
"Gak mau!"
"Aku tahu kamu mau bolos kuliah kan?" tebak Rio.
"Iya, itu semua gara-gara kamu biangnya!" pekik Ara, ia menyerah, ia bersandar di kursi badan mobil. Tangan terlipat, dengan sengalan nafas karena menahan emosi.
Rio memposisikan tubuhnya menyamping agar bisa leluasa menatap istrinya yang kini tengah marah karenanya.
Ara mencuri-curi pandang dari ujung mata ekornya untuk melihat Rio yang hanya diam saja mematung dengan tatapan tak lolos darinya. Ara di buat gugup jadinya, kenapa Rio terus menerus menatapnya.
Ara tak tahan, jantungnya itu mau copot kalau Rio terus bersikap aneh kepadanya.
"Hei, kenapa diem sih?!" sentak Ara yang kini ikut berhadapan dengan Rio.
Rio tidak memberi respon apa-apa, ia hanya mengerutkan dahinya tapi tetap dengan wajah datarnya.
"Rio!" membulat kedua mata Ara menandakan ia tak suka respon Rio barusan.
Rio tersenyum tipis, ia mengubah posisi duduk yang di haruskan. Terdengar pula tarikan nafas panjang darinya seraya ingin memasang seatbelt miliknya.
"Diem salah, betingkah salah, yang bener harus gimana?" tanya Rio sembari menarik-narik tali sealtbelt yang macet.
"Yang bener, aku mau turun di sini!"
"Gak, aku gak izinin!"
Lolos menarik tali sabuk pengaman dan ingin menanamkannya, namun cepat Ara mencegah. Otomatis Rio menatap Ara, mereka sama-sama kembali saling menatap.
Entah mengapa tatapan Rio seolah menyihir Ara. Tatapannya membuat aliran darah Ara mengalir dengan rasa geli hingga saraf-sarafnya menegang perlahan.
Sampai tak sadar bahwa jarak di antara mereka mengikis perlahan. Tatapan keduanya perlahan sayu. Rio dan Ara bagaikan magnet dan besi. Begitu dekat jarak wajah mereka.
Ara bisa melihat dengan jelas warna netra mata Rio yang cokelat pekat.
Apakah kejadian tadi pagi dini hari akan terulang kembali?
***
"Ara..." teriakan seseorang hampir memecahkan gendang telinga mereka di sekitarnya yang berharga.
Ara tengah berjalan beriringan dengan mahasiswa yang lainnya yang kebetulan pun berjalan searah dengan tujuannya. Ia mendengus kesal karena Tasya, kenapa Tasya harus meneriaki namanya di depan umum?
Akibatnya semua penghuni kampus yang berada di kejadian langsung mencari seseorang bernama Ara. Ya, secara Ara adalah topik panas untuk di konsumsi oleh para penggosip.
"Aduh, Tasya!" Bathinnya kesal.
Flashback 25 menit yang lalu.
Tin!!
Suara klakson pengguna kendaraan sembarangan membuyarkan adegan manis yang akan berlangsung.
Keduanya tersadar, lalu menjauh satu sama lain. Rio mendesis pelan, wajahnya terlanjur kesal. Mungkin pikirnya, aksi manis mereka akan terjadi tadi. Tapi pengendara jalan yang entah mengapa meyembunyikan klakson.
Aura kecanggungan pun terjadi. Ara pasrah ketika Rio membawa mobilnya pergi dari bahu jalan. Dan selama perjalanan mereka saling diam, hingga mobil Rio tiba di depan gerbang kampus.
Alih-alih akan memasuki area kampus, Ara sudah panik terlebih dahulu. Ia mencari sesuatu yang bisa menutupi wajahnya yang terlanjur terkenal mendadak sekampus.
"Ih, kok gak berhenti di sana?!" Ia menunjuk ke arah belakang dan terdengar nada Ara kesal sembari ia menggunakan topi miliknya.
"Bisa, abis aku," lirihnya seraya menundukan kepalanya.
Jantungnya berdegup kencang, panik, dan takut. Walau wajahnya sudah ia tutupi, dan dirinya berada di mobil. Ara merasa was-was, Ara tahu kaca mobil milik Rio itu pasti sedikit terlihat dari luar.
"Kamu, gila ya," geretak Ara dengan bola mata membulat mengarah ke Rio.
"Gak waras," balas Rio.
Ara kesal sekali dengan perlakuan Rio. Apa dirinya lupa tentang masalah kemarin? Apa ia fikir wajahnya ini setebal dan sekeras batu bata jika bertemu mahasiswa di kampus ini?
Ah, iya, hanya Ara yang menanggung rasa malu akibat ulah Rio sendiri. Jadi Rio tak begitu merasa terganganggu oleh guncingan para mahasiswa. Iya, hanya Ara sendiri yang merasakan.
"Ayo turun!" Ajak Rio ketika mobil telah terparkir.
Ara hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan mata elangnya. Toleh kanan kiri, belakang guna memastikan area parkir sepi oleh orang.
Huftt...
Syukurnya sepi.
Walaupun sepi, dirinya masih kesal dengan Rio. Kenapa Rio suka sekali membuat dirinya dalam masalah?
Rio yang sedari tadi bersiap akan turun, ia melihat Ara sibuk menggunakan topi, kacamata hitam dan masker.
"Ra, ngapain sih pake masker, kacamata sama topi segala?"
Yang benar saja Rio mempertanyakan hal sederhana itu padahal tahu alasannya. Andai saja Ara bisa seenaknya menoyor jidat lebar Rio, sudah ia lakukan sekarang.
Ara tidak mau menjawab, ia memilih segera keluar dari mobil Rio. Bisa tamat jika ada orang yang mengetahui Ara keluar dari mobil Rio. Lagian, kenapa juga Rio harus membawa mobilnya masuk ke area kampus di saat ada dirinya. Bukankah dirinya pun sama ingin menutupi statusnya.
"Hei!" panggil Rio.
"Apa lagi?" Sengal Ara yang sudah membuka pintu mobil, waktunya sedang bagus. Karena area parkir sedang sepi orang.
"Semuanya akan baik-baik aja, gak perlu kamu nutupin wajahmu itu."
Ara menoleh ke arah Rio seolah tak paham bualan Rio di pagi hari.
"Serius!" Angguk Rio.
"Aku rasa kamu perlu cuci muka, apanya yang akan baik-baik aja. Satu kampus ngegosipin aku gara-gara kamu. Emang aku manusia tanpa perasaan?!" Ucap Ara lalu ia pun keluar dari mobil.
Flashback End
"Ar..." Belum tuntas Tasya memanggil nama Ara sudah keburu Gilang membekap mulut Tasya.
Tasya melotot ketika mengetahui Gilang lah yang melakukan hal tersebut. Ia pun memaksa Gilang melepas tangan Gilang dari mulutnya.
"Sttt, lu gila atau lupa sih?!" Bisik Gilang yang ikut kesal dengan kelakuan Tasya.
"Lupa ya, Ara kan topik panas di kampus ini. Lo malahan manggil namanya mana kenceng lagi," protes Gilang.
"Hu..." Akhirnya Gilang melepas bekapan dari mulut Tasya.
Cukup tersengal nafas Tasya karena Gilang membekapnya tidak perkiraan sampai hidungnya pun di bekap juga. Lewat dua puluh detik saja, wassalam mungkin.
"Gu.. gue mau mati r... rasanya di bekap LO!" Marah Tasya sembari mengatur nafasnya.