Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 83


"Rio, udah gak usah banyak tanya. Yang penting kan akunya di sini, gak usah di fikirin masalah hal kecil. Aku udah gede, udah bisa mengatasi masalah!" Ketusnya sembari beranjak dari duduknya.


"Ayo, pulang!" Ajaknya.


Rio justru tertegun, menatap Ara berjalan mendekati mobilnya.


"Emang cuma hati perempuan yang tahu apa perasaanya. Tadi sedih, sekarang malah galak," geleng Rio mengetahui perubahan cepat Ara.


Rio pun masuk ke dalam mobilnya. Ara sudah duduk di sana dengan raut wajah datar. Rio sebenarnya penasaran ada apa dengan Ara. Kenapa seperti ada hal yang harus ia tutupi darinya.


Namun pikiran yang terlintas tersebut segera Rio buyarkan. Kenapa dirinya berkeinginan Ara harus bicara hal apapun padanya? Ia tersadar hubungan mereka tidak sejauh itu, harusnya.


Rio pun melajukan mobilnya pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Ara tampak sedang memikiran banyak hal. Entahlah, Rio pun tak ingin mengusik diamnya Ara.


___


"Assalamu'alaikum."


Mamah Fani tersenyum ketika mendengar kedua anaknya pulang. Segera ia menjawab salam, "Wa'alaikumsalam."


"Bi, biar saya saja yang buka pintunya!" Mamah Fani mencegah Bi Imah yang hendak membukakkan pintu untuk mereka.


Bi Imah pun mengangguk pelan. Lalu ia pergi menuju dapur untuk menyiapkan hal yang belum ia rampungkan.


Mamah Fani segera membuka pintu. Mengulas senyum manis di saat memunculkan dua sejoli di depannya.


"Mamah!" Ara sedikit terkejut yang menyambut kedatangan mereka adalah mertuanya sendiri. Ia lupa, kalau Mamah Fani masih menginap di rumah mereka. Saat Mamah Fani membuka pintu, raut wajah Ara memang lesu tak bergairah.


Melihat Mamah Fani di depannya. Ia pun langsung tersenyum canggung dan segera menyambut tangan Mamah Fani untuk di cium. Mudah-mudahan Mamah Fani tidak menyadari sikap Ara tadi. Ara berusaha bersikap senormal mungkin di depan ibu mertuanya.


"Kamu udah makan, Nak?" Tanya Mamah Fani.


Ara baru saja membuka mulut, tapi Rio terlebih dahulu bicara.


"Belum Mah," sahut Rio.


"Yang tanya sama kamu itu siapa!" Meloto Mamah ke Rio. Membuat Rio langsung kicep dengan sedikit wajah masam.


"Orang mamah tanya Ara, kamu udah makan Nak?" Tanyanya sekali lagi dengan mengulas senyum manis ke arah Ara.


"Belum, Mah." Geleng Ara.


"Ya, udah kita masuk yuk. Mamah udah masak enak hari ini buat kamu, kita makan sama-sama ya." Mamah Fani begitu perhatian dan sayang kepada Ara. Anaknya sendiri, anak kandunganya saja sampai di cuekin. Rio hanya berjalan di belakang mereka dengan raut wajah cemburu.


Baru kali ini ia merasa cemburu dengan kasih sayang Mamahnya sendiri. Padahal dia bukan anak tunggal, ada Derry juga. Dulu juga ia merasa biasa saja ketika Mamahnya lebih perhatian dengan adiknya. Kenapa baru sekarang ia merasa Mamahnya ini terlalu berlebihan memberikan kasih sayang dan perhatiannya untuk Ara.


"Kalau gitu, Ara naik ke atas buat bersih-bersih dulu ya Mah. Nanti Ara turun kalau udah selesai." Ucapnya.


Mamah Fani mengangguk, "Mamah tunggu di bawah ya."


Ara pun pergi naik ke atas menuju kamar Rio. Sebelum ke kamar Rio, ia mengambil baju dulu di kamarnya yang memang di pakai sementara oleh Mamah Fani.


Namun ia bingung ketika membuka lemari. Baju-baju yang berada di dalam lemari terlihat bukan miliknya. Ia lihat dengan jeli, dan ia pastikan bukan miliknya. Dan sepertinya model-model pakaian di lemari ini seperti pakaian milik Mamah Fani. Apa jangan-jangan....


Ara pun bergegas pergi dari kamar tersebut dan pergi ke kamar sebelahnya milik Rio. Cepat kakinya melangkah menuju lemari milik Rio.


