
Motor Gilang mendekat, dia memberikan klakson tanda perpisahan. Ara tersenyum dan melambaikan tangan. Rosa pun membalas lambaian tangan Ara dan tersenyum pula.
Senyumnya pudar ketika langkah menuju mobil Rio beberapa langkah. Menjatuhkan kedua bahunya, ia eratkan pegangan tas ransel. Berulang kali nafasnya di hembuskan berat.
"Lamban!" Gumam Rio, tak sabar melihat jalannya Ara. Dirinya langsung mengklakson memberikan tanda kepada Ara agar cepat berjalan.
"Sial!" Ara terkejut, lampu mobil tengah menyoroti dirinya. Ara memasang wajah masam ke arah Rio. Ia pun buru-buru berjalan, membuka pintu mobil dengan kasar.
Wajah jutek masih ia perlihatkan, dengan grusuh Ara masuk ke dalam mobil, menutup mobil dengan kuat.
Sudah berada di satu di dalam mobil, suasana makin tidak enak. Rio tidak menyapa, Ara pun membuang muka. Di artikan keduanya sama-sama sedang kesal dengan berbeda alasan.
Tak ada bincangan malam itu, hanya suara mesin mobil. Rio fokus ke arah jalanan, Ara memilih menatap luar jendela mobil. Entah apa yang di fikirkan mereka. Senyap, setan pun berharap mereka bertengkar, dan berdebat saja. Tapi sekarang keduanya sedang sama-sama hidup di dimensi lain.
35 menit perjalan yang cukup panjang. Akhirnya sampai di pelataran rumah mereka. Ara sudah mulai mengantuk, ketika sampai matanya langsung membulat dan akan siap turun.
Saat sampai di depan rumah, Ara sempat melirik Rio. Sialnya, lirikan itu di ketahui oleh Rio sendiri yang juga secara gak sengaja menatap Ara. Cepat Ara turun dari mobil, dan berlari masuk. Jantungnya berdetak sekarang, ini yang di benci Ara. Perasaan yang seharusnya tak ada.
"Neng! " Panggil Bi Imah dari arah dapur, tapi Bi Imah memanggil Ara bernada pelan. Namun masih terdengar oleh Ara. Seketika Ara melihat Bi Imah yang tengah melambai ke arahnya dan Ara pun menurut.
"Ada apa Bi?" Tanya Ara ketika sudah tepat berada di depan Bi Imah.
Bi Imah buru-buru mengisyaratkan untuk pelan-pelan saja jika bicara. Ara semakin bertanya-tanya ada apa. Bi Imah seperti orang gelisah ia terus-terusan memperhatikan sekitar. Ara bingung tapu juga ikutan memperhatikan sekitarnya.
"Apaan sih Bi?" Penasaran Ara.
"Sshhtt !"
"Pelan-pelan Neng, Bibi ada berita baik!" Ucap Bibi dengan mata berbinar sepertinya sedang senang.
Ara mengerutkan dahi, berita baik apa? Pikirnya.
"Berita baik?! Apa?" Tanya Ara tak kalah ikut senang.
"Non Angel tadi..." Bi Imah memberhentikan ucapannya, dan Ara masih menunggu.
"Neng udah pulang, ini Bibi buatkan susu cokelat. Pasti capek kan, ini di minum dulu masih anget kebetulan." Bi Imah menyodorkan segelas susu cokelat pada Ara. Ara menerimanya, dan sekaligus memicingkan matanya dirinya bingung. Bi Imah apakah sedang mempermainkannya.
Seketika Rio masuk dan melihat kedua wanita di dapur bersih tengah mengobrol layaknya anak dan orang tua, ia tak menaruh curiga.
"Tuan, tuan mau susu juga?" Tawar Bi Imah kepada Rio yang melewati mereka. Ara pun menoleh, melihat Rio yang menggelengkan kepalanya dengan raut wajah dinginnya.
"Oh gitu." Senyum Bi Imah ketika mendapatkan jawaban dari sang majikan.
Ara balik lagi mengarah berdirinya Bi Imah. Ia meminum susu yang di berikan Bi Imah sampai habis setengah gelas, "Dia tuh harusnya di tawarin air panas mendidih biar cair tuh es baloknya." Gerutu Ara dalam hati.
