya ampun Nak, kenapa jam segini baru pulang?" Tanya Mama khawatir.


"A, Ara..." Ara bingung harus memberikan jawaban apa.


Mama langsung melepas pelukannya, lalu memutari tubuh Ara.


"Kamu gak kenapa-napa kan?" Tanya Mama.


"Ga..."


"Ya ampun! Ara kenapa lutut kamu di plester luka? kamu kenapa? Sakit gak?" Terkejut Mama ketika melihat plaster luka di lutut Ara.


"Ara..."


"Aduh, masa bohong sih sama orangtua," dalam hati Ara, delima Ara yang tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sang ibu mertua.


Pandangan Rio tadinya fokus ke layar ponsel. Mendengar kata-kata Mamanya mengungkit luka Ara. Ia pun langsung berdiri menghampiri mereka.


Rio berfikir itu kejadian tadi di kampus, dimana Ara menabrak dirinya hingga terjatuh.


"Ya ampun, menantu Mama!"


"Ara gak apa-apa Mah," Ucap Ara.


"Gak apa-apa gimana, sampai luka begini," serobot Rio yang ikut memperhatikan luka di area lutut.


"Serius Rio, aku gak apa-apa. Cuma lecet dikit,"


"Istri ku gak boleh luka apalagi lecet," tegas Rio.


Nih anak kesambet apaan? Ara bingung sendiri, melihat sikap Rio yang sok perduli. Padahal sebelumnya, jika Ara ketabrak truck di depan matanya sekalipun ia pasti cuek. Sekarang drama luka lecet besok pun kering sudah berkata 'aduhai' perhatiannya.


"Telat Rio, kamu itu suaminya, gimana sih jadi suami. Istri pergi kemana bukannya di anter kek, atau kasih mobil biar supir yang antar. Kalau kamu memang gak mau anter Ara. Lihat menantu mama jadi luka begini," Mama marah pada putranya sendiri karena tak menjaga Ara dengan benar.


"Ara nya yang gak mau Mah..." Bohong Rio.


Hah, Ara terkejut Rio berkata demikian.


"....kan Rio udah bilang Ara pergi ke rumah Tasya buat ngerjain tugas, iya kan sayang...."


Ara terdiam, drama apa lagi yang di mainkan oleh Rio. Kenapa harus dirinya yang ikut terlibat. Kenapa gak jujur sama Mamanya saja kalau muak dengan pernikahan ini.


Ara terdiam, tak mersepon apa-apa. Membuat Rio khawatir, takut Mama menaruh curiga. Rio langsung memeluk Ara dari samping dengan erat.


"Dasar lelaki gak guna, masih butuh aku juga kan," maki Ara dalam hati.


Ara tersenyum getir, "Iya Mah, apa yang Rio bilang bener kok Ma."


"Syukurlah, lain kali harus mau di antar Rio. Biar aman di jalan kalau memang harus pulang malam," lega Mama


Ara tersenyum dan mengangguk.


"Aw!..." Rintih Rio.


"Kenapa Rio?" Tanya Mama, tiba-tiba Rio berteriak kesakitan.


Ternyata kaki Rio terinjak oleh sepatu milik Ara. Ara melakukannya sengaja, karena sudah terlanjur gemas oleh kelakuan Rio.


Syukurnya kelakuan Ara tidak di ketahui oleh Mama Fani. Ia buru-buru menarik lagi kakinya, seolah tidak ada apa-apa.


"Aw, ini udah malam Ma, kita mau ke atas. Pasti Ara capek, iya kan sayang," Rio memanggil Ara dengan sebutan sayang seraya menatap mesra ke arah Ara.


"Sayang, uyeng-uyengmu sepuluh" gumam Ara.


"Apa?" Tanya Rio tak mendengar jelas.


"Eh, iya sayang, aku capek banget."


"Dasar pembual besar!" dalam hati Ara.


"Ya udah kalau gitu, kamu bersih-bersih ke atas. Udah makan belum?" Tanya Mama Fani.


"Kita ke atas ya Ma." kompak mereka.


