Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 104


Mobil yang di kendarai Derry akhirnya sampai di pelataran rumah mewah nan megah milik keluarga Rio.


Entah kenapa perasaannya semakin gugup dan jantung terus saja berdebar. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Ara melirik ke arah Derry yang mulai melepaskan sabuk pengaman untuk bersiap keluar.


Bukannya Ara juga harus bersiap turun. Namun kakinya urung turun. Ia malah ragu, dan jemarinya sedari tadi ia tautkan hingga jari-jarinya terlihat memerah. Ia masih diam, entah bagaimana situasinya nanti. Beribu pikiran yang tidak-tidak bersarang di kepalanya. Itu semua membuatnya menjadi takut sendiri.


"Ayo, turun," ajak Derry yang sudah membukakan pintu mobil untuk Ara.


"Eh, iya."


Ara pun langsung turun dari mobil. Berulang kali ia menghela nafas lalu membuangnya dengan kasar. Walaupun gugup dan perasaannya campur aduk, ia harus siap berhadapan langsung. Ara bertekad menyelesaikan semuanya dengan baik-baik.


Baru dengan pedenya Ara berjalan mendahului Derry dengan rasa semangat yang membara tapi lupa Ara tengah mengenakan sepatu higheels alhasil ia hampir jatuh.


"Ra, gak papa?" Derry cepat tanggap menahan tubuh Ara agar tak jatuh.


"Iya gapapa," geleng Ara dan langsung berdiri berusaha mengimbangi tubuhnya.


Ara menahan malu. Sok-sokan memakai hak tinggi yang memang dia sendiri tak terbiasa.


"Kamu belum biasa pake sepatu higheels kenapa maksa pake sih?" tandas Derry.


Ara hanya terdiam saja. Memang menyadari bahwa dirinya terlalu memaksakan diri mengenakan sepatu hak tinggi yang memang tak pernah ia kenakan selama ia hidup.


"Ya udah, sini aku bantu jalan. Entar kalau jatuh di depan Abang Rio, malunya Ampe ketulang," kelakarnya seraya menawarkan lengannya untuk di genggam oleh Ara.


Ara menepuk bahu Derry, "Apa-apaan sih!" pipinya merona akibat di ejek oleh adik iparnya sendiri. Tapi, ada benarnya juga kata Derry. Akhirnya Ara mengapit lengannya ke lengan Derry.


___


"Senyum dong, masa cemberut gitu," paksa Mamah Fani kepada Rio yang masih saja memasang wajah lesu dan enggan untuk mengikuti kemauan mamahnya. Pasalnya dia menolak, senjata mama akan mengancam tentang menolak bicara dengan Ara.


Rio dan Mamahnya menuruni anak tangga bersamaan. Anak tangga dengan pintu utama saling berhadapan. Otomatis akan nampak orang yang akan datang.


Langkahnya terhenti, saat ia tak sengaja menatap ke arah pintu utama. Ia terpaku, jantungnya berpacu kencang bersamaan. Karena apa yang ia lihat.


"Ara ... " lirihnya.


Ara dan Derry datang bersamaan. Mereka saling tertawa kecil di timpali obrolan ringan yang membuat mereka terlihat akrab.


"Ya, ampun anak sama menantu kesayangan Mamah udah datang," Mamah Fani berhamburan mendekati mereka dengan terlihat senang.


Ara pun ikut terdiam saat matanya menangkap sosok lelaki yang seminggu ini tak ia temui. Entah perasaannya apakah harus senang bertemu dengannya lagi atau merasakan sakit ketika kejadian tempo hari. Yang jelas rasanya masih sama, mungkin juga sudah lama tertumpuk akhirnya menjadikan bola-bola besar kekecewaannya pada Rio.


Mata Rio semakin menajam ke arah mereka apalagi ke kedua tangan mereka saling mengapit. Tanda tak sukanya semakin terang-terangan. Rio jujur senang akhirnya wanita di depan sana tepatnya istrinya yang pergi tanpa kabar datang dengan tiba-tiba. Tapi hatinya sedikit nyeri, kala mereka datang berdua dengan saling bergandengan tangan.


Ara menyadari arti tatapan itu. Langsung ia melepaskan tangannya dari lengan Derry segera mungkin. Dalam situasi seperti ini Ara masih menghargai perasaan Rio. Apa kabar Rio selama ini yang terlalu banyak melakukan kontak fisik dengan Angel. Apa dia memikirkan perasaannya. Terserahlah, Ara sekarang tak mau memusingkan hal seperti ini.


