
Seperti biasa, Ara pulang hampir jam delapan. Ia begitu sangat lelah, karena hari ini ia kebagian di tempat pantry. Setengah hari ia baku cuci dengan gelas dan piring yang bejibun. Akhirnya ia bisa pulang dengan membayangkan betapa enaknya merebahkan diri ke suatu yang empuk.
Matanya berbinar ke arah sofa, ia segera merebahkan diri ke sofa panjang yang empuk dan lembut itu. Memang ya selera orang kaya dengan orang standar memang berbeda. Sofa saja sudah seperti layaknya kasur.
"Oh, akhirnya bisa rebahan." lirihnya dengan memejamkan matanya.
Baru beberapa menit lelapnya begitu nyenyak. Tiba-tiba di kejutkan oleh seseorang.
"Udah pulang?"
Ara kaget, dan langsung reflek bangun terduduk. Seketika matanya naik beberapa watt dan kantuknya menghilang akibat detak jantungnya berpacu kencang.
"Rio, aku kaget!" protesnya mengetahui ternyata itu Rio.
Ara lega, ia pikir orang lain.
Rio duduk di sofa single, kaki kirinya bertumpu dengan kaki kanannya. Ara melihat, Rio telah berganti baju dengan piyama tidurnya. Ternyata dia sudah pulang terlebih dahulu.
Sorot matanya tidak bersahabat. Entah kesambet apa dia. Perasaan tadi pagi menebar pesonanya yang manis bak gula, malamnya malah menebar dosa. Iya, dosa. Ara jadi sangat kesal melihat wajah tampannya namun memiliki sifat aneh berujung di dalam hatinya menyumpahinya dengan segala sumpahan ala-ala.
"Kamu udah makan?" tanya Ara yang hendak pergi.
Rio hanya menggeleng tanpa berkata.
Lagi-lagi, lagi-lagi, rasanya Ara ingin menempeleng kepalanya siapa tahu memang otaknya geser ke kanan dengan berlebihan saking gemasnya dirinya harus mendengar suara es baloknya. Tapi tahu diri, dia itu suaminya. Dan dirinya juga takut di cap istri durhaka.
"Mau makan apa?" tawar Ara dengan masih menahan rasa kekesalannya seperti biasa.
"Terserah."
Ara mendengkus pelan, rasanya kesabarannya sedang di uji dengan sengaja oleh dia.
"Iya udah, aku mandi dulu baru masak." ucap Ara dan berlalu meninggalkan Si sosok balok es sendiri.
Ara ngedumel dalam hati, dengan langkah kaki sengaja ia hentakan di tangga. Badannya yang sudah lelah, harus di paksakan berkegiatan lagi. Acara Si Bibi pergi, jadi tidak ada yang mengurus keperluan Rio, misal makan dan tehnya. Di tambah Ara harus membersihkan rumah seorang diri.
Ya, mau bagaimana lagi. Bisanya pasrah, kayak sekarang. Ara turun kembali setelah mandi, dirinya sudah mengenakan piyama tidur yang terlihat berbeda dari biasanya.
Biasanya yang ia kenakan piyama tidur sopan ya kadang berlengan panjang, atau pendek, celananya pun tetap panjang. Tapi ini tidak, piyama tidur berwarna merah maroon, hanya seutas tali bertengger di bahu lebarnya, celananya pun hanya di atas lutut.
Mengetahui Ara turun, Rio pun reflek melihat Ara yang tengah menuruni anak tangga dengan sibuk menggelung rambutnya asal. Memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih terpampang begitu saja.
Rio terpana melihat penampilan Ara yang tak biasa. Jantungnya mulai berdetak kencang. Imannya terguncang sekarang. Mana tahan melihat istri sendiri berpenampilan menawan di depan mata. Tak menampik wajah Ara memanglah cantik dan manis. Tubuhnya pun sedang dengan tubuh yang tidak tinggi.
Mata Rio mendelik, jantungnya berdesir. Ia melihat yang jarang ia lihat, mungkin hampir tak melihat. Sesuatu menyembul tercetak ujung gunung kembar di balik kain tipis berbahan satin. Terlihat jelas, walau tertutup dengan baju yang Ara kenakan.
Membuat Rio menelan air liur dengan sulit. Cobaan yang patut di nikmati, pikir Rio. Cobaan yang ia maksud tidak berlangsung lama, karena Ara segera memakai cardigan rajutnya dan langsung menuju dapur untuk langsung masak makan malam.
Ara pun langsung membuka kulkas, untuk melihat ada apa aja persediaan di kulkas. Hampir Ara tak pernah menyambangi dapur yang memang tempat favorit nya dulu di kampung selama di sini. Semenjak kejadian Rio tidak mau makan masakannya.
Mungkin karena terpaksa tidak ada Bi Imah jadi Ara pikir Rio mau makan apa yang ia buat. Dengan cekatan Ara mengambil bahan yang tersisa di dalam kulkas dan langsung mengeksekusinya tanpa hambatan.
30 menit berlalu, selama itu Rio memperhatikan pergerakan Ara yang sibuk berkutat di dapur. Sialnya, Rio melihat paket komplit di diri Ara. Sudah baik, cantik, ibadahnya masih ia lakukan, pintar masak, pandai mengurus rumah, dan satu yang Rio baru sadar , tubuh Ara yang sintal, dan hanya memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Ah, rasanya Ara memanglah wanita kriterianya.
Mata Rio tak lepas dari sosok Ara yang begitu menganggu matanya. Terlihat lihai ketika di dapur, masak saja terlihat cantik. Ara sibuk, saking sibuknya ia membiarkan bahu kirinya terpampang jelas. Rio tidak bisa menahan lama berdiam diri. Ia pun melangkah dengan yakin mendekati Ara yang tengah sibuk memasak.
