
Malam telah larut. Ara masih terjaga terpaksa. Ia setelah makan malam, temannya menelfon begitu lama. Satu jam sudah berlalu dengan Tasya, kini giliran Gilang yang menelfon. Dan Gilang sendiri telah menghabiskan 20 menit.
Ara semalam hanya tidur sekejap. Sekarang kantuknya datang begitu memberatkan kedua matanya. Ingin sekali ia memejamkan mata. Sesekali dirinya memejamkan mata. Suara Gilang akan menyadarkannya berulang kali.
"...."
"Iya, besok aku nggak ke kampus. Mungkin ambil izin untuk beberapa hari kedepan. Bundaku udah bawel minta aku pulang segera."
"...."
Ara baru sadar ternyata Gilang lebih cerewet dari Tasya. Pertanyaan Tasya akan di ulangi oleh Gilang. Dan banyak hal ia ceritakan yang Ara tidak tahu hari ini. Seperti tentang Tasya yang sempat di skors, namun tiba-tiba pihak kampus menariknya kembali.
Lalu Uut yang tiba-tiba pula mendapatkan hukuman yang lebih berat. Di tambah kata Gilang padahal hari ini jika Ara masuk kelas. Uut akan meminta maaf sacara pribadi di depan kelas untuk Ara. Yang mana akan di saksikan oleh semua mahasiswa di kelasnya.
Katanya pula, Uut akan mengatakan hal yang ia lihat hanyalah sebuah bualan buatannya sendiri. Sangat di sayangkan bagi Ara yang kenapa tidak masuk saja hari ini. Dan yang lebih epic-nya satu kampus yang tadinya membicarakannya dengan kejadian kemarin. Kata Gilang pun satu kampus seperti senyap. Seperti tidak ada hal yang terjadi hari kemarin.
Sebuah pertanyaan besar untuk mereka, terutama Ara, Tasya, Gilang yang mempertanyakan siapa orang di balik ini semua jika bukan orang yang berpengaruh besar dan pastinya orang di balik ini semua sangat tahu betul tentang Ara.
"Entahlah siapa orang di balik ini semua. Yang terpenting sekarang kembali normal. Nanti kita bahas lagi, sepulang aku dari kampung."
"...."
"Iya nggak lama-lama, paling seminggu."
"...."
Ara tertawa ketika mendengar Gilang protes. Kenapa baru saja masuk kuliah, dirinya sudah minta izin begitu lama.
"Aku udah lama gak pulang," alasan Ara.
"...."
Tubuh Ara tiba-tiba menegang ketika sebuah pelukan dari belakang. Ara menahan suara ketika hampir menyebut nama seseorang yang sedang memeluknya dengan erat.
Ara menjadi linglung akhirnya. Ia mengabaikan suara di sebrang sana yang terus memanggil namanya karena Ara cukup lama tidak menyahuti namanya berulang kali.
Jantung berpacu cepat dengan sengatan kecil menjalar begitu kulitnya menyentuh kulit dirinya. Bahkan dia pun menyimpan wajahnya di ceruk leher Ara. Tak hanya itu saja, dia pun menghirup dalam-dalam yang sejujurnya itu adalah bagian sensitifnya.
Ara terdiam, matanya terpejam rapat. Membiarkan Rio melakukan hal yang ia ingin lakukan dengan lembut. Tak ayal memang dirinya kini lebih bisa menikmati setiap sentuhan yang Rio berikan. Entah kenapa dirinya mudah terjatuh begitu saja. Padahal dirinya tahu benar, pada akhirnya dirinya akan yang merasa di rugikan.
"Siapa?" Bisiknya dengan lembut.
"Temen," jawab Ara.
Dengan cekatan Rio meraih telfon genggam Ara dari tangannya. Yang Ara pun tidak tahu apakah Gilang sudah menutup panggilan mereka. Rio membuangnya begitu saja di sofa yang memang berada di dekatnya.
Ara belum sempat merespon tindakan Rio barusan. Rio sudah memutar tubuh Ara terlebih dahulu berhadapan dengannya begitu mudah.
Mata Ara membulat, Rio begitu dekat dengannya. Bahkan Rio tidak memberikan Ara ruang gerak. Kedua pergelangan tangannya sudah di kunci oleh genggaman Rio dengan kuat.
"Aku nggak suka kamu dekat dengan begitu banyak lelaki." Kata Rio penuh kata emosional di sana.
Ara bisa melihat tatapan Rio yang tegas ketika bertanya hal tersebut. Kejujuran yang Ara lihat terlihat nyata dari kedua matanya. Jantungnya semakin berdegup kencang, Rio bersikap layaknya orang yang sedang cemburu.
"Itu Gilang, aku sama dia cuma sahabat. Lagian lelaki mana lagi yang deketin aku?!" Tanya balik Ara yang memepertanyakan lelaki mana yang di maksud Rio.
"Sahabat?!" Ucapnya sarkas dengan membuang mata ke arah lain. " Bisa jadi kata sahabat bisa berubah dengan perasaan yang nggak kalian duga." Sambungnya.
Ara memberontak, namun percuma itu akan membuang tenaganya saja. "Aku nggak segila itu, Gilang itu udah tunangan. Aku nggak punya perasaan khusus dengan Gilang. Yang aku tau, Gilang itu baik. Gak sama sekali tentang perasaan." Jelasnya.
Rio terkejut apa yang di bicarakan Ara barusan. Ternyata Gilang sudah tunangan. Ia baru tahu.
