Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 21


Ara terbangun, karena terdengar suara Adzan subuh. Ia ingin bangun tapi terasa ada sesuatu di perutnya. Ia pun merasakan deru nafas di telinganya. Dan melihat sisinya ternyata Rio tidur dengan memegang perutnya. Ara ingin teriak, namun ia bekam mulutnya sendiri. Ia takut nanti bikin heboh satu rumah. Ara mengangkat perlahan jemari-jemari besar Rio dari dalam bajunya.


"Aduh kenapa lagi tangannya masuk ke dalam baju Ara." Gerutu Ara


"Dasar mesum" celetuk Ara.


Rio kaget ketika tangannya di sentuh oleh Ara.


"Ara, masih sakit perutnya ?" Tanya Rio


"Maaf, bangunin ya."


"Gak kok"


"Perut Ara udah mendingan, Ara bangun karena adzan subuh aja." Jelas Ara


"Oh..." Rio ingin tidur kembali


"Eeh, bangun shalat subuh tahu."


"Nanti aja Ara"


"Gak harus sekarang, waktu shalat subuh gak panjang. Ayo buru bangun, ambil wudhu. Ayo...." paksa Ara dengan sembari tarik-tarik tangan Rio.


"Iya.. Iya.." Rio dan Ara bergantian ambil air wudhu dan mereka shalat subuh berjamaah. Ini adalah moment yang terindah bagi Ara. Untuk pertama kalinya Ara shalat diimami oleh Rio suaminya. Begitu khusyuk dan tenang.


***


Rio menuruni anak tangga dengan baju casualnya.


"Pagi semuanya !" Sapa Rio dengan wajah lesu karena Rio kurang tidur.


"Pagi" Jawab Papah Rendy, Mamah Fina, dan Derry yang tengah sarapan.


"Rio istrimu mana ?" Tanya Mamah Fani


"Masih di atas, bentar lagi juga turun." Jawab Rio


***


"Aduh gimana nih masih kelihatan jelas ?" Ara bingung dengan tanda merah yang masih sedikit terlihat di leher putihnya untuk mencoba menutupi dengan rambutnya. Namun masih terlihat, Ara malu jika keluar nanti. Pasti Derry mentertawakannya, jika sudah tertawa pasti mertuanya akan tanya pada Derry. Mungkin saja Derry akan memberi tahu yang sebenarnya.


"Oh malunya !!" Pekik Ara pelan.


Ara masih bingung untuk mencari benda apa yang akan ia kenakan agar tanda merah yang di lehernya tidak terlihat. Ia pun melihat syal di kopernya. Ara pun mengambilnya dan memasangnya di leher jenjangnya. Benar saja kalau tidak terlihat, namun pasti semua orang akan mempertanyakaannya.


^^


"Ara kenapa hari ini memakai syal ?" Tanya Mamah Fani


Ara hanya diam tidak tahu akan menjawab apa.


"Apa kamu sakit Ra.?" Tanya Papah Rendy serius.


Ara masih dalam diamnya.


"Ini kan Jakarta bukan Bandung ? Emang udaranya terasa dingin kah ?" Timpal Rio.


Semua orang tertawa dan Derry yang paling tertawa keras karena Derry tahu alasan Ara memakai syal di lehernya.


^^


Cepat-cepat Ara membuyarkan khayalan bodohnya, dan menarik kembali syal di lehernya. Dengan raut wajah lesu di cerminnya. Ia terduduk lemas dan melihat ke arah laci. Dengan spontan ia menariknya dan melihat kotak p3k. Ia langsung mempunyai ide.


"Nah inikan masuk akal, kalau Derry tertawa biarkan saja. Yang penting aku mempunyai jawaban yang tepat." Semangat Ara yang menaruh plaster luka berwarna coklat di lehernya. Ia pun langsung keluar dengan cepat-cepat.


***


"Pagi semua" Sapa Ara lalu duduk di sebrangnya Derry. Derry tersenyum tipis tapi Ara balas dengan jutek. Derry pun tahu maksud Ara, teringat tadi malam.


"Pagi sayang. Ayo sarapan !" Seru Mamah Fani memberikan sandwich kepada Ara.


"Maaf ya Mah, Ara tidak bisa bantu-bantu menyiapkan sarapan pagi ini."


"Gak apa-apa sayang. Kan masih ada yang membantu Mamah di dapur, ayo dimakan." Mamah Ara tak sengaja melihat plester luka yang di leher Ara.


"Leher Ara kenapa ?" Tanya Mamah Fani dan menunjukan arah plester luka yang di leher Ara.


Membuat orang yang di meja makan melihat ke arah leher Ara yang memang benar ada plester luka.


"Oh ini, luka goresan cakaran kuku Mah ?" Jawab ringan Ara.


Mamah Fani dan Papah Rendy hanya saling pandang dan tersenyum tipis.


"Apa lebar lukanya ?" Tanya Mamah Fani dan melirik ke Rio. Rio hanya mengernyitkan dahi, Rio tak tahu arti tatapan sang Bunda.


"Gak Bunda, cuma memerah saja." Elak Ara.


Derry yang sedari tadi cengengesan, membuat Ara semakin jengkel padanya.


"Itu bukan kena cakaran Bunda. Tapi itu habis dicup...... AKHHHH" Tiba-tiba saja kaki Derry di tendang kuat-kuat oleh Ara. Agar mulutnya tidak ember.


"Sakit Ra" protes Derry dengan mengusap kakinya.


"Derry, panggilnya yang sopan dong sama kakak iparmu" Mamah Fani


"Iya Kakak Ara" ketus Derry.


Ara hanya tersenyum puas dengan pembalasaannya terhadap Derry.


***


Ditengah-tengah sarapan..


"Oh ya Mah. Tadi malam Derry mendengar orang teriak di bawah" Ucap Derry.


Mamah Fani langsung memasang muka bete dan memberhentikan sarapannya.


"Rio yang teriak." Derry langsung memandang arah Rio dengan heran.


"Emang ada apa sampai-sampai Rio teriak ? Papah malah baru tahu" Tanya Papah Rendy.


Rio hanya tersenyum malu, Ara melihat sikap Rio tersenyum puas.


"Ada setan Pah ?" Gamblang Rio


"Hah setann !!" Pekik Papah Harun dan Derry serempak.


"Iya setannya Mamah !" Ketus Mamah Fani.


"Apa Mamah ?" Papah Harun dan Derry kembali terkejut.


"Orang Mamah cantik-cantik gini di bilang setan" Heran Papah Rendy


"Tahu ni Bang."


"Iya malam tadi Mamah tuh ke bawah denger grasah-grusuh di lantai bawah. Nah Mamahkan penasaran, jadi Mamah turun ke bawah buat liat. Ternyata hanya ada Rio yang di dapur. Sekali Mamah samperin dan panggil Rio gak respon, sekali Mamah tepuk pundak Rio, Rio nya nyiram air ke wajah Mamah, dan bilang kalo Mamah ini setan." Jelas kesal Mamah Fani.


Yang mendengar di ruang makan tertawa terbahak-bahak, para ART pun ikut tertawa. Ara lah yang tertawa paling puas, membuat Rio sangat malu sekali.