
"Hah!" Terkejut Rio, "Ce, apa,cerai!" Seketika Rio terasa lemas.
Apa ini maksud dari Ara, sepanjang waktu berkata menyudutkan Rio ternyata memang Ara jelas ingin pisah dengannya.
Rio akui awal pernikahan ini terjadi bukan keinginannya atau Ara. Ini semua terjadi perjanjian konyol kedua orang tua mereka. Awalnya pun Rio ingin cepat mengakhiri hubungan ini. Tapi ketika ada kesempatan, ketika Ara ingin mengakhiri ini semua.
Kenapa ada hati yang berat untuk melepasakan hubungan ini. Kenapa terasa tidak rela. Kenapa ada rasa sesak yang menyakitkan di dada ketika kata 'cerai' terlontar begitu saja dari mulut Ara.
Wajah Rio pias seketika, ia langsung melepas genggamannya. Lemas dan langsung duduk di sofa dengan pandangan kosong.
"Gak dari tadi! " Ara duduk mensejajarkan Rio. "Uh, mana sakit!" Eluh Ara mengusap bergantian pergelangan tangannya yang sedikit memerah akibat cengkraman kuat dari Rio.
"Eh, mau kemana?" Tanya Ara melihat Rio beranjak dari duduknya.
Rio tidak menjawab pertanyaan Ara. Malah dirinya pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah Ara.
"Rio, kasih aku jawaban tentang tadi!" Ucap Ara yang langsung beranjak dari duduknya.
Kedua tangan Rio mengepal kuat, ia berhenti di depan anak tangga. Tapi masih diam dan tak menoleh ke arah Ara yang yang tengah menanti keputusan Rio.
"Eh tuli, aku lagi tanya sama kamu. Gimana... " Kata Ara terputus ketika Bi Imah keluar dari kamarnya.
"Tuan," sapa Bi Imah.
"Bi antar Ara ke lantai atas," perintah Rio kemudian ia pergi ke atas tanpa menghiraukan Ara.
"Eh, Rio aku belum selesai ngomong, Rio!"
"Ck!" Kesal Ara melihat Rio pergi begitu saja.
Bi Imah mendekati Ara dan tersenyum. Lupa memberitahu kalau kamar Ara sekarang berada di lantai atas. Wajar Ara sekarang memakai handuk saja, karena semua baju dan barang-barang Ara telah di pindahkan.
"Ayo Neng!" Ajak Bi Imah.
"Kemana?"
"Ke lantai atas, barang-barang Neng ada di atas semua," telunjuk Bi Imah menunjuk ke atas.
Kening Ara mengerut bersamaan melihat ke lantai atas. Maksudnya kamar siapa?
Di sana hanya ada dua kamar, kamar Rio dan kamarnya tapi itu dulu sekarang yang menempati adalah kekasih Rio si Angel. Tidak ada kamar lain, maksudnya bagaimana.
"Bi, kamar di lantai atas udah ada penghuninya semua. Kenapa bisa barang-barang ku ada di lantai atas? Dimananya?" Tanya Ara bingung.
"Naik dulu, nanti penasaran Neng ada jawabannya di sana. Ayo!" Bi Imah langsung melangkah terlebih dahulu.
Sedangkan Ara masih memutar otak, berfikir keras. Bisa jadi Ara sekarang tinggal satu kamar sama Angel atau sama Rio. Kalau Angel tidak mungkin, Ara normal, normal jiwanya siapa yang mau menghirup udara yang sama dengan perempuan yang notabene Angel adalah kekasih Rio.
Dan sempat dia tidur satu kamar dengan Rio. Ara semakin gak sudi. Enak jidatnya, sesukanya mengatur segalanya. Siapa lagi kalau bukan Rio yang memindahkan semua barang-barangnya ke lantai atas tanpa seizin Ara.
Dirinya juga awalnya sesuka hati memindahkan barangnya dari lantai atas ke lantai bawah saat Angel datang dan tinggal di sini. Parahnya Rio tidak berdiskusi terlebih dahulu dengannya.
