Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 95


Ara baru saja mandi. kakinya ketika melangkah harus sunyi. Ara masih tidur di kamar Rio. Kamarnya belum selesai di renovasi, entah sampai kapan.


Kalau bisa nafas harus banyak-banyak di tahan, takut membangunkan Rio yang sudah tertidur.


Tiba-tiba saja ponsel Ara berdering dengan nyaring. Ara terkejut, ia lihat Rio masih tidur dengan pulas. Dengan langkah cepat, Ara meraih tasnya yang berada di sofa. Kemudian ia masuk kembali ke kamar mandi lalu menutup pintu rapat.


"Siapa lagi yang nelpon tengah malem gini!!" gerutu Ara sembari mencari-cari ponsel miliknya.


Tertera di layar ponsel bernama Gilang. Geram Ara dengan kebiasaan Gilang yang kadang kala menelpon tidak tahu waktu yang tepat.


"Ni anak, ada apa sih nelpon di jam segini!"


Sebelum Ara mengangkat telpon dari Gilang. Ara berulang kali mengatur nafasnya agar stabil.


"Halo!" ucap Ara ketus.


Gilang yang berada di rumahnya, mendengar jawaban Ara yang tidak bersahabat sedikit menjauhi ponselnya dari telinga. Dahinya mengerut, heran. Ia lihat kembali siapa yang ia telpon, Ara atau Tasya. Siapa tahu ke sasar menelpon Tasya, karena bahasanya yang ketus setiap Gilang menelpon Tasya.


"Bener, ah!" Gilang kembali mendekatkan ponselnya ke telinga. "Galak amat, Ra."


"Iya, ada apa Gilang?" Ara memaksakan bersuara lemah lembut.


"Nah, gitu dong. Kan enak di denger."


"Ya udah, kenapa nelpon ada apa?"


"Aku mau kasih informasi tentang kost-kostan yang kamu kemarin minta cariin." jelas Gilang memulai.


Mata Ara berbinar.


"Seriusan, ada kan?" penasaran Ara.


"Ada, gak jauh pula dari kampus."


"Ih, aku kan mintanya deket dari rumah ku yang sekarang aku tinggali." protes Ara.


"Ah, elah, Ra. Kalau gitu mending gak usah pindah."


Ara manyun mendengar saran Gilang.


"Aku mau pindah, tapi kalau bisa jangan jauh-jauh dari rumah yang aku tumpangi, Lang." tegas Ara.


"Lagian, minta cariin tempat tinggal tapi jangan jauh-jauh dari rumah kamu yang sekarang. Sebenernya tujuan kamu tuh pindah buat apa sih, Ra?" tanya Gilang.


Ara terdiam, gak mungkin kan dirinya bilang kalau dia ini istri sah Rio. Dan rumah tangganya tak berjalan mulus. Gak mungkin juga Ara bilang semuanya kalau dirinya pindah ingin membuat Rio memberikan keputusan tentang apa yang sedang di permasalahkan. Intinya Ara membuat jalan semakin mudah untuk Rio memilih mana jalan yang ingin di lalui.


"Gak enak aja, aku sama Om Rendy. Om Rendy izinin aku tinggal sendiri, dengan syarat akunya harus tinggal gak boleh jauh-jauh dari keluarga mereka." bohong Ara.


"Oh, gitu. Kan enak kalau udah tau alasannya. Ya udah, malam ini aku cari-cari info secepat mungkin. Biar besok kita tinggal survei tempatnya." ucap Gilang.


Percakapan mereka pun berakhir. Ara sedikit cemas tentang keputusannya untuk memilih misah dengan Rio. Apakah keputusannya benar atau salah. Yang jelas Ara harus minta penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang hubungan mereka.


Jelas memang, mereka bersatu karena paksaan orang tua. Wajar jika mereka tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan mereka. Pastinya orang tua mereka akan memahaminya.


Tapi ini tak lagi mudah. Intensitas pergerakan Rio selama ini meyakinkan Ara bahwa Rio menyukai dirinya. Begitu pun Ara kepada Rio. Mereka sering bertengkar, tapi mereka sering menunjukan kemesraan yang bisa di bilang benih-benih asmara di antara mereka.


Jelas Rio menolak Ara minta di ceraikan. Tinggal waktu yang akan mendorong Rio mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Dari Ara sendirilah yang perlahan membuat waktu tersebut.


___


Ara tertidur di ruang tamu. Tidur dengan buku tebal menutupi wajahnya. Di meja tamu sendiri sudah banyak tumpukan buku-buku miliknya.


Ara memaksakan untuk belajar setelah melewati hari panjang. Wajah lelahnya tak bisa di sembunyikan, Ara benar-benar lelah.


Sudah sepuluh menit Rio duduk memandangi wajah Ara. Tangannya menggapai helaian rambut Ara dengan lembut. Berulang kali Rio menghela napas berat. Memandangi wajah ayu Ara.