Melihat Rio datang dan mensejajarkan diri dengan Ara. Ara tersenyum manis, kemudian melanjutkan kesibukannya. Mungkin sedang berhadapan dengan api kompor, dan uap dari masakan menguar kemana-mana. Dahi dan leher Ara bercucuran keringat. Rio menelan liur, melihat sebutir keringat terjun bebas dari leher menuju tempat yang membuat Rio semakin kesulitan mengendalikan dirinya.
Sekali lagi, Ara tersenyum manis. Sepertinya telah selesai, hidangan yang di masak oleh Ara telah berpindah ke piring. Kemudian hidangannya Ara sajikan ke meja ala mini bar. Sembari menata-nata, Ara pun mengajak Rio untuk segera makan.
Rio bergeming, masih menatap berdirinya Ara yang terus memanggil namanya untuk segera makan. Rio tak bisa menahan lebih lama lagi, dia lelaki normal, dan lagi pula sah-sah saja karena Ara sudah menjadi wanita halalnya. Dan salahnya Ara memancing seorang lelaki normal.
Ara baru saja akan menoleh ke arah Rio, karena Rio tidak menyahutnya. Tiba-tiba Rio mendekap tubuh Ara dari belakang Ara. Ara terperanjat.
"Ada apa?" tanya polos Ara.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama, Ra." ucapnya lirih seraya menghirup dalam tekuk Ara.
Inilah rasanya hanya berimajinasi tak ada untungnya. Yup, benar-benar hanya khayalan sialan. Entah mengapa dirinya sampai berimajinasi begitu vulgar dengan Ara. Ia tersadar ketika Ara memanggil namanya.
"Rio, ayo makan!" ajaknya. "Kamu di panggil bukannya nyaut, malah berdiri gak jelas di situ." ujar Ara yang masih belum selesai ia berkutik di dapur.
"Ah, maaf." Rio jadi salah tingkah, betapa ia malu dengan dirinya sendiri bagaimana bisa membayangkan hal yang sulit terjadi di antara mereka.
Rio pun langsung datang, dan duduk. Rio membiarkan Ara mengambil nasi untuknya.
"Rio, Rio, bisa-bisanya berkhayal yang aneh-aneh." kesalnya dalam hati.
"Maaf ya, aku cuma bikin capchay sama goreng ayam. Bahan dapur menipis, Bi Imah kayaknya lupa belanja deh." ujarnya sembari mengambil lauk pauk ke piring Rio.
"Nggak papa."
"Ya udah di makan, aku ke atas ya. Kalau udah selesai kasih tau aja, biar aku yang beresin." pamitnya setelah selesai memasak.
Rio segera menahan Ara, agar tidak pergi.
"Kamu kan belum makan, makan dulu." ungkapnya menuntun Ara untuk duduk di kursi.
Ara bingung, dengan sikap Rio yang menahannya.
"Nggak usah, aku makannya setelah kamu makan." tolak Ara.
"Kenapa gitu?"
"Takutnya kamu nggak nyaman makan ada aku. Nggak papa, aku makannya nanti." Ara beranjak dari duduk. Namun lagi-lagi Rio menahan Ara dan menyuruh Ara kembali duduk.
"Lupakan, mulai besok kita makan semeja." Rio mengambil piring di isikan nasi berserta lauk pauk yang Ara masak barusan.
"Maksudnya?" Ara tak paham, yang Ara paham Rio sebenernya tak suka Ara semeja dengannya. Makanya sedikit bingung mengatakan sebuah kalimat yang memang bukan seperti Rio sesungguhnya.
"Udah makan!" titahnya dan dia sendiri duduk di kursinya dan menyantap masakan Ara dengan lahap.
Ara senang bukan main. Dulu Rio sangat jengkel jika ada masakan Ara di meja makan sampai tidak dia makan. Jangankan di makan, di lihat saja paling sudah muak. Tapi sekarang Ara seperti mimpi, Rio benar-benar mau makan masakan Ara tanpa terpaksa.
____
Selesai menyantap makan malam. Ara membereskan yang di meja dan mencuci peralatan makan mereka berdua. Hati Ara sedang berbunga, senyum yang tak pernah memudar dari wajahnya. Betapa ia senangnya, Rio sedikit menerima dirinya.
"Ara." panggil Rio.
"Hum..." jawab Ara tanpa menoleh ke Rio.
"Aku mau kita memiliki kesepakatan yang di setujui dengan sukarela." ujarnya memulai bicara.
Deg?
Tangan Ara berhenti mengusap piring dengan sabun, matanya menatap lurus dan menerawang jauh pikirannya tentang ucapan Rio. Maksudnya apa?
"Maksud kamu apa, aku nggak paham?" tanya Ara.
"Sederhananya perjanjian pernikahan di antara kita." lanjutnya.
Mata Ara memanas, dan mulai berkaca-kaca. Kegiatannya ia percepat. Telinganya ia pasang lebar-lebar, agar otaknya dapat mencerna dengan baik.
"Perjanjian macam apa?" tanya Ara.
Pikirannya bercampur aduk dengan segala kemungkinan arti perjanjian yang di tawar oleh Rio.
"Untuk enam bulan kedepan, aku mau, aku, kamu, kita mencoba menjadi suami istri yang benar." jelasnya.
Flash air pun Ara hentikan, glove yang ia kenakan ia lepas. Kegiatan mencuci piring pun telah usia. Ia pikir setelah ini, ia akan segera beristirahat dengan tenang dan nyaman. Ternyata, itu mustahil.
🥀𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰🥀