Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 117


Setelah drama perdebatan cinta Rio mempertahankan Ara telah usai. Rio, Derry, dan Mama Fani pun pamit pulang.


Ara berkata pun menyetujui permintaan Rio untuk pulang, namun dengan satu permintaan pula dari Ara. Dirinya meminta waktu untuk memikirkan semuanya, menyiapkan mentalnya terlebih dahulu setelah banyak kejadian yang ia alami.


Walau sejujurnya Ara memang jatuh hati dengan Rio. Akan tetapi luka goresan-goresan kecil dari Rio terlalu banyak di rasakan Ara. Ara perlu pemulihan. Tak begitu mudah menerima Rio kembali.


Mama Fani pun ikut membantu sang anak. Syukur sang menantu mau menerima anaknya kembali. Mama Fani menyetujui permintaan Ara, namun meminta Ara dan Rio memulainya dari sekarang. Tak perlu menunggu satu rumah. Biarkan Rio membuktikan rasa tulus dan perjuangannya mempertahankan rumah tangga mereka.


Ara pun tak mempermasalahkan. Tidak ada salahnya, siapa tahu dengan ini pula Ara akan semakin yakin dengan ketulusan dari Rio.


Dan rupa-rupanya Mama Fani dan Derry tahu kalau ada Rio di kamar kos Ara. Pasalnya mereka berdua melihat mobil Rio terparkir di salah satu halaman warga. Mereka menebak pasti Rio ada di sana.


Makanya mereka saling bersengkongkol untuk memainkan drama untuk menjebak Rio. Ternyata drama yang mereka buat itu berhasil.


Ara pun tak kalah terkejutnya. Berarti selama ini dirinya sudah di pantau oleh Rio.


Sejujurnya kesal dengan Rio, namun Ara tahan karena tak mungkin juga dirinya marah-marah di depan Mama mertuanya apalagi mereka baru saja berbaikan.


Rio yang tahu kekesalan Ara. Buru-buru dirinya meminta maaf. Rio jelaskan kenapa dirinya sampai sebegitunya. Sebab Rio merasa belum pantas menemui Ara setelah apa yang dirinya telah lakukan ke Ara.


"Kalau bukan ide Mama terus enggak di bantu adik kamu. Mana bisa malam ini kamu dapet persetujuan dari Ara," ungkap Mama Fani.


"Aturannya biarin aja Ma. Ara tuh baik banget, mau nerima Bang Rio lagi. Kalau Derry jadi Ara, ogah, males. Nyakitinnya berulang kali, masa mau balikan lagi dengan mudahnya," ucap Derry.


"Mulut lo diem aja deh! Gak usah ikut campur!" sentak Rio kesal mendengar ucapan sang adik dari arah kok belakang mobil.


Kalau dirinya sedang tidak mengemudi, sudah dia ajak berantem adiknya.


"E... eh! Rio udah!" lerai Mama Fani. "Lagian apa yang di omongin adik kamu ada benernya. Ara terlalu baik buat kamu yang udah kamu sakitin berulang kali. Mama juga kalau jadi Ara, udah lama Mama pulang ke rumah orang tua. Gak sanggup punya lelaki modelnya kayak kamu Rio," gidik Mama Fani membayangkan.


"Ih, Mama kok gitu sih sama anaknya sendiri. Dukung Rio, Ma, doain biar Rio langgeng sama Ara. Bukannya ikut-ikutan kayak Derry memposisikan sebagai Ara," kesal Rio.


"Amin!" serentak Mama Fani dan Derry.


Mendengar kekompakan antara mereka membuat Rio semakin kesal. Terdengar di telinganya aminan mereka seakan-akan mengejek. Hal itu membuat Rio semakin semangat membuktikan ke mereka. Bahwa Rio tak selalunya Rio terdahulu, namun akan ada Rio yang berbeda nantinya.


"Mama heran, sifat kamu itu nurun darimana."


"Dari Papa lah," jawabnya sembarang.


"Rio! Kalau ngomong sembarangan," kesal Mama Fani tak menyangka sang anak menjawab begitu gamblang.


"Emang Mama tau tiap jam tiap detik Papa di luar sana. Di kantor, malahan di luar negeri," ucap Rio asal guna menakuti sang Mama.


