
Dan hanya tiga menit lampu padam kembali menyala. Yang tadinya gelap gulita kembali menerangi seluruh setiap sudut kamar Rio. Termasuk Ara yang tengah berada di bawah tubuh Rio. Mereka saling tatapan dengan lekat.
"Maaf Ara lancang pergi ke kamar Rio" lirih Ara yang ketakutan akan omelan suaminya.
Rio pun langsung berdiri dan menjauh. Ara pun langsung bangun dari ranjangnya dan akan pergi.
"Tunggu !!" Pinta Rio
Ara pun berhenti namun tak membalikan tubuhnya. Rio mendekati Ara dan kini tetap di belakang Ara.
"Mati aku" Lirih Ara dan membalikan tubuhnya.
Ara menatap dada bidang tepat di hadapannya. Ara menalan salivanya segera menatap dada bidang yang telanjang Rio.
"Ehm" Dehem Rio
Ara tersadar dan cepat menatap wajah Rio dengan pura-pura tidak melihat apa-apa.
"Ada apa ?" Ketus Ara yang memanglingkan wajahnya ke arah lain.
Rio tak menjawab pertanyaan sederhana Ara, ia mendekati Ara perlahan. Ara pun reflek melangkah mundur agar jaga jarak dengan Rio.
"A.. apa ?" Gugup Ara yang sesekali menatap Rio.
Rio hanya menaikan alis salah satunya.
"Ara sudah minta maaf" Ucapnya dengan melihat ke arah belakang yang sudah hampir mendekati pintu.
"Ara hanya mengambil benang nilon di balkon kamar Rio karena terjatuh" Ucap Ara yang lantang dan cepat sembari menunjukan benang nilon yang ia pegang.
Seketika Rio memberhentikan langkahnya, Ara terhimpit antara Rio dan pintu. Ara mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sembarangan.
"Sumpah Ara tidak menyentuh barang apapun milikmu. Hanya mengambil benang ini saja. Suer!" Ara menaikan dua jarinya.
Rio mendekati wajah Ara perlahan, Ara pun memejamkan matanya rapat-rapat dan memundurkan kepalanya kebelakang.
"Yakin" Ucap Rio
Ara tak berucap namun kepalanya ia anggukan beberapa kali.
"Tapi kamu sudah meniduri ranjangku. Apa bukan menyentuh namanya ?" Bisik Rio
"Tapi bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab" Ucap Rio yang menjauh dari Ara.
Ara pun membuka matanya karena terkejut ucapan Rio barusan.
"Ta.. tanggung jawab ? " Terkejut Ara.
"Iya tanggung jawab" Ucap Rio
"Aku gak sengaja, kamu gak denger ya. Apanya yang harus ku tanggung jawabkan? " Kesal Ara
"Pertama kamu masuk ke kamar aku tanpa izin" Ucap Rio yang mengangkat jari telunjuknya.
"Kedua kamu menyentuh ranjangku" menambahkan jari tengahnya.
"Dan yang ketiga..." belum usai Rio berucap.
"Eh! Gak ada yang ketiga" Ara meraih tangan Rio yang akan menambahkan jari manisnya.
"Satu dan dua aku akui. Tapi gak ada yang ketiga ya" protes Ara.
"Kamu menyentuh tanganku itu yang ketiga" Ucap Rio yang melihat ke arah tangannya yang di genggam oleh Ara.
"Hem!" Ara melepaskan tangannya.
"Mengakui kan ?" Ucap Rio
Ara membuang mukanya dan memasang wajah kesal.
"Jadi mau mu apa sekarang?" Tanya Ara yang masih tidak lihat ke arah Rio.
"Besok malam kamu harus ikut aku keluar. " Ucap Rio
"Kemana ?" Tanya Ara yang langsung menatap Rio
"Pukul 4 sore kamu sudah harus bersiap." Rio pun membukakan pintu kamarnya dan mengisyaratkan matanya ke Ara agar keluar dari kamarnya.
"Dasar es batu!" Gerutu Ara yang langsung pergi dari kamar Rio.