
Sesampainya di rumah Mama Fani. Mama Fani membawa masuk Ara di ikuti Derry.
Rio pun baru sampai, ia keluar dari mobil lalu berjalan menuju bagasi mobil untuk mengambil koper milik Ara.
"Nanti kamu tidur di kamar Rio ya," ucap Mama Fani di balas anggukan oleh Ara.
Rio mengikuti langkah sang mamanya dan istrinya menuju lantai dua dengan membawa koper.
Mama Fani membuka pintu kamar Rio. Mengajak sang menantu untuk masuk ke dalam.
Baru langkah kaki pertama Rio hendak masuk sudah di teriaki oleh Mama Fani.
"Eh... keluar, keluar!" usir sang mama.
"Loh kenapa Ma?" bingung Rio.
"Udah, udah sana pulang kamu. Gak usah lama-lama di sini."
"Rio anak mama sendiri, ini juga kamar Rio. Masa sama anak sendiri, Rio di usir."
"Udah sana pergi! Kamu di sini nanti bikin menanti Mama jadi gak nyaman. Tinggalin aja kopernya di situ!"
Mama Fani menarik koper Ara masuk lalu hendak menutup pintu dengan cepat. Tak peduli rengekan sang anak di luar.
"Ma, Ara gak papa kok kalau Rio masuk," ujar Ara serasa tak nyaman membuat anak dan mama sendiri berantem karena dirinya.
"Shh... Mama itu ngasih pelajaran buat Rio. Didik Rio biar kejadian kemarin gak terulang lagi. Biar dia berjuang mati-matian bawa kamu pulang. Nantinya dia paham apa yang di dapatkan dengan berjuang susah payah gak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Tapi, kesannya Ara jahat bikin Mama sama Rio jadi berantem."
"Enggaklah, ini udah jadi tugas Mama. Mama kalau di posisi kamu juga bakal ngelakuin hal yang sama kok. Udah ya gak usah terlalu di pikirin, apa yang Mama lakuin ini demi dia juga kok.
Gak usah khawatir sama Rio. Biar Rio tidur di rumahnya. Untuk sementara Ara tidur di sini ya. Mama tinggal ya, kamu istirahat." ucap Mama Fani lalu meninggalkan sang menantu.
Sepeninggalan Mama Fani. Ara tutup pintu. Kedua bola matanya mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar Rio.
Aroma Rio begitu lekat seantero ruang kamarnya. Bersih dan tertata rapih. Ara ingat kamar ini penuh memori akan dirinya dan Rio sewaktu awal pernikahan.
Begitu banyak kesulitan yang Ara hadapi sendiri berharap Rio bisa luluh dan belajar mencintainya. Memang betul cinta sepihak terkadang menyakitkan. Karena terlalu berharap pada seseorang yang aslinya tak mengharapkan dirinya adalah sebuah kesakitan yang berkepanjangan.
Seandainya semudah itu menerima Rio kembali. Akan tetapi sakit yang Rio toreh sangat sulit Ara menerima dengan mudahnya.
Ara harap apa yang mama mertua ucapkan Rio memperjuangkan dirinya agar Ara bisa mempercayainya kembali.
___
Setelah keluar dari kamar yang Ara akan tinggali Mama Fani menuruni anak tangga. Mama Fani melihat Rio masih di sini. Berjalan mondar-mandir dengan mimik wajah gelisah. Sudah ketebak pasti ingin memohon.
"Rio, sudah Mama suruh kamu pulang. Kenapa masih di sini?" Mama Fani melewati sang anak menuju dapur.
"Mama, Mama gimana sih? Bukannya udah janji sama Rio buat bantu Rio, kenapa sekarang Mama malah kesannya jauhin Rio dari Ara. Gimana Rio bisa memperbaiki hubungan Rio kalau gini," protes Rio sembari mengikuti sang Mama ke dapur.
"Iya Mama janji, tapi kamu lupa. Yang Mama janjikan buat Ara ketemu bukan balik sama kamu. Itu terserah Ara mau lagi atau enggak sama kamu. Itu juga tergantung gimana kamu berusaha dapetin Ara lagi."
"Ya kalau gitu, izinin Rio tinggal di sini. Gimana Rio mau berjuang dapetin Ara. Kalau aksesnya Mama tutup-tutupi," ujar Rio dengan memelas berharap Mamanya menyetujuinya.
"Rio, bukan Mama gak mau bantu kamu. Mama gak mau ikut campur terlalu jauh hubungan kamu sama Ara. Lagian kalau udah begini kamu kelabakan, dulu kemana aja. Jelas Ara tuh butuh waktu, butuh ruang Rio, apa yang kamu perbuat udah bikin anak orang trauma. Ini kalau ada Papa kamu, habis kamu di hajar." Mama Fani pergi meninggalkan Rio.
Rio terdiam, merenungkan setiap kata demi kata ucapan mamanya. Iya tidak mungkin dirinya memaksakan kehendaknya selepas apa yang sudah di perbuatnya.
___
Pagi hari yang menyisakan hawa dingin selepas semalaman hujan lebat. Aroma khas jejak si hujan begitu menenangkan untuk di hirup.
Ara menikmati dinginnya pagi di teras balkon sembari menatap langit yang hendak terang.
Jam menunjukan waktu pukul lima lewat tiga puluh dua menit. Ara menyudahi berdiam diri. Ara akan memulai rutinitas sehari-hari. Hal yang pertama dirinya akan membuat sarapan.