"Udah, ngapain di ributin sih. Aku sama dia hubungannya sebatas sahabat nggak lebih. Dia nelfon nanya tentang keadaan aku aja, udah sebatas itu." Jelasnya apa adanya.
Rio menatap tajam ke arah Ara. Seolah dirinya ingin mencari kejujuran dari Ara. Ara justru balik menatapnya tanpa ada rasa takut.
"Lagian apa hak kamu ngelarang aku buat deket sama cowok manapun. Aku aja gak pernah ngelarang kamu jalan sama pacar kamu," ada nada penekanan kata 'pacar' yang sengaja Ara lontarkan guna menyindir Rio terang-terangan. "Bahkan kamu bawa ke rumah aja, aku gak ngelarang. Adil di kamu, gak adil di aku." Sambungnya.
Rio tersenyum menyeringai mendengarnya. Ia bahkan semakin mengeratkan genggamannya mengunci pergelangan tangan Ara yang ia angkat melampaui kepala Ara. Tubuhnya sengaja maju agar mempersempit ruang gerak Ara hingga tubuh Ara terbentur pelan di pintu kaca balkon.
"Apa-apaan sih Rio?" Dalam hatinya mulai resah, namun tetap tangannya memberontak. Tanpa tatapan keduanya tak berpaling sedikitpun.
Ara gelisah ketika dirinya tidak dapat memiliki kesempatan untuk kabur. Apalagi tahu di belakang adalah jalan buntu.
"Kamu cemburu?"
Pertanyaan Rio, sontak membuat kedua mata Ara membulat besar. Ia terkejut ketika Rio bertanya hal itu padanya.
Ya pasti tatapan Ara mendadak berpaling ke arah lain. Ara bingung harus memberikan jawaban apa untuk pertanyaan Rio. Ya jelas dirinya cemburu, hal normal jika memiliki perasaan pada seseorang lalu seseorang itu tengah dekat orang lain.
Rio sendiri tersenyum lebar melihat kebingungan Ara. Tak perlu dari jawaban Ara pun, Rio tahu. Ia hanya ingin bermain-main dengan Ara.
"Kenapa diam?" Tanya Rio.
"Nggak, nggak cemburu." Geleng Ara tapi dirinya tak berani memperlihatkan wajahnya. "Ngapain cemburu sama kamu?!" Kilahnya.
Rio menarik dagu Ara hingga tatapan mereka bertemu. Persekian detik tatapan mereka bertemu hingga menimbulkan detakan jantung yang berdebar kencang di antara mereka. Ara terlebih dahulu sadar, ia memalingkan wajahnya. Rio pasti tahu kini kedua pipinya tengah merona.
Namun dengan sigap Rio menarik kembali dagu Ara hingga kembali menatap matanya. Ara malu, ia memilih memejamkan matanya ketimbang menahan gengsi sedangkan pipinya sendiri memerah.
Ara tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Ia hanya bisa menerka dari gelap matanya. Ia membayangkan Rio tengah menatapnya intens. Ia rasakan hembusan hangat nafas Rio menerpa kulit pipinya. Berulang kali hembusan nafasanya mengenai kulitnya, berulang kali Ara menelan salivanya.
Aroma tubuh Rio kian nyata. Jantungnya tak kalah berdetak kencang hingga sulit bernafas. Ingin sekali Ara terlepas dari genggaman Rio, tapi dirinya terlanjur lemas. Entah mengapa dirinya saja bingung. Ingin pula berkata untuk dilepaskan, namun dirinya hanya bisa membisu terpaku tak tahu harus berbuat apa.
Tubuh Ara seperti tersengat aliran listrik kecil menjalar ke setiap aliran darahnya. Kakinya hingga berjingkat ke atas ketika merasakan sebuah kecupan mendarat di ceruk lehernya. Matanya bahkan semakin terpejam, jantungnya seperti lari marathon.
Bukan sekali namun berulang kali bibir hangat Rio menjelajahi setiap jengkal leher jenjang Ara. Kadang mengecup lembut, kadang di hisapnya, kadang di sapu oleh lidahnya, kadang di gigit kecil. Itu yang Ara rasakan. Tak menampik dirinya terbuai setiap sentuhan Rio.
Bahkan genggaman tangan Rio sudah terlepas dari pergelangan tangannya pun. Ara tetap berdiam diri seolah dirinya tak mampu untuk bebuat lebih.
Kedua tangan Rio terasa menangkup kedua pipi Ara. Ia rasakan hembusan nafas kasar dari Rio setelahnya ia melahap lembut bibir ranum Ara. Ara terhenyak, ia membuka mata lebar. Ia merasakan lembutnya perlakuan Rio. Sampai hatinya menghangat.
Ara kembali memejamkan matanya kembali. Tangannya sendiri tak sadar mengalungkannya pada leher Rio. Kakinya lebih berjingkat tinggi agar menyamai tingginya Rio.
Rio meraih pinggang Ara agar tubuh mereka saling dekat. Ara pun tak menolak.
Sebuah kejutan buat Rio. Ara membalasnya terang-terangan kali ini. Walau masih terasa amatir balasan Ara. Tapi ia bahagia. Mereka saling berbalas panggutan. Hingga mereka saling menikmati apa yang sedang terjadi.
Mungkin bisa di bilang ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka. Atau juga bisa awalan yang tertunda untuk mereka. Karena mereka sendiri tidak tahu ada hal apa yang akan terjadi keesokkan harinya.
***