Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 118


"Loh, ini Mas yang kemarin ya?" tanya Kang Odi menghampiri Rio yang baru saja turun dari mobil. "Cari Non Ara ya?"


"Iya Pak, Ara nya ada kan," tanya Rio.


"Aduh, udah pagi-pagi sekali Non Ara pergi Mas," jawab Kang Odi.


Rio terheran mendengar ucapan Kang Odi. Ia berpikir kemana Ara pergi di pagi buta.


"Bapak tau gak kemana Ara pergi?"


"Wah kalau itu saya gak tau."


"Bapak gak tau ya, ya udah makasih kalau gitu. Saya permisi pergi ya Pak," pamit Rio.


Rio masuk ke dalam mobilnya. Ia termenung sejenak memikirkan kemana Ara pergi. Antara kampus atau kafe Gilang tempat Ara bekerja. Rio memutuskan untuk ke kafe Gilang terlebih dahulu. Siapa tahu Ara memang ada di sana.


Di telepon juga percuma, nomer Ara selalu tak bisa nyambung. Rio lupa meminta nomer Ara yang baru. Minta ke Mama Fani pun pasti gak akan di kasih.


Akhirnya memutuskan untuk pergi ke kafe Gilang dulu. Rio menghidupkan mesin mobilnya, lalu tancap gas menuju alamat kafe milik Gilang.


Waktu tempuh kurang lebih tiga puluh lima menitan dari kos Ara. Mobil pun sampai di parkiran, segera Rio turun dari mobil menuju pintu masuk kafe. Berharap Ara ada di kafe.


Sebenarnya masih terlalu pagi, namun kafe milik Gilang sudah buka. Hampir tidak ada pengunjung


Tangan Rio mendorong pintu kaca. Kakinya melangkah mendekati mini bar yang terdapat sosok pelayan wanita di sana tengah sibuk. Wajahnya tertunduk dengan tangan di sana tengah gesitnya membereskan meja.


"Selamat pagi, mau pesan apa? Hanya beberapa yang tersedia karena masih pagi," tawarnya tanpa melihat siapa yang datang.


"Kopi hitam dengan sedikit gula," ucap Rio.


Baru kedua tangan pelayan wanita itu berhenti seolah mengenali suara pengunjung. Otomatis kepalanya mengangkat ke arah sumber suara dengan mata membulat tak percaya.


"Kamu tau darimana aku di sini?" Terkejut Ara.


Yang Ara tahu tidak ada yang tahu Ara kerja di kafe milik Gilang selain Tasya dan Gilang. Kenapa sekarang Rio mendadak ada di depan matanya?


"Harusnya aku tanya kenapa kamu ada di sini?" tanya balik Rio.


Terkesiap Ara mendengar pertanyaan Rio. Ia mendadak tak bisa berpikir jernih untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dirinya belum siap menjelaskannya kembali selain tempo hari di rumah Mama Fani mengkonfrontasi Rio.


"Jadi selama ini kamu suka pulang sampe larut malam karena kerja di sini. Kamu gak minta izin dari aku, aku ini masih...."


Sebelum mengucap kata suami takut di dengar rekan kerja Ara. Buru-buru Ara menarik kerah baju Rio hingga bagian perut Rio terhentak oleh meja.


Tubuh Rio berdesir seketika sebab jarak wajah di antara mereka hampir tak ada ruang. Sekedar menelan saliva, Rio saja kesulitan.


"Sshh.... nanti ada yang denger Rio!" ucap Ara lirih dengan penuh penekanan.


"Pagi guys!" Tiba-tiba ada salah satu karyawan perempuan baru saja masuk, Arin namanya.


Arin tentu saja terkejut melihat pemandangan adegan tak biasa Ara dengan seseorang lelaki yang tak di kenalinya. Kakinya berhenti mendadak, tubuhnya kaku. Matanya membulat saking tak percaya apa yang Arin lihat.


Dirinya merasa sedang memergoki dua sejoli bermesraan dengan kesan sembunyi-sembunyi. Namun akan terasa aneh menganggap itu mesra. Entahlah, saat ini Arin canggung melihat Ara beradegan intim dengan sesosok pria.