"Ra, aku kangen banget sama kamu." lirih Rio dengan kedua mata tak lepas menatap Ara.


Sebenarnya, Rio tadi tidak benar-benar tidur. Dirinya sengaja terjaga dari tidurnya hanya untuk menunggu Ara pulang. Setidaknya melihat Ara seperti ini, hati Rio sedikit lega.


Biasanya, ketika Ara pulang di larut malam. Rio akan menghujani banyak pertanyaan. Tapi semenjak kejadian malam itu, Rio banyak diam. Sejujurnya banyak pertanyaan yang muncul di benak Rio.


Apalagi setiap pulang, wajah Ara terlihat lelah. Membuat Rio semakin penasaran.


_____


Matahari telah terbit tinggi. Ara baru saja bangun, hari ini libur. Jadi Ara sengaja bangun lebih lambat dari biasanya. Bangun-bangun seluruh badannya pegal-pegal. Tapi tak secapek kemarin, kemarin dirinya tidur di sofa jadi sakitnya dua kali lipat.


Ara baru sadar, dirinya tidak tidur di sofa melainkan di ranjang. Ara bingung, melihat-lihat ke sekelilingnya. Mencoba mengingat setelah dirinya pulang dari kerja.


"Aku tadi malam, perasaan. Mandi, angkat telpon, terus belajar. Di lantai bawah, kayaknya. Kayaknya juga aku ketiduran di sofa. Tapi kenapa pagi-pagi aku bisa di kasur?!" Ara ingat dengan jelas semalam dirinya tidur di sofa.


"Kok, aku bisa di sini. Apa aku sendiri yang ke sini?" Ara menggaruk kepalanya karena bingung.


"Udah bangun? Mandilah, habis itu sarapan."


Rio baru saja keluar dari kamar mandi, dia habis mandi. Hanya pinggang saja yang berbalut handuk, rambutnya pun basah.


Ara terlonjak kaget, jantungnya berdesir. Mimpi apa semalam, pagi-pagi sudah di suguhkan pemandangan merefresh kan mata. Buru-buru Ada memalingkannya wajahnya ke arah mana saja.


"Nggak, gak. Apa sih, Ra?" batin Ara membuyarkan isi kepalanya sekarang.


"Hei, denger nggak?" Rio menyentuh pundak Ara.


Ara beringsut karena kaget dengan sentuhan Rio.


"Iya, iya aku denger. Ini mau mandi." isi kepala Ara langsung ngebleng. Dirinya pun segera loncat dari ranjang dan pergi ke kamar mandi dengan kilat.


"Aneh!" Rio menggelengkan kepala.


___


Ara sudah rapih, baru saja ia mendapatkan telepon dari Gilang. Katanya ada kost-kostan kosong di dekat daerah ini. Jadi pagi ini Gilang akan menjemputnya untuk pergi melihat-lihat keadaan di sana.


"Bi, Bi Imah!" panggil Ara sesampainya di dapur.


"Bi Imah udah gak kerja lagi di sini." Rio muncul entah darimana membuat Ara terkejut.


"Astaga!" Ara mengelus dadanya yang terasa ngilu. Sudah berapa kali Rio membuat jantungnya hampir copot.


"Bisa nggak sih, kalau dateng bilang-bilang. Bikin jantungan tau!" merengut Ara.


"Iya, maaf. Aku kan cuma bilang bukan mau ngagetin. Makanya pagi-pagi tuh sarapan, biar otak jalan gak stuck." Rio menyumpal sepotong roti ke dalam mulut Ara.


"Mau kemana, kok pagi-pagi udah rapih?" tanya Rio melihat penampilan Ara yang seperti ingin keluar.


Ara menelan roti yang Rio berikan, lalu meminum jus.


"Kenapa Bi Imah gak kerja lagi di sini? Kok gak pamitan sama Ara sih?" tanya Ara.


"Udah sepuh, lagian juga mau fokus ngurusin cucunya. Tadi pagi mau pamitan, cuma gak tega bangunin kamu. Jadi cuma titip salam buat kamu." jelas Rio.


Ara sedih, karena Bi Imah sudah tidak bekerja lagi di sini. Di tambah dirinya tidak sempat memberikan ucapan terkahir kepada Bi Imah yang selama ini baik padanya.


Tin...Tin...


Buyar lamunan Ara mendengar klakson motor seseorang.


"Gilang udah dateng kayaknya." batin Ara.


Rio yang mendengar klakson di depan rumahnya pun ikut penasaran siapa pagi-pagi yang datang.


"Ya udah, aku mau pergi. Assalamualaikum." Ara lari secepat mungkin.


"Eh, mau kemana? Pergi sama siapa, Ra?" tanya Rio yang baru bertanya namun Ara sudah di luar rumah.


"Pergi sama siapa coba?" Rio penasaran, ia pun pergi kedepan untuk melihat siapa yang menjemput Ara.


Baru membuka pintu, suara motor sudah terdengar menjauh. Rio belum sempat melihat Ara pergi dengan siapa.


___