
Sepanjang perjalanan Ara hanya termenung memikirkan sejuta hal yang akhir-akhir ini memberatkan. Terutama apa kata Bunda tadi malam.
_____
"Ara!" panggilnya penuh membara, Bunda berbalik meraih kedua tanganku. Kali ini aku melihat kedua mata Bunda yang basah karena menangis. Hatiku sakit melihatnya.
"Ara, kamu cerai saja sama Rio!" ucap Bunda tegas, sontak membuat aku terperanjat kaget mendengar ucapan Bunda barusan.
"Kenapa Bunda?" tanyaku setelah sekian lama aku membisu, karena memberikan ruang untuk Bunda mencurahkan keluh kesahnya selama ini.
"Kamu nggak bahagiakan? Kamu nggak cinta kan sama Rio? Jujur sama Bunda, kamu ingin cerai? " rentetan pertanyaan Bunda membuat aku terkejut.
"Kamu bisa pisah dengan Rio segera mungkin. Kalau yang itu kamu mau, jadi janda di usia muda nggak masalah Ara. Toh, kamu belum memiliki anak darinya. Bunda rasa nggak masalah. Perjalanan kamu baru saja di mulai, nantinya kamu mendapatkan seorang lelaki yang kamu cintai. Maksud Bunda, saling mencintai satu sama lain." jelas Bunda.
Ara terpaku mendengarnya. Bunda justru mendukung jika Ara pisah dengan Rio. Namun entah mengapa jauh dari hati terdalam sedikit merasa enggan bercerai . Ara bingung di situ, Bunda paham sekali dengan keadaan putrinya yang memang butuh pencerahan tentang hubungan yang di paksakan ini.
"Bu, Bunda gak masalah?!" tanya Ara, takut nantinya akan melukai perasaan Bunda ketika Ara menyandang status janda di usia semuda ini.
Dengan cepat Bunda menggeleng kepala, "Bunda nggak masalah sama sekali."
"Tapi, keluarga Rio?!" tanyaku, membuat Bunda terdiam.
Tak ada yang bisa berkata keluarga Rio buruk terhadap keluarga Ara. Nyatanya mertua Ara sangat menerima kedatangannya selama menjadi menantu baik atau sebaliknya. Apalagi Mamah Fani yang begitu menyayangiku dengan tulus. Ya pasti ada rasa tak tega kalau sampai hati aku meminta cerai tiba-tiba. Di tambah Bunda, ALM Ayah, mamah, dan papah mertuaku dulu hingga sekarang memiliki hubungan erat. Semua itu cukup membuat Ara sakit kepala.
"Katakan saja sejujurnya kalau kalian tidak saling cinta, selesai." jawab Bunda tegas.
_____
Ara menghembuskan nafas panjang ketika sampai di ibukota kembali. Cukup efesien waktu kalau pakai transportasi kereta MRT. Jadinya Ara bisa langsung ke kampus. Ia memang tidak membawa sehelai baju hanya baju yang ia kenakan dan barang bawaan seperlunya sejak pergi ke Bandung.
Karena masih terlalu pagi, dirinya pergi ke kafe terdekat untuk menikmati secangkir kopi dan kue untuk mengganjal perutnya yang masih kosong. Sembari menunggu waktu, dan menikmati sarapan paginya ia menyempatkan diri membuka gawainya yang sudah beberapa hari yang sengaja me-nonaktifkan nya karena ia benar-benar ingin menikmati kebersamaannya dengan keluarga di sana.
Banyak pesan dan panggilan ternyata. Dari Tasya, Gilang, dan juga Rio. Ia gulir ke bawah dan ke atas Ara untuk pura-pura tidak melihat pesan masuk dari Rio. Entah kenapa melihat namanya saja tertera di layar ponselnya membuat dirinya gugup. Ara membuka riwayat panggilan, mata Ara melebar karena tak mengira. Panggilan yang masuk ternyata banyak sekali, dan yang menyita perhatian adalah Rio.
"Astaga, 59 panggilan!!" gumamnya tak percaya.
Karena ia penasaran dengan isi chat sebab Rio menelfonnya berkali-kali. Ia pun akhirnya membukanya. Ada tiga pesan darinya.
[Ara ]
[Kamu dimana?]
[Ara, kamu keterlaluan! Pergi ke Bandung nggak ngajak aku. Nggak ngajak seenggaknya izin sama aku. Aku habis-habisan di marahi Mamah sama Papah gara-gara kamu!]
Itulah isi pesan darinya. Terlihat Rio marah pada Ara. Ia kalau di bilang siapa yang salah, ya Ara yang salah. Karena tidak minta izin padanya, asal pergi saja. Tapi Ara tidak mau ambil pusing. Ia masukan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya.
***
"Kamu kemana aja sih, Ra. Dua hari ini, di hubungin susah banget." kata Tasya membuka obrolan.