Ara yang kepergok menarik kerah kemeja Rio dan baru sadar betapa jarak di antara mereka dekat. Langsung Ara lepaskan.


"Ha... hai selamat pagi!" sapa Arin dengan memberikan senyuman canggung sembari melewati mereka berdua yang tengah salah tingkah.


"Pagi!" jawab Ara berusaha bersikap biasa saja tak seperti ada kejadian apa-apa.


Arin segera masuk pantry dan berpapasan dengan salah satu rekan kerjanya bernama Irfan.


"Eh, tunggu!" ucap Arin.


"Ada apa?" tanya Irfan mendekat.


"Apaan sih?" tanyanya yang sedikit kesal karena memaksanya.


"Itu liat Ara," tunjuknya.


"Iya gue tau, tapi kenapa?" ujarnya merasa tak ada yang aneh antara Ara dengan sesosok pria yang Irfan tebak itu adalah pengunjung.


"Cowok di depannya itu siapa?" keponya.


"Ya tau lah," jawab enteng Irfan.


Sontak membuat Arin berbalik badan menghadap ke arah Irfan yang sedang bersiap ingin membuang sampah.


"Lo tau?!" delik Arin.


"Ih gimana sih, ya dia pengunjung kafe lah. Menurut lo dia siapa?"


Luntur sudah rasa keingintahuan Arin. Jawaban yang di berikan Irfan sangat tidak memuaskan.


"Lah apa pentingnya sih, mending kerja keburu siang ini."


"Eh."


Arin itu menarik kembali lengan Irfan untuk kembali mengintip.


"Ih, apaan sih itu pengunjung. Emang kenapa sih?" kesal Irfan karena masih pagi Arin merecokinya.


"Masa pengunjung, Ara giniin!"


Tiba-tiba Arin memeragakan adegan Ara dengan Rio tadi dengan Irfan persis. Membuat Irfan terkejut tak menyangka.


Bola mata keduanya saling bertatapan terkejut. Arin pun merasa aneh kenapa dirinya harus memeragakan adegan tersebut. Sekarang dirinya jadi salah tingkah karena bertindak impulsif.


Ara masuk ke dalam pantry. Balik dirinya yang terkejut melihat pemandangan dua rekan kerjanya sedang saling tatapan dengan jarak dekat. Sadar Ara masuk, mereka saling menoleh ke arah Ara. Lalu Arin langsung melepaskan kerah baju Irfan.


"Ehem, aku mau ganti baju," ucap Arin dengan salah tingkah seraya melengos pergi.


"Mau buang sampah," tambah Irfan juga melenggang pergi meninggalkan Ara yang masih di ambang pintu.


Ara yang bingung melihat mereka hanya bisa menggendikan


___


Ara menghampiri Rio yang duduk di salah satu meja di sana dengan membawa pesanan yang ia pesan.


Tanpa bicara, Ara meletakkan secangkir kopi milik Rio di meja.


Kepala Rio memang terbuat batu. Rio kekeuh untuk menunggu Ara pulang. Awalnya Ara menolak, namun Rio maksa hingga dirinya mengancam akan berteriak di tempat Ara bekerja bahwa dirinya adalah suami dari Ara.


Ara yang tak mau menimbulkan masalah dan pasti rekan kerjanya akan bertanya banyak hal yang akan sulit Ara jelaskan. Maka tidak ada jalan lain selain menuruti permintaan Rio.


Selain itu, Rio menuntut beberapa pertanyaan dan penjelasan darinya. Namun Ara tak tahu apa yang akan di tanyakan oleh Rio.


"Makasih," ucap Rio kepada Ara serta mengulas senyum manis.


Ara cuek, dirinya pergi begitu saja. Ara tak menyangka kalau Rio tahu Ara bekerja di kafe ini. Entah siapa yang memberitahukan. Pasti bukan Gilang.


Ara sengaja mengambil shift pagi menggantikan salah satu rekan kerjanya yang izin satu hari sebab kemarin. sore harusnya masuk kerja.


Namun karena Rio datang dan mengurung dirinya bersamanya di kos ketambah Mama mertuanya datang. Jadilah Ara bolos kerja dan di tegur habis-habisan manager kafe yang super ngatur dan galak.


———