"Rio! Keterlaluan kamu ngomongnya, Papa kamu itu setia. Gak mungkin macam-macam," yakin sang Mama.


"Mama, apa yang Bang Rio omong ada benernya. Coba Mama cek sesekali Ma, gak ada salahnya," tambah Derry dengan memasang wajah serius.


"Ish, kalian keterlaluan!" Mama membuang wajahnya ke arah jendela mobil, sikap kedua anaknya sukses membuat moodnya turun.


Memang sudah lama tak menjahili kedua orang tuanya. Memang kurang ajar terdengarnya. Namun bagi mereka itu hal yang biasa. Mereka rasa adanya konflik kecil yang berakhir tertawa di hubungan kedua orangtuanya membuat mereka tambah saling harmonis.


__


Malam ini Rio tidur di rumah Mamanya. Rencananya besok ia akan mendatangi arsitek interior untuk mengubah beberapa hal di rumahnya yang akan ia tempati lagi bersama Ara.


Memikirkan hal itu membuat Rio tersenyum sendiri. Hatinya berbunga-bunga bak remaja jatuh hati untuk pertama kalinya.


Ia raih ponselnya hendak mengirim pesan sapaan pada Ara. Ketika sudah mengirim kata sapaan, lagi-lagi gagal. Bukan satu pesan saja, sudah puluhan pesan yang lusa lalu Rio kirim tak pernah sampai. Entah Mengapa dirinya merasa sudah rindu lagi dengan Ara, sekedar ingin mendengar suaranya saja sekejap.


Sungguh aneh memang. Padahal dirinya belum lama bertemu dengan Ara. Tetapi rasa rindunya layaknya sudah menggunung karena tak lama bersua.


"Ah, begini rasanya jatuh hati lagi," lirih Rio tersenyum.


___


Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Rio bergegas turun, menghampiri meja makan untuk sekedar minum air putih.


"Duduk Rio!" perintah Mama Fani.


"Enggak Mah, Rio buru-buru," tolak Rio sembari meraih tangan Mamanya untuk ia cium. "Rio pamit pergi ya, Ma. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," ucap Mama Fani.


Rio melesat pergi menuju parkiran. Mama Fani hanya melongo melihat anaknya pergi terburu-buru.


"Bang Rio mau kemana Mah?" tanya Derry yang baru saja turun dari lantai atas melihat sang kakaknya berlarian keluar.


"Entah itu kayak di kejar setan," balas Mama Fani. "Paling gak sabaran mau ketemu istrinya."


"Udah, mode bucin akut Bang Rio aktif lagi," seloroh Derry.


Mengingat Abangnya itu bucin parah kalau sudah jatuh cinta. Itu sudah jadi rahasia umum di antara pertemanan Rio.


Hal yang Derry ingat. Waktu Angel ngambek karena Rio lupa dengan tanggal anniversary jadian mereka. Angel yang tak mau bertemu dengan Rio. Rio rela menunggu berjam-jam kehujanan di luar pagar rumah Angel. Hanya untuk membujuk Angel agar menyudahi kemarahannya.


Jadi tidak heran orang sekelilingnya jika nanti abangnya sebegitu cintanya dengan Ara akan bersikap tak wajar. Contohnya seperti ini, awalnya gengsi mengakui perasaannya dengan Ara hingga Ara sendiri jengah dengan sikap Rio yang akhirnya memilih menyerah duluan.


Sekarang setelah merasa kehilangan. Untuk sejam saja tak lihat Ara, Rio seperti gelisah akut.


"Mama akan tenang kalau bucinnya Abangmu untuk Ara," balas Mama Fani.


Memang sejak berawal hubungan Rio dengan Angel. Mama Fani tak merestui hubungan mereka. Memang tanpa alasan, firasat dan rasa ketidaknyamanan saja yang Mama Fani rasakan.


Hati Mama Fani begitu lega setelah semuanya terjadi. Rio tetap mempertahankan Ara. Tidak apa-apa semuanya dari awal. Justru itu lebih bagus, agar hubungan mereka menjadi berkualitas karena sama-sama mau membangunnya dari awal.