Kalau Ara mau pun, ia tak akan segan dempet-dempet ke Derry. Tapi ia harus mengerti situasi dan kondisi. Mungkin harusnya bukan Derry. Karena Derry adalah adik iparnya sendiri. Terlihat kemaruk saja jadinya. Abang sama adik masa di embat semuanya. Apalagi sekarang ada Mamah Fani di depannya.


"Mamah, apa kabar Mah?" Ara menyambut pelukan ibu mertuanya dengan hangat.


"Baik, gimana kabar kamu?" tanya balik Mamah seraya mencium pipi kanan dan kiri Ara.


"Baik, Mah," ujar Ara.


Derry yang tahu kenapa Ara begitu tergesa-gesa melepaskan tangannya karena Rio. Derry hanya menatap abangnya dengan tatapan bangga, dan berakhir tersenyum menyeringai kala mata Rio menatap tajam ke arah adiknya.


"Ngobrolnya nanti aja, kita makan dulu ya," Mamah Fani membawa Ara ke meja makan. "Udah lama, kita gak makan bareng 'kan."


Ada perasaan lega di hati Rio. Berulang kali di dalam hatinya berucap syukur karena Ara mau datang ke rumah. Rio pastinya akan mengucapkan rasa terima kasihnya ke mamahnya karena Mamah Fani mau membantunya.


Derry, Ara, dan Mamah Fani sudah duduk di kursi masing-masing. Rio pun segera menyusul. Perasaannya setelah bertemu Ara campur aduk, banyak rasa bersalah yang teramat untuk Ara. Rio jadi segan sekadar menyapa. Sepertinya Rio tahu malu.


Rio memilih duduk berhadapan dengan Ara. Saat bertatapan tak sengaja, mereka sama-sama saling membuang. Suasana di meja makan berakhir canggung.


"Gimana perjalanannya, apa macet di jalan, jam segini jamnya pulang kantor?" tanya Mamah Fani yang berusaha mencairkan suasana.


"Lumayan, Mah?" jawab Ara sekenanya.


"Ya udah kita makan dulu ya, ngobrolnya setelah makan," titah Mamah Fani yang langsung mengambil piring Ara untuk di ambilkan nasi.


Setelah makan malam selesai. Mamah Fani meminta mereka semua untuk duduk santai di halaman belakang sembari menikmati cemilan yang telah di sediakan.


Tetapi Ara izin ke kamar mandi ketika selesai makan. Mamah Fani pun mempersilakan, Ara pun masuk ke kamar mandi di dekat dapur.


Mamah Fani dan Derry pun pergi terlebih dahulu ke halaman belakang tanpa Rio. Diam-diam Rio memperlambat jalannya, ketika mereka sampai di sana. Bergegas Rio menyusul Ara yang tengah di kamar mandi tamu.


Tak nyampai lima menit, Ara selesai. Saat membuka pintu, ia terkejut melihat Rio sudah ada di depan pintu.


"Rio?"


Cepat-cepat Rio mendorong tubuh Ara agar dirinya juga ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Rio! Ada apa?" tanya Ara yang kebingungan.


Rio langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandi. Ara terheran. Mereka saling menatap. Kini hanya mereka berdua.


"St ... !" telunjuknya terangkat dan mendekat di bibirnya tanda peringatan untuk Ara diam.


Ara pun terdiam.


"Maaf, aku, aku cuma pengen bicara sama kamu."


"Bicara tinggal bicara kenapa harus di sini sih! 'Kan bisa ngomongnya di luar, awas! Aku mau keluar, entar Mamah sama Derry nyariin," Ara berusaha meraih kenop pintu.


Rio mencegah, bahkan tubuhnya sebagai penghalang pintu agar Ara tidak keluar.


"Please, kasih aku kesempatan, Ra?" mohon Rio.


"Enggak, kesempatan kamu udah habis dari entah kapan!" pungkas Ara yang masih mencoba menyingkirkan tubuh Rio dari depan pintu.


Rio bergeming. Ia mencoba menatap mata Ara, berusaha untuk membuatnya percaya bahwa dirinya kali ini benar-benar tulus.


Ara sendiri berusaha mengalihkan pandangannya kemana pun berusaha menghindar tatapan dari Rio. Ara tak mau luluh lagi dengan mudahnya. Kali ini Ara harus bersikap tegas, dan menunjukan keseriusannya untuk menyudahi semuanya. Ia terus memaksa Rio untuk menyingkir darinya.


"Rio, aku mohon. Aku mau keluar, nanti Mamah nyariin kita," pinta Ara.


"Gak, gak bakal aku bukain. Sebelum kita bicara!" tegas Rio.


Ara menyerah, kali ini ia berani menatap mata Rio. Kedua tangannya melipat di dada, berusaha tampak tegar.


