
Sudah seminggu ini Rio seperti orang gila. Penampilannya yang dulu sangat ia perhatikan. Kini seperti orang tidak terurus. Isi kepalanya kacau, ia seperti tidak ingin hidup.
Setelah kepergian Ara yang entah kemana. Rio berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan lebih parah ketika di tinggal oleh Angel dulu. Padahal Angel lebih lama dengannya, dengan Ara setahun saja tidak ada. Tapi rasanya sepenuh jiwanya hilang. Ia merasa kehilangan, mungkin akan lebih baik Ara di rumah ibu mertuanya atau dimana Rio tahu Ara tinggal di mana. Rio mungkin saja tidak terlihat orang waras seperti sekarang ini.
Masalahnya Ara hilang begitu saja. Bahkan semua orang yang pernah kenal dan dekat dengan Ara ia sudah tanyai. Tak luput mahasiswa di kampus, begitu dengan Tasya dan Gilang pasti orang pertama yang Rio datangi.
"Kalian tahu Ara kemana gak?" tanya Rio mendekat ke arah Tasya dan Gilang yang tengah duduk-duduk di taman.
Datangnya Rio membuat Tasya dan Gilang mendongak menatap Rio heran. Tiba-tiba datang, tanpa basa-basi langsung menanyai Ara dimana.
Jelas Tasya sendiri sampai mengerutkan keningnya kala Rio bertanya.
Keduanya saling memandang. "Iya juga ya, dari semalam gak ada kabar dari Ara. Aku kirim chat pun belum dia bales sampe sekarang," ucap heran Tasya yang baru menyadari Ara hari ini kemana tanpa kabar.
Tasya menatap Gilang, Rio pun sama. Siapa tahu Gilang tahu, karena Tasya sendiri pun tidak akan bertanya jika Rio tidak menanyai keberadaan Ara.
Gilang yang memang tahu dimana Ara tinggal, ia terlihat tak ingin menjawab. Karena sebelumnya Ara meminta untuk tidak di beritahukan ke siapapun dimana ia sekarang. Alasannya ingin menjernihkan pikiran dulu.
"Lo tahu gak? Malah diem bae," Tasya menyenggol lengan Gilang yang hanya menatap kosong ke arah lain.
"Gue gak tahu di mana Ara," geleng Gilang.
Rio menyadari gerak-gerik Gilang yang seperti ada yang ia tutup-tutupi. Bahkan sebelum Ara pergi dari rumah, orang terakhir yang Ara temui adalah Gilang. Rio semakin curiga, pasti Gilang tahu dimana Ara sekarang.
Rio mendekat ke arah Gilang dan langsung menarik kerah baju Gilang hingga membuat Gilang terpaksa berdiri. "Lo, pasti tahu dimana Ara kan!"
Kesabaran Rio seperti hilang begitu saja. Apalagi selama ini ia menahan rasa cemburunya jika Gilang dekat dengan Ara. Rio tak suka wanitanya di sentuh oleh Gilang. Mata Rio menyalak, tangannya semakin mengerat.
"Eh, udah ngapa sih? Kok malah pada berantem," Tasya berusaha melerai ketegangan mereka.
Gilang yang di tatap garang, ia pun lebih menatap garang. Kedua tangannya pun mencengkram kedua tangan Rio yang memegang kuat kerah bajunya.
"Kalau pun gue tahu, emang ada masalah apa?! Hah!!" sentak Gilang.
Kesabaran Rio yang telah habis, menjadi sebuah amarah. Genggamannya semakin kuat, keduanya saling menatap tajam.
"Yang gue tahu, Ara gak pernah deket sama Lo. Terus kenapa lo sekarang seperti sok kenal Ara," kata Gilang semakin membuat cengkraman tangan Rio semakin mengerat.
"Udah, udah, kenapa berantem sih. Siapa tahu Ara lagi gak enak badan di rumahnya, makanya dia gak masuk ke kampus. Begini aja di ributin," Tasya masih saja berusaha memisahkan mereka.
Gilang menyeringai. "Ara udah gak di rumah ia tempati dulu," ucapnya ngejek.
"Hah, apa!" Tasya yang baru saja ingin menelpon Ara ia urungkan setelah mendengar ucapan Gilang.
"Berarti lo tahu di mana Ara, cepet kasih tahu gue Ara di mana?" bentak Rio.
Gilang tertawa, kemudian menatap tajam ke arah Rio. "Sampai kapanpun gue gak akan kasih tahu lo."
Tanpa aba-aba lagi, sebuah bogem mentah mendarat ke arah pipi kiri Gilang hingga Gilang jatuh tersungkur.
Gilang tersenyum menyeringai, ia usap sudut bibirnya yang terasa nyeri. Ujung ibu jarinya terdapat darah segar.
"Lo gak papa Lang?" tanya Tasya khawatir, Gilang hanya menggeleng dan langsung Tasya membantu Gilang berdiri.
