Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 75


"Temenin aku kerja," lah dia yang mau kerja hubungan dengan Ara apa.


"Nggak mau, kenapa aku juga yang harus nemenin kamu?" Tolak Ara seraya duduk di sofa bersiap untuk tidur.


"Ara, kamu udah ganggu jam tidur aku. Sekarang kamu tidur tanpa mikirin aku yang sekarang susah buat tidur!" Protes Rio.


Ara menoleh ke Rio yang sedang menudingnya pekara masalah tidur menidur. Ara langsung duduk tegap dan berhadapan dengannya 'si tuan balok es'.


"Kamu kok kamu nyalahin aku sih, tidur ya tidur aja, kenapa gak bisa tidur nyalahin aku!" Tak terima Ara.


"Kamu berisik, yang bangunin cuma masalah mau mandi. Mandi tinggal mandi, pake izin dulu. Gak, gak bakal tuh kamar mandi kalau kamu gak izin bakal ada jebakan batman," tudingnya semakin memancing Ara untuk tidak menahan berdebat dengan manusia entah terbuat dari apa.


Ara berdiri, sembari kedua tangannya terangkat ke arah Rio, geram sekali ingin meremas kepala Rio sampai gak berbentuk. Kepalan tangan Ara terlihat seperti orang memiliki dendam kesumat. Apalagi wajahnya yang meneggang.


Ia sampai kehabisan kata-kata, ia berdiri hanya biaa bergulat dengan bathin nya untuk memaki si Rio dengan kata-kata kesalnya. Ia juga menyadari memang, tapi Rio tidak perlu sampai sekesal itu.


---


Akhirnya melewati perdebatan yang panjang dan penuh emosi 'bathin'. Ara pun sekarang duduk di sisi Rio dalam satu ranjang. Memperhatikan Rio yang tengah baku ketik dengan laptopnya.


Ara hanya di suruh duduk di sisinya, gak boleh tidur sebelum pekerjaan Rio selesai. Itu permintaan Rio, alasan Rio yang tidak masuk akal. Dia yang sulit, kenapa Ara juga harus menanggungnya.


Ara lelah seharian ini, banyak kejadian yang menguras emosi dan tenaganya. Apa Rio tidak bisa melepaskan Ara hanya sehari saja untuk menikmati hidup. Rasa kantuk tak bisa ia elakan lagi, berulang kali Ara menguap sampai kedua matanya berair.


"Ehem!" Sengaja, Ara tahu Rio sengaja untuk membuat Ara terjaga dari tidurnya.


"Udah belum sih Rio, aku ngantuk," ujar Ara dengan menahan sebisa mungkin rasa kantuknya


"Belum, sebentar lagi," jawab Rio sembari menyesap teh panas miliknya.


Rio tega sekali, membuat Ara menderita oleh kantuknya sendiri. Karena kesal Ara menendang selimut di bawah kaki nya.


"Sebentar itu kapan?!"


"Sebentar lagi, ini tinggal dikit," ucap Rio santai.


Ara menyandarkan diri di headboard sembari kedua tangannya membuka mata nya agar terbuka lebar. Kantuk nya tak bisa di ajak kerja sama sayangnya.


Berat sekali ingin terpejam kedua mata Ara. Berulang kali ia berpindah posisi kadang di menyandar, kadang mendekat ke tubuh Rio hanya ingin tahu seberapa jauh pekerjaannya hanya untuk menghalau rasa kantuk nya.


Hingga dimana wajah Ara tertunduk, Rio melihat Ara sudah membenamkan wajahnya.


"Ara..." panggilnya. Ara tak menyahut, pasti Ara ketiduran.


"Ara..." memang dasarnya sudah ngantuk, di goyah sedikit tubuh Ara lamgsung tersungkur ke depan.


"Eh, ya ampun dia malah tidur," melihat wajah Ara yang sudah terlelap.


Rio melihat jam, ternyata sudah pukul setengah empat subuh dini hari.


"Ara, bangun, aku belum rampung," tandasnya seraya mencoba menarik tubuh Ara agar kembali duduk.


"Hm..." lenguhnya tanpa membuka mata.


"Ayo... Bangun..."