Mama tersenyum melihat mereka berbicara bersamaan. Mimpi apa Mama Rio bisa melihat kekompakan mereka secara langsung begini. Jarang-jarang melihat kejadian seperti ini.


Rio dan Ara langsung saling menatap, lalu melempar senyum kaku.


"Aduh, kalian kok bikin Mama iri aja sih. Udah sana naik ke atas gih." terlihat senang Mama Fani, itu membuat Rio dan Ara saling salah tingkah.


Rio buru menarik lengan Ara, mereka tersenyum kaku kepada Mama Fani yang sedang senang melihat Rio dan Ara semakin dekat saja.


"Anak jaman sekarang, bikin orang tua pengen balik muda aja."


---


"Lepas, udah gak ada Mama ini." Ara melepas tangannya dari genggaman Rio dengan kasar.


Wajah Ara tak bersahabat dengan Rio. Rio paham Ara masih marah, di tambah Ara di bully di kampus karena ulahnya. Rio sudah tahu itu semuanya, Dan merasa bersalah membuat Ara memiliki masalah mungkin sulit untuk di terima dengan mudah.


Untuk itu hatinya tergerak memberikan ruang santai untuk awal yang baik bersama Ara.


"Gak boleh masuk ke kamar itu!"


Hah, gak boleh? Dia ngusir aku, atau ada Angel di dalam?


Ara yang hendak memutar handle pintu pun tak jadi. Bukankah kata Bi Imah Angel sudah Rio usir dari rumah ini.


Jantung Ara terasa sesak sekali, permainan apa lagi yang di buat Rio. Apa dirinya senang melihat Ara menderita. Apa tidak cukup puas melihat Ara susah sekarang.


Ara menarik kembali tangannya, ia tak jadi membuka pintu kamar. Ara menarik nafas dalam, jika di dalam ada Angel. Lalu kamar tamu di pakai oleh Mama fani. Kemudian dirinya tidur di mana. Di luar begitu, maksudnya.


Berputar menghadap Rio, sesaat matanya terpejam guna mengurangi rasa ingin pecah kepalanya. Karena ulah suaminya yang sangat menyebalkan.


"Lalu, AKU MAU TIDUR DI MANA? DI LANTAI SINI, KAMAR MANDI, DAPUR, RUANG MAKAN, RUANG KELUARGA, RUANG TAMU, GUDANG, GARASI, TERAS, HALAMAN, DI PEKARANGAN, DI JALAN! HAH!" Emosi Ara membuncah.


"Sttt! Ra, sttt nanti Mama denger." Peringat Rio kepada Ara.


Tak perduli, rasa kesabaran Ara yang ekstra sudah habis. Ingin rasanya menjambak rambut lelaki yang sekarang berada di depannya kini.


"Bodo amat!" Dalam hati Ara.


Tak... Tak... Tak... (suara high heels)


"Mama...." ucap mereka saling melempar pandang.


---


"Perasaan tadi ada suara Ara di sini?!" Mama Fani mendengar suara Ara begitu keras dari sini. Makanya Mama naik ke atas untuk mencari tahu. Ternyata tidak ada siapa-siapa, mungkin hanya halusinasi.


Mama Fani pun pergi memasuki kamar di sebelah Rio, tepatnya kamar Ara. Sengaja Rio mempersiapkan kamar Ara untuk di tempati oleh Mama nya.


Tidak mungkin kan, di saat ada Mama nya. Membiarkan mereka untuk tidur terpisah. Pastinya Mama akan marah, dan akan menyuruh mereka untuk tinggal saja serumah dengan mereka.


___


Ara bernafas lega bisa menghindar dari Mama.


"Tuh, udah aku kasih tahu juga. Ngeyel!"


"Dasar lelaki nyebelin!!" Ara langsung menyerbu Rio tanpa ampun.


Habis tubuh Rio di pukul oleh Ara menggunakan tas ranselnya.


"Aw.. Aw.. Aw.. Ampun Ra!!" Rio berusaha lolos dari amukan Ara.


"Terlalu jadi suami... nyebelin..." Pekik Ara seolah tak puas memukul Rio.


"Ra, sabar. Kita bicariin baik-baik oke. Aw, Aw,"


"Bodo amat !!"


***