Entahlah, pokoknya Ara menolak keras. Mau dia tidur dengan Angel atau Rio. Ara tetap tidak mau, dia akan memilih tidur di ruang tamu ketimbang satu nafas dengan mereka-mereka. Kalau Rio melarang dirinya untuk tidur di ruang tamu. Ara nekat akan pulang ke Bandung tanpa menghiraukan perintah Rio.
"Neng, ayo!" Ara terkejut, ia mendongakkan kepalanya ke atas.
Bi Imah tengah menunggu dirinya, tersadar Ara tidak naik ke atas.
Bi Imah telah berdiri di depan pintu kamar Angel tepatnya kamad Ara dulu. Yang bersebelahan tepat dengan kamar Rio. Kamar Rio sudah tetutup rapat.
"Bi, kenapa semua barang Ara ada di sini?" Tanya Ara takut pemilik kedua kamar ini terganggu.
Bi Imah hanya tersenyum lebar dengan mata berbinar. Tak menjawab pertanyaan Ara, Bi Imah langsung membuka pintu kamar Angel tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ara kebingungan, juga merasa waspada. Bagaiamana jika Angel tahu kalau Ara dan Bi Imah datang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Melihat Bi Imah tenang mulai masuk ke dalam kamar. Ara malah semakin takut, Ara hanya tidak mau ada keributan di rumah ini.
"Aduh Bi, jangan masuk ke dalam deh!" Ara menarik lengan Bi Imah keluar.
"Bibi cari masalah, gimana nanti yang punya kamar marah kalau kita tiba-tiba masuk tanpa permisi," bisik Ara.
Bi Imah terkekeh kecil, ia lupa memberitahu apa yang sudah terjadi hari ini.
"Yang punya kan Neng,"
"Hah! Gimana bi?" Terkejut Ara sampai melepas tangannya dari lengan Bi Imah.
"Iya, itu kan dulu Bi, sekarang kan bukan," ujar Ara.
Bi Imah tersenyum, ia meraih lengan Ara dan menuntun Ara masuk ke dalam kamar. Bi Imah paham apa yang Ara katakan.
"Bi kalau memang baju Ara ada di dalam, biar Ara yang ambil."
Ara sendiri takut-takut akan memasuki kamar yang bersebelahan dengan Rio itu. Ara takut ada Angel di dalam lalu nantinya Rio akan memarahi ulahnya yang tidak sopan telah memasuki kamar Angel tanpa permisi. Ini yang terbayang di kepala Ara.
Ara menolak masuk, namun Bi Imah terus menarik Ara hingga ke masuk ke dalam.
Ara terpana melihat perubahan besar di kamar yang ia pijak sekarang. Desain, interior, dan furniture di dalam kamar ini sangatlah berbeda ketika awal Ara datang ke sini.
Sekarang terlihat mewah dan berkesan elegan. Mata Ara berputar mengitari seluruh ruangan ini.
Begitu spesial Angel untuk Rio. Jika bukan Angel mana mungkin Rio akan merubah total semuanya ini. Dan Angel pastinya tidak mau juga benda-benda di kamar ini menyentuh kulit Angel, karena pemilik sebelumnya adalah Ara. Itu yang di fikir Ara.
"Wow! " Kagum Ara dengan memasang senyum getir.
"Kelihatannya gak ada Angel di sini Bi," Ucap Ara, memang sepi.
"Ya pasti gak lah, Non Angel udah Tuan Rio usir!" Ungkap Bi Imah senang.
"Hah! Apa Bi, Angel, Rio usir? Kok bisa? Kapan, kok Ara gak tahu?" Bagai petir menyambar di hari yang cerah. Ara terkejut, kakinya langsung melemas.
"Neng! Duduk dulu," Bi Imah memapah Ara untuk duduk di ranjang.
"Angel kok bisa di usir Bi?"
"Alasannya apa?" Tanya Ara beruntun.
Bi Imah mengambil sepasang baju tidur untuk Ara pakai.
"Nanti Bibi ceritain, sekarang Neng pakai baju dulu entar masuk angin," Bi Imah menyodorkan sepasang baju tidur kepada Ara.
"Oh, iya, makasih Bi," kemudian Ara pergi ke kamar mandi untuk memakai baju.
***