Betapa ia terkejut, isi di dalam lemari milik Rio. Di mana biasanya tertata rapih hanya baju-baju Rio. Tapi kini di sandingkan baju-baju milik Ara yang tertata rapih pula.


"Ini pasti Mamah yang mindahin," gumamnya.


___


"Mau ke atas," jawabnya seraya tangannya menujuk ke atas.


"Nanti dulu, Mamah mau bicara sama kamu." Ucapnya dengan tatapan yang bisa di tebak dengan mudah oleh Rio.


"Ada apa sih Mah? Mamah lama-lama kayak ibu tiri deh." Celotehnya kesal namun masih manut di tarik oleh Mamah Fani ke ruang tamu.


"Gak usah banyak tanya!"


Mamah Fani menghadap tepat di depan putranya dengan tatapan mengintimidasi.


"Kamu apain Ara?!" Tanya Mamah Fani to the point membuat Rio reflek bingung ingin jawab apa.


"Enggak, Rio nggak ngapa-ngapain Ara kok!" Jawabnya.


"Terus kenapa Ara kayak lesu, gak bersemangat kayak gitu. Pasti kamu apa-apain kan!!"


"Ya ampun Mah, di apa-apain aja belum. Gimana bisa di bilang ngapa-ngapain Ara?" Lirihnya.


"Apa kamu bilang?" Mamah Fani tidak begitu mendengar ucapan Rio barusan.


"Eh, maksud Rio mungkin Ara ada masalah di kampus kali Mah. Ya namanya juga masih kuliah. Wajar kan ada banyak pikiran. Kayak Mamah gak pernah muda aja," jelas Rio.


Mamah Fani terdiam, mungkin ada benarnya juga kalau Ara ada masalah di kampus.


Rio lega, sepertinya Mamah percaya dengan ucapannya barusan.


"Bisa jadi."


"Huuu... Lega!" Bathinnya mendengar Mamah Fani mempercayai ucapannya.


"Nah, kalau gitu Rio boleh ke atas kan?!" Pamitnya.


Mamah Fani menangguk, mengizinkan Rio untuk pergi.


"Rio," panggil Mamah Fani ketika baru saja beberapa kaki Ri melangkah sudah di panggil lagi oleh Mamahnya. Rio pun berbalik berhadapan dengan Mamahnya.


"Kamu tuh sebagai suami, harusnya tahu masalah apa yang di alami istrimu. Jangan biarin Ara merasakan sendiri, kamu harus merasakannya juga. Sebaliknya Ara juga harus tahu masalah apapun yang di alami sama kamu. Mamah gak mau liat Ara kayak tadi. Dia tuh kayak tertekan banget, pasti selama ini dia gak pernah cerita apa-apa ke kamu selama ini. Ya kan?"


Rio terdiam, ketika sang Mamah menanyakan hal tersebut langsung di hadapannya. Sendirinya bingung ingin menjawab apa. Ia hanya diam dan tak tahu harus menjelaskan dari mana dan menjawab seperti apa.


"Tuh, pasti iya!" Mamah Fani pastilah paham dengan anaknya sendiri. Diamnya Rio pastilah iya anya Rio. "Mamah nggak mau lagi liat kejadian kayak tadi. Kamu harus menerima kenyataan bahwa Ara itu sekarang istrimu. Istri yang wajib kamu buat bahagia. Ara itu baik, tapi kamu gak pernah liat itu dari diri Ara. Rio, Mamah mohon, kamu belajar menyayangi Ara seperti kamu menyayangi Mamah. Mamah mohon, perbaiki keadaan hubungan kalian sebelum terlambat."


Terasa cubitan di hati Rio ketika Mamahnya mengatakan hal itu semua. ia dilema sekarang.


________


Wajah Rio ikutan lesu pada akhirnya. Kata-kata Mamahnya barusan melekat dengan jelas di memory nya sekarang. Sekarang apa yang harus ia lakukan?


Ia masuk ke dalam kamarnya, terdengar suara bising di lemari miliknya. Ia melihat lemarinya terbuka lebar. Entah apa yang di lakukan Ara dari balik pintu lemari sana.


"Kamu ngapain?" Rio mendekat karena penasaran apa yang di lakukan Ara. Ia tutup pintu lemari karena menghalangi sosok Ara di baliknya.


Betapa Rio bingung dengan kelakuan Ara. Kedua tangannya menggenggam hanger-hanger baju, dan ada pula satu hanger berada di mulutnya. Yang memang Ara sengaja gigit agar banyak ia bawa.


"Kamu ngapain?!" Tanyanya sekali lagi karena Rio bingung dengan tingkah Ara.


****