Ini kedua kalinya Ara melihat Mbak Erna setelah beberapa Minggu yang lalu datang memenuhi undangan dari mama mertuanya.
Mbak Erna masih sangat muda. Tiga tahun lebih tua dari Ara. Cantik, tubuhnya yang berisi, berkulit sawo matang. Sengaja mengambil asisten rumah tangga yang lebih muda agar gesit melakukan pekerjaan rumah. Memang Ara akui, Mbak Erna sangat lincah, masakannya pun terbilang enak.
"Pagi Mbak," sapa Ara mendekati Mbak Erna yang sedang menyibukkan diri mempersiapkan bahan masakan.
Selain cantik, pintar masak, dan lincah dalam pekerjaan rumah. Pakaian yang di kenakan Mbak Erna super ketat dan mini. Bahkan Ara sendiri yang sebagai perempuan merasa kalah saing sebab ukuran payu dara milik Mbak Erna lebih besar. Pakaian kaos v-neck yang dikenakan pun seperti membuat payu dara milik Mbak Erna terasa sesak.
"Eh, Non Ara pagi juga," sapa balik Mbak Erna tanpa menatap Ara.
Entah mengapa perasaan Ara mengatakan hal yang tidak seharusnya. Kenapa Mbak Erna terlihat enggan melihat wajah Ara. Segera Ara usir pikiran tak baik di kepalanya.
"Mbak mau masak apa hari ini, biar Ara bantu," tawar Ara yang ikut mencuci sayur kakung di wastafel.
"Gak usah Non, ini pekerjaan saya. Biar saya aja," ujar Mbak Erna yang sangat kasar mengambil alih baskom berisi kangkung yang hendak Ara cuci.
Ara sontak mengambil langkah mundur. Padahal Mbak Erna sedang sibuk mengupas kulit udang.
"Ya udah Ara kupas bawang aja ya Mbak." Ara mendekati perbumbuan di atas meja.
Mbak Erna yang mendengar hal itu, langsung buru-buru berpindah ke meja yang ingin Ara dekati.
"Aduh Non, saya ini lagi kerja. Nanti kalau Non Ara ke sini pegang semua ini, nanti saya yang di marahin sama majikan. Mending Non Ara balik tidur atau apa. Tolong jangan ganggu saya Non," ucap Mbak Erna jutek.
"Saya cuma mau bantu, biasanya saya juga bantu-bantu. Mama gak bakal marah kok." Ara mencoba meyakini Mbak Erna.
"Non saya ini baru kerja, kalau ada yang salah terus saya di salahkan gimana?"
"Saya yang tanggung jawab," tegas Ara.
Mbak Erna ini kesannya tidak suka Ara datang. Nada bicara sangat tidak ramah. Ara heran mengapa Mbak Erna seperti itu, atau cuma hanya di pikirannya aja.
"Saya bilang gak usah ya gak usah!" nyolot Mbak Erna seakan lupa siapa yang di ajak bicaranya.
Ara tentu kaget dengan sikap Mbak Erna terang-terangan berkata tak ramah. Sabar Ara yang sudah di atur demikian, terpancing juga.
"Kok Mbak bentak saya sih? Saya kan cuma mau bantu bukan mau acak-acak."
Mbak Erna langsung mematung. Tatapannya bingung, seolah baru menyadari sikapnya pada Ara.
"Ada apa sih pagi-pagi ribut?" tanya Derry yang baru saja bangun masih dengan muka bantal.
"Ini Tuan, Non Ara sudah saya bilang gak usah bantu saya. Tapi Non Ara kekeuh mau bantu, padahal maksud saya biar Non Ara gak capek terus inikan perkejaan saya." Mbak Erna secepat itu menjawab pertanyaan dari Derry.
Ara yang sudah paham sifat Mbak Erna manipulatif. Ara pun milih mengalah, daripada urusannya panjang.
Derry berjalan ke arah kulkas sembari berkata, "Bener kata Mbak Erna, Ra. Ini kan udah pekerjaan dia, udah mending tidur lagi aja sana."
"Iya Mbak, saya gak nyentuh apapun. Tapi lain kali gak usah pake nada bentak gitu, saya gak budeg," jawab Ara ketus lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Ara memilih jalan keluar menuju teras samping rumah dimana ada taman yang Ara buat dulu. Ternyata Mama Fani masih mau merawat tanaman yang Ara tanam. Kini lebih tertata rapih dan sangat subur.
Jemari Ara mengambil selang untuk menyirami tanaman aneka bunga warna warni. Padahal usai hujan semalaman, tapi Ara bingung saja hendak mau mengerjakan apa. Rumah Mama Fani ini sudah ada asisten-asisten lainnya selain Mbak Erna dengan tugas masing-masing.
Ingat kejadian tadi membuat hati Ara kesal. Tak sadar mulutnya yang mengomel sendiri. Meluapkan rasa kesalnya.
"Pagi-pagi udah kesel, kesel sama siap...."
Ara seketika kaget karena ada yang tiba-tiba bicara di belakangnya. Tanpa sengaja ketika berbalik ke arah belakang ke sumber suara. Selang yang ia pegang pun ikut memutar lalu tak senagaja menyemprotkan air ke arah Rio.
"Astaga! Rio, sorry, sorry. Aku gak sengaja!"
Buru-buru Ara mematikan air yang menyembur ke arah tubuh Rio. Lalu mendekati Rio yang kini tengah sudah basah kuyup.
----