"Gue peringatin ya, jangan deket-deket sama Ara lagi. Kalau sempet gue liat lo jalan sama Ara, gue bakal habisi lo, paham!!"
"Apaan sih? Lo gak waras ya. Datang-datang nanya Ara kemana, padahal lo sama Ara gak deket. Terus pake nonjok orang sembarangan, sekarang malah ngancem gak jelas. Gila lo ya!!" sergah Tasya seraya mendorong tubuh Rio.
Rio pun mendekat, dengan tatapan dingin. "Dia yang gila, gak waras, dan gak punya malu ngambil milik orang. Kalian gak tahu Ara siapa, makanya kalian seenaknya berkata."
Tasya terheran,aneh kenapa sikap Rio seperti orang kalang kabut mencari Ara. Yang jelas memang hari ini saja Ara tak masuk setelah ia pamitan pergi ke rumah orang tuanya di Bandung.
Rio hendak pergi. "Lo itu siapa, ngatur-ngatur Ara yang jelas bukan siapa-siapa lo. Semua orang di sini tahu, kalau lo sama Ara gak saling dekat. Jangankan dekat, kenal aja gak. Sok, ngelarang orang tanpa ada kejelasan, waras lo!" ucap Gilang.
Darahnya seperti mendidih sekarang, kedua tangannya mengepal erat kemudian berbalik badan. Semua orang di sekitar yang sedari tadi menyaksikan keributan di antara mereka bertiga pun saling berbisik. Karena mereka tahu, Rio terkenal anti wanita yang mendekati dirinya. Jelas merasa aneh saja, tiba-tiba datang lalu berbicara seolah-olah Ara adalah miliknya.
"Ku rasa dia memang rada-rada," bisik salah satu dari mereka.
"Lucu aja, cowok yang anti wanita tiba-tiba memarahi orang gak jelas malah ngancem gak jelas," kata mereka yang saling berbisik dan menatap sinis ke arah Rio.
"Jangan-jangan dia gak normal, makanya biar nutupin kedok makanya ngomong gak jelas," tertawa mereka.
Rio yang masih mendengar bisikan-bisikan mereka. Dirinya semakin naik pitam. Gilang dan Tasya yang ikut mendengar cemoohan mereka pun saling tertawa.
"Gue suaminya Ara. Kami sudah menikah hampir setahun, puas kalian!" ungkapnya dengan ekspresi dingin sembari menatap ke arah Gilang.
Mereka yang mendengarnya terdiam semua termasuk Gilang dan Tasya. Mencerna perkataan Rio barusan. Yang tadinya saling berbisik, kini terdiam tanpa ada yang bersuara.
Entah niat datang darimana Rio jujur. Rio mengungkapkan hubungannya sendiri bersama Ara yang jelas awalnya ia tentang untuk Ara berhati-hati saat di depan umum. Rio tak ingin hubungan ini terpublikasikan ke orang-orang yang mereka kenal terutama teman-temannya.
Di hati Rio ada kelegaan yang selama ini beban yang terus ia pikul untuk menutupi pernikahannya dan demi untuk tidak orang tahu bahwa dirinya telah menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Bahkan mereka telah di jodohkan semasih mereka dalam kandungan. Konyol memang, tapi inilah kenyataannya.
Memang sudah saatnya semua orang tahu tentang hubungannya dengan Ara. Hubungan yang lebih sekedar teman sekampus, satu jurusan, bahkan sepasang kekasih. Kalau mereka semua sudah tahu, Rio dan Ara tak perlu lagi saling menutupi kenyataan ini. Mereka akan leluasa pergi berdua kemana saja.
Tetapi, tak lama keheningan itu mereka semua tertawa bersamaan. Rio tersentak mendapati sikap semua orang yang menertawai aksi kejujuran dirinya. Termasuk Tasya dan Gilang yang tak kalah menertawai nya bahkan lebih keras dari mereka lainnya.
"Kayaknya memang gangguan jiwa, deh. Bisa-bisanya tanpa malu mengakui kalau dirinya sama Ara menikah. Kan lucu," ucap mereka dengan tertawa terbahak bahak.
Rio semakin tak mengerti. Apa yang ia katakan ada benarnya. Seharusnya Rio lah yang telah membohongi mereka, bukan sebaliknya mereka menertawainya seperti orang bodoh sendiri.
"Buktiin dong, jangan asal ngelantur," ucap dari mereka.
Rio tak tahan mendengar tawa mereka yang seperti menelanjanginya habis-habisan. Ia pun memilih pergi meninggalkan mereka yang masih saja tertawa puas. Seharusnya dirinya yang membodohi mereka bukan sebaliknya.
Rio akan buktikan setelah dirinya bertemu Ara nanti. Ia akan menutup, menyumpal mulut mereka dengan fakta yang ada.
___