"Ya udah ya Bi Ara mau naik ke kamar dulu." Pamit Ara, ia masih membawa segelas susunya untuk di bawa.
Tepat di depan tangga, Rio tengah berjalan. Ara menjulurkan lidahnya ke arah Rio. Sengaja mengejek si balok es bermuka kaku seperti Rio. Untungnya Rio tidak tahu.
Setelah puas mengejek Rio, Ara pun berlalu pergi menuju kamarnya yang tak jauh dari sana. Saat tangannya mengulurkan ke knop pintu, ia teringat dengan ucapan Bi Imah tadi.
"Ah bodo lah, siapa peduli." Kata Ara lalu masuk ke dalam kamarnya.
Ara sudah terlalu lelah untuk keadaan ini. Dirinya butuh menyegarkan diri lalu istirahat. Besok ada kelas pagi. Ara harus bangun lebih segar.
Berendam sejenak adalah pilihan yang tepat sebenarnya. Tapi karena ini adalah kamar tamu, bathub hanya ada di kamar lantai atas. Di kamar tamu tidak ada. Seandainya berendam 15 menit saja dengan aroma oil mawar mungkin lebih baik untuk menenangkan pikiran yang sedang penat.
Tapi Ara hanya mengembuskan nafas panjang. Yang ada jauh lebih baik, Ara masuk ke dalam kamar mandi. Ia lepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Menghidupkan kram shower berdiri di atasnya. Air mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Seketika air dingin seperti membawa rasa lelahnya.
***
Selesai mandi, Ara menghabiskan sisa susunya tadi. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya. Dengan bersenandung kecil, kedua tangannya mengeringkan rambutnya yang sebahu. Saat menggeser jemarinya, dahinya melipat.
"Lah, baju aku kemana?"
"Lah, lah, lah?" Ara membuka semua lemarinya.
Tidak ada baju selembar pun, dan Ara baru menyadari bukan baju aja yang tidak ada tapi barang-barangnya.
"Ih kemana semua barang-barangku, baju-baju ku." Ara menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ck!"
Ada apa yang terjadi, kenapa semua barangnya tidak ada. Bukan barangnya tapi baju nya terlebih dahulu. Tidak Ada baju bagaiamana dirinya jika ingin keluar. Ara mengecek semua sudut kamarnya barangkali ada yang menyimpannya di sana.
Ara kesal, bingung.
"Ah, tanya Bibi." Ara langsung berjalan mendekati pintu, namun ia urungkan niatnya.
"Gimana mau keluar kalau aku..." Ara melihat dirinya yang hanya berbalut handuk selembar.
Ara menggigit bibirnya bingung, tapi gimana.
"Biar lah, udah malem juga pasti udah pada tidur. Kamar Bi Imah juga deket dari sini. Aku tinggal lari aja." Ucap Ara.
Akhirnya dirinya nekat untuk keluar kamar menemui Bi Imah. Tapi hatinya geram siapa juga yang menyembunyikan semua barang miliknya termasuk baju-bajunya.
Ara berjalan pelan melewati anak tangga. Ia was-was takut ada yang turun, jangan Rio. Ara berdoa semoga tidak ada Rio. Dengan pelan melangkah mendekati kamar Bi Imah yang berdampingan dengan dapur kotor.
Langkahnya hampir tak terdengar, Ara sungguh berhati-hati. Jantungnya berasa sedang di permainkan. Berdetak seolah ia akan mendapati suara jumpscare.
"Ra kamu ngapain?" Ara menenggang, berhenti sama hal nya jantungnya.
"Sial! " Bathin nya.
***
NB : Jangan lupa Like, comment, tekan❤, lalu vote ya. Insha Allah author bakal up rajin akhir-akhir ini. 2 hari sekali tapi ya, gantian sama novel yang aku garap. Terutama Rio & Ara dan Hijrahku Menuju Jodohku. Jadi Jangan bilang kok cuma satu? Aku usahain walau satu episode aku banyakin. Biar kalian tidak kecewa. Makasih Ya yang udah mampir baca, dan baca note ku ini. Sehat-sehat kalian🤗, see you next episode 🔥🔥.