"Apa yang harus di bicarain sih? Udah gak ada."


"Masih ada!"


Ara menghela nafas sarkas, "apa! Udah jelas, kamu udah sama Angel 'kan. Ya udah, apalagi. Kamu maunya gimana, sih? Aku capek Rio, kamu mau Angel. Tapi gak mau lepasin aku. Sedangkan aku capek. Kalau kamu lebih memilih Angel, silahkan. Yang jelas aku milih mundur, lagian pernikahan ini terjadi pun bukan keinginan kita juga. Gak perlu bicara apapun, gak perlu penjelasan apapun. Aku capek!"


"Kamu salah paham, Ra. Gak seperti itu kejadiannya. Makanya aku perlu meluruskan semua ini. Kasih aku kesempatan ya," Rio mencoba meraih tangan Ara. Namun Ara hindari.


Ara malas mendengar ocehan Rio. Ara mencari sesuatu dari tasnya, "ini!"


Ara meraih tangan Rio. Tangannya di raih oleh Ara, Rio hanya terdiam. Telapak tangan Rio, ada kartu ATM yang Ara berikan. Otomatis Rio menatap tanda tanya ke arah Ara.


"Ini uang sisa bulanan yang kamu kasih setiap bulannya. Uang kuliah pun masih utuh di sana. Cuma waktu itu aku kesulitan uang, jadi aku pakai sedikit. Tapi udah aku ganti kok, kalau ada kurangnya nanti aku bayar secepatnya. Cek dulu, kalau kurang kasih tau aku," jelas Ara apa maksud kartu ATM itu.


Rio terkejut bukan main. Matanya membulat, ia bingung kenapa Ara sampai tidak menggunakan uang yang ia beri setiap bulannya. Kadang-kadang Rio selalu menambahkan agar Ara tidak kekurangan. Karena memang selama ini, Rio tidak menanyakan apa Ara kekurangan uang. Atau pun Ara sendiri yang tidak pernah meminta.


Ara sampai kehabisan akal, dengan kelakuan Rio yang berlebihan. Sebenarny mau menunjukan dia kaya, atau emang sengaja agar dirinya terlihat haus uang.


Bahkan nominalnya bukan main. Bukan sedikit, bahkan selama menikah enam bulan ini uang yang terkumpul bisa membangun rumah yang cukup mewah di kampungnya. Padahal sudah di potong untuk kebutuhan di rumah.


Ara terkadang ingin menanyakan kenapa Rio harus mentransfer lagi ketika sudah mengirimnya pada tanggal yang seperti biasanya. Tapi Ara urungkan, takut juga di anggap kurang.


"Ara," panggil Rio lirihnya seraya menatap kartu ATM yang berada di tangannya sekarang. "Aku gak tahu, maksud kamu apa? Kenapa kamu gak pake uang yang selama ini aku kasih. Ini semua punya kamu, ini hak kamu," Rio mencoba mengembalikan kartu ATM itu lagi ke Ara.


Ara menolak, kakinya melangkah mundur. Tangannya memegang erat tali tasnya, seraya menggelengkan kepalanya.


"Itu bukti, kalau aku mau menikah sama kamu bukan karena harta hanya melihat kedua orang tuamu kaya. Bahkan aku tidak tahu sebelum menikah dengan mu orang tuamu kaya. Aku bener-bener mau menikah karena orang tua kita, bukan apa yang di miliki oleh orang tuamu," tutur Ara.


Rio tak henti-hentinya heran, bingung, dan kaget. "Ra, aku gak pernah punya pikiran kayak gitu, apa aku ada bilang kaya gitu sama kamu?!"


"Kamu lupa, bukan gak pernah bilang. Udahlah, aku mau keluar," Ara malas menanggapinya. Ara akhirnya bisa keluar dari kamar mandi tanpa harus bersusah payah meminta Rio untuk menyingkir.


Ara pergi meninggalkan Rio yang masih termangu. Hatinya sakit sekali ketika ia tahu hal ini. Ia genggam erat kartu ATM yang di berikan oleh Ara. Dadanya terasa sesak sekarang, sepertinya apa yang ia lakukan selama ini sudah keterlaluan pada Ara. Rio tak tahu dampak ke dirinya sebegini kacaunya.


Rio membiarkan Ara pergi begitu saja. Dirinya merasa shock, ia masih mencoba mengingat apakah ia pernah bicara kasar seperti itu ke Ara. Sampai-sampai Ara berbuat jauh tanpa dirinya tahu.


Padahal ada hal yang ingin ia katakan. Tapi mengetahui kenyataannya seperti ini, bukan waktu yang tepat pikirnya.


____