Jam kuliah telah selesai. Dan Tasya mengajak dirinya pergi ke restoran cepat saji di dekat kampus. Ara pun menyetujuinya, masih ada waktu setengah jam untuk nanti mulai bekerja di kafe Gilang. Kebetulan perutnya sangat lapar untuk minta diisi makanan berat.
"Hem," Ara belum menjawab karena isi mulutnya penuh dengan hotdog yang ia gigit besar. "Aku pergi ke Bandung, biasa kangen sama keluarga di sana." tambahnya.
"Sengaja hape ku matiin." jawab Ara. "Tapi aku kan ada bilang sama Gilang. Emang Gilang nggak kasih tau kamu?"
"Gilang, jangan harap. Aku udah tanya tapi yang ada malah berantem mulu." kesal Tasya.
"Kalian berantem mulu, entar jodoh lho." kelakar Ara.
"Idih, amit-amit!!" buru-buru mengetuk meja berulang kali sembari bergidik ngeri membayangkan jika itu terjadi dalam hidupnya. "Mending aku jomblo seumur hidup ketimbang nikah sama dia. Ih..."
"Abisnya kalian ngaku sahabat, tapi kalau ketemu bertengkar mulu." ucap Ara.
"Aku aja bingung, apalagi kamu." sahutnya seraya menghela nafas panjang.
***
"Makasih ya, Ra. Udah mau gantiin Intan tadi." ucap Gilang.
"Santai aja Lang, lumayan juga buat aku bisa dapat tambahan dari uang lembur malam ini." Ara memasukan baju seragamnya ke loker. Ara melihat arlojinya yang menunjukan pukul sepuluh, ia pun lekas meraih tas slempangnya.
Kebetulan Intan yang dapat bagian di shift malam tak hadir karena ada halangan. Untungnya tinggal Ara yang baru mau bersiap akan pulang untuk diminta menggantikan pekerjaan Intan. Karena kafe Gilang sangar ramai di malam hari, jadi butuh pekerja yang ekstra. Tapi karena tidak ada Intan, mau tidak mau harus ada yang menggantikannya.
"Kamu mau pulang?" tanya Gilang ketika memperhatikan Ara yang terlihat buru-buru.
"Iyalah, masa aku tidur di sini." jawabnya dengan tawa. Gilang salah tingkah ketika Ara menjawab seperti itu, pertanyaannya memang tidak masuk di akal.
"Em, ya udah. Biar aku anter." tawarnya.
"Nggak usah, lagian tempat tinggal kita beda arah. Entar yang ada kamu nanti pulangnya kemalaman. Aku bisa naik angkutan umum." tolak Ara.
"Jangan nolak dong, anggap aja ini tanda terima kasih aku ke kamu udah mau gantiin Intan tadi." Gilang memaksa.
Ara memberikan kunci kafe ke tangan Gilang. Ara tersenyum dan berlalu pergi ke pinggir jalan, harap ada angkutan lewat di jam seperti ini. Melihat itu, Gilang menghampiri Ara.
"Nolak nih ceritanya?" tanya Gilang, Gilang berdiri sejajar dengan Ara.
"Nggak gitu, lagian tanda terima kasih buat apa. Gara-gara aku gantiin Intan? Itu kan udah pekerjaan Lang. Lagian aku lembur malam ini di gaji sama kamu. Masa sampe berlebihan. Udah kamu pulang aja, aku pulang nunggu angkutan umum aja." jelas Ara.
Ah, kalau dia tidak memikirkan bagaimana nanti ia pulang dan bertemu dengan Rio. Mungkin saja dia masih mau menerima tawaran Gilang. Tapi masalahnya, udah dirinya pergi ke Bandung tidak pamit. Pulang ke Jakarta tidak mengabari.
Di kampus pun Rio kebetulan tidak masuk. Alasannya tidak ada yang tahu. Sekarang ia pulang jam sepuluh malam. Dan kalau Rio tahu dia pulang bersama Gilang. Alamat perang ketiga sudah tercium duluan.
Gini-gini juga Ara masih memikirkan perasaan Rio. Ya walau pergi tak pamit memang kesalahannya. Tapu setidaknya jika pulang tidak dengan Gilang, Ara masih sedikit menghargainya bukan.
"Jam segini, susah tau cari angkutan umum di sini. Ya anggap aja bonus dari aku. Gimana-gimana?" Gilang masih saja memaksa dirinya untuk mengantarnya pulang.
Ara melenguh panjang, menatap Gilang kesal. Pria ini tak menyerah berkali-kali ia menolak. Sungguh pria tangguh pikir Ara. "Oke, aku mau."
Akhirnya, "Nah gitu dong, tunggu sini ya. Aku ambil motor dulu." sumringah Gilang. Ia pun segera mengambil motor di parkiran.
***