
"Duh gak bisa tidur" Risau Ara yang sedari tadi gelisah ingin memejamkan matanya. Ara pun berusaha memikirkan sesuatu hal apa yang ia ingin lakukan. Karena ia tak ingin membuang waktunya percuma. Ia melangkah mencari sesuatu di lemari nya.
"Aha !!" Ara melihat tas kecil berwarna ungu ia ingat tas ini pemberian dari Bunda nya. Ia ambil dan membukanya di atas ranjang. Perlahan ia buka resletingnya. Dan terlihat beberapa gulungan benang nilon warna warni, dan beberapa alat merajut.
"Aku bikin sesuatu aja lah" Senyum Ara manis , ia melangkah pergi ke balkon dan duduk di sana untuk memulai rajutannya. Tapi karena semakin larut malam, cantiknya kini menyerangnya. Dengan mata terpejam namun tangannya masih merajut perlahan. Dan tak sengaja sukunya menyenggol tas kecil berwarna ungu hingga terjatuh dan isinya bertebaran berantakan. Dan membuat Ara terkejut dari awal tidurnya.
"Aduh pake jatuh lagi" Ara pun membereskan bola-bola benang nilon yang berjatuhan.
"Ya ampun kenapa jatuhnya sampe kesitu ?" Bingung Ara yang melihat ke arah bawah seberang balkon milik Rio. Dua benang Ara lari hingga ke balkon Rio.
"Gimana aku ambilnya ya ?" Ara berdiri dan berfikir untuk mengambilnya.
"Jam berapa ya ?" Ara kembali masuk ke dalam kamarnya untuk melihat jam dinding miliknya yang menunjukan pukul sepuluh lima belas menit malam.
"Seharusnya sudah pulang, tapi sebaiknya aku cek dulu deh" Ucap Ara yang langsung pergi ke bawah dan menghampiri Bi Imah yang sedang nyuci piring di dapur.
"Bi.." panggil Ara
"Iya Non . Ada apa Non ?" Tanya Bi Imah
"Rio udah pulang ?" Tanyanya
"Belum Non, belum ada pulang." Jawab Bi Imah.
"Oh !"
"Emang ada apa ?"
"Gak ada. Cuma tanya, ya udah Ara ke atas" Ara pergi ke atas.
"Rio belum pulang ? Hm ? Kemana lagi coba kalau gak senang-Senang dengan perempuan kemarin" kesal Ara tiba-tiba datang ketika mengingat kejadian lusa.
"Biarkan lah, Ara gak mau ngurusin dan mikirin mereka. Emang mereka mikirin Ara di sini ? Udah akh Ara mending ambil benang nilonnya sebelum Rio pulang." Ara membuka knock pintu dan benar ternyata kamar Rio tidak di kunci. Ara masuk mengendap-mengendap perlahan. Ia melihat seisi ruangan kamar Rio sejenak. Matanya ia edarkan dan meneliti setiap detailnya.
"Tapi kan Ara cuma pegang baju-baju Rio, atau jangan-jangan ?" Ara berfikiran jika baju-baju Rio yang ia sentuh. Rio buang atau bakar seisi lemari.
Cepat-cepat Ara menuju lemari Rio. Dan membukanya dengan kasar.
"Masih utuh ?" Ara melihat jejeran baju-baju Rio yang tertata rapi seperti sebelumnya.
"Bodoh juga, mana ada orang segitunya. Ya gak mungkin Rio bakar atau buang baju-baju miliknya." Fikir Ara dan kembali menutup pintu lemari nya.
"Ya ampun sampai lupa benang nilon" Ucap Ara yang baru sadar tujuannya masuk ke kamar Rio untuk mengambil benang nilon miliknya di balkon. Ia cepat-cepat membuka pintu kaca balkon Rio.
"Nah ini dia" Lirih Ara yang melihat benang nilonnya.
Ara mengambilnya dan langsung masuk kembali ke dalam. Ia tutup kembali pintu kaca balkon dan merapikan gordennya seperti sedia kala. Namun terdengar suara gagang pintu.
Cklek!!
Rio pulang dan masuk kedalam kamarnya. Ia lempar tas kerjanya, dan mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Ara menghembuskan nafas lega karena ia tak ketahuan oleh lelaki es batu. Ia bersembunyi di balik tirai gorden pintu kaca balkon. Ia pun keluar dari persembunyiannya dan mengendap-kehendak keluar. Tapi,
"Akhh" teriak kecilnya Ara namun langsung dengan cepat ia bungkam mulutnya sendiri.
"Aduh mati lamplampu lagi" Buatin Ara yang melihat seisi kamar gelap gulita.
Keberadaan Ara kini dia antara pintu kamar mandi dan ranjang milik Rio. Ara tak tahu harus berjalan ke arah mana. Karena benar-benar gelap sekali. Tapi ia berusaha mencari jalan keluar sebelum Rio tahu akan keberadaan Ara sekarang.
Ara berjalan tak tentu Arah
Dug!!
Dahi Ara terbentur sesuatu ia jalan mundur karena merasa ada sesuatu yang mendekatinya sekarang. Tetap berjalan mundur hingga terjatuh di ranjang milik Rio. Ara merasakan tubuhnya tertindih sesuatu yang besar. Merasakan nafas bertiup di area wajahnya.