Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 67


Maaf telat😌


Sinyal tidak mendukung. Apalah daya hidup di pelosok, sehabis hujan, sinyal pun kebawa hilang😔😔😳. Sungguh!


»»»ʰᵃᵖᵖʸʳᵉᵃᵈⁱⁿᵍ!


"Ra... Ara..." Rio mengejar Ara yang berlari menuju gerbang kampus.


Rio sedikit maju mundur, perasaanya selalu bertolak belakang dengan keadaan. Ia ingin mengejar Ara namun pandangan mata di sekitar menyorot tajam ke arah mereka. Seolah mereka semua adalah paparazzi yang harus Rio hindari untuk melenyapkan kabar kedekatan mereka.


Tapi ia lebih menepis rasanya dengan keadaan. Perasaanya mengatakan tidak baik ketika melihat Ara begitu sedih.


Ara terus berlari, ia muak dengan statusnya yang membuat hidupnya selalu di bawah tekanan dan penderitaan yang tak ada habisnya. Ia muak dengan kehidupan ini.


Tak perduli dengan Rio yang terus memanggil namanya di depan umum.


"Kenapa harus ngejar sih, gak puas apa udah bikin aku malu," bathin Ara kesal dengan Rio yang mengejarnya hingga ke gerbang kampus.


"Ara, tunggu gue!" Rio terus memanggil nama Ara, ia tak perduli orang sekitar memandang aneh ke arahnya.


Sesampainya di gerbang, Ara berusaha mencari kendaraan. Ia harus segera menghindar dari Rio. Ia sudah terlanjur malu, namanya sudah di cap wanita penggoda. Berulang kali dirinya melihat ke arah belakang untuk melihat sejauh mana Rio mengejar dirinya.


"Ara kenapa?" Dari kejauhan Derry melihat Ara di depan gerbang kampus dengan raut wajah kusut sekaligus panik tolah kanan toleh kiri.


Bergegas Derry memakai helm dan langsung menaiki motornya lalu menyalakan mesin motor.


"Derry," lirih Ara.


Ya ampun kebetulan atau apa kenapa ada Derry di saat seperti ini. Cepat Ara melambaikan tangan tanda dirinya membutuhkan Derry sekarang. Motor Derry pun mendekati Ara.


"Kenapa Ra?" Tanya Derry yang ikut panik melihat Ara panik.


"Helm, sini helm, bawa aku pergi sekarang!" Pinta Ara.


Derry pun memberikan helm untuk Ara, lalu Ara memakai helm dan langaung menaiki motor Derry.


"Cepet pergi!" Perintah Ara.


"Oke, tapi kamu ada hutang buat ceritain ada masalah apa."


"Iya, nanti aku ceritain, sekarang bawa aku pergi," ujar Ara, Ara melihat Rio hampir mendekat.


Tetapi melihat Ara telah bersama Derry, Rio memutuskan untuk berhenti mengejar. Percuma !


Ia hanya bisa melihat pasrah ketika Derry membawa laju motor bersama Ara. Rio tertunduk lesu, dia harus cari tahu ada masalah apa. Jika Ara marah karena kejadian di kelas tadi, kenapa nangisnya baru sekarang. Membuat Rio semakin penasaran.


Setidaknya Ara pergi dengan Derry, pastilah aman.


---


"Mau kemana?" Tanya Derry.


"Antar pulang ke rumah," jawab Ara.


"Ok!"


Sesampainya di depan pagar rumah Rio dan Ara. Motor Derry berhenti tepat di depan pagar. Ara pun langsung turun.


"Lo gak pa-pa Ra?" Tanya Derry.


"Gak pa-pa," jawab Ara.


"Bohong!"


"Enggak!" Tegas Ara.


"Noh, liat hidung lo memanjang."


Ara reflek langsung bercermin di kaca spion motor Derry. Memperhatikan hidungnya, apa iya memanjang?


"Aw, sakit Ra," rintih Derry seraya mengusap lengan yang terasa panas akibat pukulan Ara.


"Hidung bagus gini di bilang memanjang, emang pinokio kalau bohong hidung ku memanjang," Ara mencebik.


"Ya emang bohong kan."


"Kamu tuh yang bohong," serang balik Ara lebih tepatnya mencoba mengalihkan pembicaraan mereka yang terlalu menyudutkan Ara.


