Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 37


"Lalu hubungan kalian selama ini ?" Tanya Arfan ?


"Hambar lah ? Ibaratnya makanan tanpa garam dan penyedap. Rasanya tak sesuai yang kita harapkan. Kita hidup masing-masing. Dia ya dia, gue ya gue. Udah gitu aja selama gue menikah sama dia. Gak ada yang spesial dan semuanya berjalan seadanya. " Jelas Rio


"Itu pandangan lo ?" Tanya Alex


"Yes " singkat Rio


"Terus pandang an istri lo ?" Tanya Arfan


Rio hanya diam mendengar ucapan Arfan.


" Harta " Itu yang terlontar dari ucapan seorang Rio


"Hah ?" Arfan dan Alex kompak dengan saling pandang.


"Maksud lo istri lo matre ?" Kompak mereka kembali dengan bersamaan menatap ke Rio.


"Kalo gak ? " Ringan Rio


"Alasan aku membenci wanita selain Nyokap gue ya . Ya itu Harta, dengan mudahnya wanita jatuh kepelukan kita ya dengan beberapa lembar uang. Gue yakin dia juga sama dengan wanita di luaran sana. Uang.. Uang.. Uang.. Selain uang apa lagi ya dia mau nerima gue kalau bukan uang." Ucap Rio


"Serendah itukah wanita ?" Lirih Arfan


Ara yang sedari tadi mendengar obrolan mereka dari awal hingga akhir. Dan ucapan Rio yang terakhir sukses membuat hati Ara semakin hancur. Hingga tak terasa luruh deras air mata yang sedari tadi ia berusaha tahan agar tak jatuh. Tapi pada akhirnya air mata itulah yang mewakilkan perasaannya untuk saat ini. Suara tangisan ia sembunyikan sebisa mungkin. Hingga terasa sesak dadanya. Ia seka air matanya dengan cepat. Ara membalikan badannya untuk pergi .


"Nona ? Ada yang bisa saya bantu ?" Panggil Irfan yang kini di hadapan Ara.


Ara hanya menundukkan wajahnya agar Irfan sekretaris Rio tidak melihat ia sedang menangis.


"Ini tolong kasihkan ke Tuan Rio" Ara memberikan rantang nya ke Irfan tanpa berani menatap Irfan sekarang langsung.


"Eh tapi ..." belum usai Irfan berucap Ara pergi berlarian meninggalkan ruangan Rio.


"Aneh ?" Gumam Irfan.


"Siapa ?" Tanya Rio dari dalam.


"Saya Tuan, Irfan" Sahut Irfan


"Oh, masuklah" Perintah Rio


"Ada apa Irfan ?" Tanya Rio


"Rapat segera di mulai, yang lain sudah menunggu " Ucap Irfan.


"Oh lima menit lagi kita kesana." Ucap Rio.


"Baik Tuan. Kalau gitu saya pamit pergi" Irfan pun berbalik badan.


"Eh tunggu " Panggil Rio


"Iya ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Irfan


"Apa yang kamu pegang ?" Tanya Rio yang menunjukan ke arah rantang yang Irfan pegang.


"Astaga !! Saya lupa Tuan, tadi ada seorang wanita yang memberikan rantang ini untuk Tuan" Irfan meletakan di atas meja kerja Rio.


"Oh, ya sudah kamu boleh pergi" Perintah Rio


"Baik Tuan" Irfan pun pergi.


"Ehem" Dehem mereka .


"Apa sih ?" Elak Rio


"Lupa apa yang lo ucap tiga menit yang lalu ?" Ledek Arfan


"Ini Bi Imah yang antar. Tadi Receptionis yang kasih tahu tadi." Ucap Rio


"Alasan pake Bi Imah" ledek Arfan lagi.


"Terserah deh kalau gak percaya, ya udah kita rapat. Mereka pasti udah nunggu kita" Ajak Rio yang mengambil berkas yang di butuhkan.


♡♡♡


Ara pulang dengan tatapan kosong, perkataan Rio melekat di relung jiwanya. Ia masuk tanpa memberikan salam dan langsung berlarian pergi memasuki kamarnya. Ia kunci pintu kamarnya dan lari ke ranjangnya. Ara menghempaskan tubuh mungilnya ke tempat tidur. Ara benamkan wajahnya di bantal agar tangisannya tak terdengar oleh Bi Imah. Berjam-jam Ara menangis tak henti-hentinya. Mengingat ucapan Rio sangatlah menyakitkan baginya. Ara tak mempercayai ucapan Rio tentang dirinya.


Begitu sampahnya Ara di mata Rio. Pandangan Rio tentang Ara sangatlah buruk. Hanya keluarga Ara tak sebanding keluarga Rio. Dengan seenaknya Rio berucap tanpa mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia ucapkan kepada Ara. Karena bagi Ara itu adalah hinaan atas nama keluarga Ara sendiri. Ara sangat kecewa dengan Rio. Hatinya terluka dan sakit .