Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 50


"Bi, Rio kok belum keluar sih? " Angel gelisah sedari tadi menoleh ke belakang melihat daun pintu kamar Ara. Rio sudah 60 menit di dalam sana tapi tidak ada tanda-tanda ia keluar atau setidaknya Ara yang keluar.


Bi Imah hanya menggendikan bahunya. Kalau saja tuannya tidak menyuruh Bi Imah untuk tutup mulut tentang statusnya. Mulutnya pasti sudah mengatakan hal-hal membuat wanita di depannya kepanasan. Tapi Bi Imah bisa apa. Hanya mengumpat beribu kata di hatinya untuk wanita di depannya kini.


"Apa sih yang mereka lakukan di dalam? " Penasaran Angel serta ia tak sabar menanti Rio. Angel beranjak dari duduknya dan menghampiri pintu kamar Ara. Bi Imah membulat matanya. Secepat mungkin mendekati Angel yang sudah tepar di depan pintu kamar Ara.


Angel hembuskan nafas kasar, ia putar knop pintu kamar Ara.


"Eh! Non !" Cegah Bi Imah.


Angel tersentak knop pintu terkunci dari dalam. "Loh! Kok di kunci sih? "


Bi Imah bisa menghela nafas lega. Tuannya memang selalu bikin orang jantungan dini. Kalau memang mau bermesraan kenapa harus bawa wanita ini ke rumah.


"Mungkin-"


"Rio, Rio, Ara!" Sela Angel.


"Aduh Non !" Bi Imah mencoba menjauhkan tubuh Angel dari pintu kamar Ara terutama tangannya yang masih menggedor pintu kamar Ara.


"Bi, kenapa sih? Aku cuma mau tahu mereka kenapa belum keluar." Angel berusaha mendekati pintu, "Rio !" Teriak Angel namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.


"Aduh Non, makanya dengerin Bibi dulu." Bi Imah menjauhi Angel sampai di tempat meja makan. Terlihat Angel kesal Rio tak kunjung menjawab panggilannya.


"Neng Ara memang suka susah di bangunin Non. Ya wajar aja Tuan lama di dalam. Neng Ara sepupu kesayangan Tuan. Mohon di maklumi ya." Jelas Bi Imah lembut.


"Tapi kenapa pintu pake di kunci segala, emang perlu? "


***


Ara tidur seperti koala, begitu lelap. Cuacanya memang mendukung sekali untuk tidur. Di tambah jadwal kosong. Hari ini tidur terpanjangnya. Tubuhnya mengulet, mengeram suara panjangnya. Ara membuka mata perlahan.


"Kok masih gelap?" Pikir Ara yang melihat seluruh ruang kamarnya gelap.


"Aku tidur berapa lama? "Ara baru mengingat kalau hari ini dia memilih tidur kembali setelah ia bangun pagi tadi. Alhasil ia tidur lama sekali. Ara lirik jam weker di atas nakas.


"Ya ampun jam 2! " mata Ara melotot seketika jarum panjang menujuk ke arah jam dua lewat lima menit. Ia raih jam weker tersebut, matanya mengerjab berulang kali memastikan dirinya tak salah lihat.


"Dua siang apa dua malam?" Ara melihat jendela kamarnya, ia bernafas lega karena ventilasi masih memberikan sedikit cahaya di sana.


"Gila aja aku tidur sampai jam dua malam." Bhatinnya.


Niatan mau kembali tidur dengan posisi memiringkan tubuhnya ke arah kiri. Ara kembali mengerjab matanya melihat sosok di depan matanya kini. Apa dia masih tertidur sehingga memimpikan suaminya yang tengah tidur bersamanya. Mungkin iya, tapi kenapa terasa nyata. Ara kembali memejamkan matanya berharap memang dirinya tengah bermimpi. Saat kembali membuka mata ia keheranan masih melihat Rio di depan matanya. Ara masih berfikir ini mimpi.


Mana mungkin Rio tidur dengannya. Ada Angel di rumah ini. Ya kemungkinan memang dirinya tengah bermimpi. Ara meyakinkan fikirannya dan menolak kenyataan. Ara benar-benar memejamkan matanya kembali lagi dan berharap ini hanya mimpi.


Saat memejamkan matanya dengkuran nafas halus dari Rio semakin nyata terdengar di telinganya. Di saat hatinya menolak keras bahwa ini memang nyata. Jantungnya sedang berdegup kencang.


"Sial ! Ini memang nyata. Kenapa dia masih ganggu aku terus sih? " Kesal Ara.


Ara langsung berbalik badan membelakangi Rio. Matanya langsung membuka dengan umpatan pedas meracau di dalam hatinya. Ia sedang mengutuk Rio. Rio memang lelaki tidak normal. Dalam kurung normal dalam hubungan.


Bisa-bisanya ia memainkan dua perasaan wanita sekaligus. Parahnya Ara yang menjadi istri sahnya harus menutupi statusnya di muka publik. Ini memang tidak adil.


Ara tersentak, tangan besar Rio tengah melingkar ke pinggangnya dan menarik masuk dalam dekapan Rio dengan kuat. Ara merasakan nafas Rio menerpa rambutnya.


"Dasar ambil kesempatan dalam kesempitan!" Umpat Ara dalam hati dengan tangannya berusaha menepis tangan Rio dari pinggangnya.


Ara rasa pelukan Rio semakin kuat tatkala Ara mencoba terus berusaha melepaskannya.


"Rio! "Sentak Ara, Ara tahu Rio sudah bangun dia sengaja melakukan ini semua.


"Hm." Balas Rio,


"Lepas! " Pinta Ara.


"Gak." Tolak Rio


"Kamu ..." Geram Ara.


"Gak usah bikin ulah, kalau Angel tahu baru tahu rasa. Yang menderita nantinya aku, aku gak mau kena getah akibat ulah kamu sendiri." Peringat Ara kepada Rio. Ara menyebut nama Angel langsung Rio melemahkan.


"Bisa gak, gak usah bahas Angel kalau kita berdua !" Tegas Rio.


***