"Hm, aku ngantuk Rio," ucapnya ogah-ogah untuk bangun.


Jangan kan untuk bangun, untuk membuka matanya saja terasa berat. Ya ampun Rio tidak kah bisa untuk berbaik hati untuk mengasihi nya.


"Kamu udah janji mau temenin aku..." Rio berulang kali menarik-narik lengan Ara agar terbangun.


Mau tidak mau Ara membuka kedua matanya. Dengan mata yang berat untuk ia membuka mata. Ara menatap Rio dengan kesal.


Dengan mata tertutup, bibir manyun, Ara pun menarik-narik manja lengan Rio. Ia harap Rio kali ini melepaskannya.


"Riooo... Please..." mohon nya penuh harap.


"Ra, lepas," pinta Rio karena Ara sekarang mengusel-ngusel di lengannya.


Bukan apa, belahan dada Ara terlihat dengan jelas. Entah sejak kapan dua kancing terlepas, dan melihat kan belahan buah dada nya. Jelas sekali Ara tidak memakai dalaman. Hanya kemeja miliknya yang melapisi tubuh mungil Ara.


Rio memejamkan matanya, ia tutup rapat-rapat kedua matanya. Ia tak ingin menatap bagian itu. Bahkan Rio berusaha melepaskan pelukan Ara dari nya.


Berdebar jantung Rio, ia risau jika Ara terus di dekatnya jika begini. Ara tak mau diam, dengan gumaman tak jelas dari mulut nya. Tangannya masih betah memeluk erat lengan Rio.


"Lepas Ra..." lirih nya.


Ara cepat menggeleng, malahan pelukannya semakin erat dan menggelus pelan lengannya Rio menggunakan kepalanya.


Tahu, ada yang urgent di bawah sana. Tak tahu kah dia ini normal, pure jiwa, hasrat, naluri seorang lelaki. Kenapa Ara memancingnya terlalu jauh.


Rio mengehembuskan nafas panjang , ia menenangkan pikirannya yang kalang kabut.


"Oke, boleh tidur, tapi lepasin tangan aku Ra!"


"Hm..." hanya itu yang terlontar dari Ara, Rio menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga, nih cewek, malah tidur beneran."


"Ra lepasin tangan ku, kalau kamu mau tidur, tidur aja."


Nih, Ara kenapa semakin kuat memeluk lengannya. Semakin Rio berusaha melepasnya, entah mengapa Ara semakin memeluknya.


Tok!Tok!


Rio terkejut, panik.


"Rio, kamu masih tidur?" suara Mama mengejutkan Rio, ia kebingungan bagaimana melepaskan Ara dari nya.


"Ra, ada mama di luar!" bisik nya, semoga saja Ara langsung terbangun, berharapnya Rio begitu.


"Rio, Rio!" panggil mama lembut seraya mengetuk pintu kamar nya.


"Mama, ada apa ke sini pagi-pagi kayak gini?" pikirnya seraya meletakan laptopnya ke nakas.


Setelah meletakan laptop tersebut, Rio mengguncangkan tubuh Ara agar bangun. Tapi tetap saja, memang bagong Ara. Rio geram sekali dengan tidurnya Ara yang tak kunjung bangun ketika Rio berusaha membangunkannya.


"Astaga, Ra kalau kamu gak bangun, aku cium kamu!" ancam Rio seraya menarik dagu Ara ke atas.


Ara hanya tersenyum tipis, ia dengar ancaman Rio. Tapi ia tak menggubrisnya dengan serius. Di fikiran Ara, ia seperti sedang bermimpi. Bermimpi saja.


"Mau cium, cium nih, cium nih!" tantang Ara dengan mata masih tertutup rapat, namun bibirnya tersenyum tipis.


Ah, Ara memang ya. Membuat Rio kesal.


"Kenapa diam aja, katanya mau cium, ini!"


Cup


Rio tidak bisa menahannya lebih lama. Ara terlebih dahulu mengukur keimanannya sampai mana. Banyaknya Ara bergerak, semakin belahan dadanya terekspos dengan jelas.


Jujur Rio sendiri belum pernah melakukan hubungan intim dengan wanita siapa pun.


****