Ara tak ingin jika Derry tahu kemudian akan bilang ke mertuanya perihal dirinya yang tak pernah bersatu jangankan bersatu untuk hidup damai saja mereka akan sukar bersama. Tak ingin pula jika terdengar ke telinga sang bunda, Ara tak ingin menambah beban Bundanya lagi.


Biar rasa sakit ini ia pikul sendiri, jika sudah waktunya pastilah akan terbongkar. Untuk sekarang ia akan menahan berapa beratnya beban yang pikul seorang diri.


"Lho kok jadi gue sih."


"Liat, jari telunjuk sama jari tengah lebih panjanh jari tengah. Itu tandanya kamu bohong," tuduh Ara bangga.


Derry langsung melihat lima jari tangannya, terutama jari telunjuk dan jari tengah. Ia bandingkan keduanya, semabri menimang-nimang.


"Ih, emang panjanganan jari tengah kali," ucap Derry.


Ara pun tertawa, lagian kenapa juga baru sadar.


"Nih jam berapa Derry, emang udah wayahnya pulang sekolah. Pasti kamu bolos kan," sudut Ara seraya menujukan arlojinya yang menunjukan pukul 11 lewat.


Baru jam segini kenapa Derry berkeliaran di area kampus Ara. Sekolahnya Derry dan Kampus Ara cukuplah berjauhan. Di tambah Derry masih mengenakan pakaian lengkap baju seragamnya.


Bola mata Derry berputar, ia menggaruk tekuknya yang tak gatal dengan wajah menengadah ke langit tak ingin mimik wajahnya terbaca oleh kakak iparnya.


"Tuh, kamu kan yang bohong."


"Iya gue bolos juga karena lu juga Ra," tak ingin di sudutkan kembali ia pun melimpahkan kesalahan ketidakmasuknya Derry ke sekolah akibat Ara.


"Lho kok aku lagi sih," kaget Ara.


"Iya kalau gak tidur lo kayak kukang bagong, gue gak bakal telat masuk sekolah."


Ah, iya Ara baru ingat, tadi pagi memanglah dirinya bangun kesiangan. Yang jadi getahnya adalah Derry, ia lupa jam sekolab Derry tidaklah seperti jam masuk kampus Ara. Dan sekarang ia lupa siapa penyeban utamanya adalah dirinya sendiri.


Ara tebal muka, ia merasa bersalah tapi dirinya tak ingin di sebut kukang bagong.


"Iya aku akui salah, tapi aku gak suka di katai kukang bagong. Emang badan ku bagong apa? Kalau gak ikhlas jemput ya gak usah sok ngambek gara-gara aku batalin janji. Eh giliran sekarang malah ngatain."


Derry menatap takut, bagaimana bisa kakak iparnya semenakutkan itu. Ini kali pertamanya Derry melihat Ara begitu marah dan kesal. Entah mengapa emosinya mudah naik turun hari ini. Padahal Ara tak mudah marah jika di ajak bercanda. Derry terdiam, terpaku menatap kakak ipar berceloteh kesal layaknya wanita ngambek dengan pasangannya.


"Hem," setelah meluapkan kekesalannya, Ara berbalik badan hendak memasuki rumah.


"Hey," sapa Derry lembut.


Ara menarik nafas panjang, tangannya memegang erat besi pagar. Persekian detik, Ara berbalik kembali mengarah ke Derry dengan raut wajah kesal.


"Apa!" Ketus Ara.


Derry tersenyum lebar, tangannya menujuk ke arah Ara seraya sulitnya menelan air liurnya.


"Apa?!" Tak sabar dengan sikap Derry begitu lamban, tidak langsung pada intinya.


Derry tersentak.


Merasa lama, Ara dengan raut wajah kesal ia pun berbalik badan kembali dengan rasa kesal, marah, sedih bercampur jadi satu. Ia cepat-cepat mendorong ke samping pagar rumahnya. Ia tak menghiraukan si Derry yang belum menyampaikan maksudnya memanggil Ara tadi.


---


***


Masih ada kelanjutannya, aku bagi jadi dua. Tapi belum rampung, nulis maraton soalnya. Jadi sabar dulu ya😊.


Kasih suntikan semangat ya, dengan like, comment, klik hatinya juga biar gak ketinggalan update an dari aku