
"Gimana?" tanya Gilang setelah mereka berada di area parkiran.
Ara memandangi sekelilingnya. Kost-kostan model rusun, berlantai empat, penghuninya khusus cewek, dan yang penting jarak antara rumah Rio tidak terlalu jauh.
Ara manggut-manggut; "Oke gak masalah, aku ambil."
"Kalau gitu, kita langsung ke tempat pemiliknya buat liat isi dalam kamar kost." ajak Gilang.
Ara pun mengangguk, dan membuntuti jalannya Gilang menuju rumah si pemilik kost tersebut.
Setelah melihat keadaan kamar, yang satu ruangan hanya memiliki satu kamar mandi di dalamnya. Dan sudah tersedia satu single ranjang, lemari baju kecil, satu meja, rak, dan kulkas mini di dalam satu ruangan. Ara cukup tertarik, harganya pun oke untuk di kantong Ara.
"Gimana, Mbak mau nempatin nggak. Kalau mau bayar uang muka dulu, langsung deh serah terima kunci. Mau pindah malam ini juga bisa. Karena sisa satu yang kosong, pemilik kemarin baru dua bulan pulang kampung." tawar Si Ibu pemilik kost.
Tanpa pikir panjang Ara langsung menjabat tangan si Ibu yang bernama Ibu Idah.
"Saya ambil, langsung saya bayar untuk tiga bulan sekarang." ucap Ara tanpa ragu.
Ibu Idah tersenyum senang, mendapatkan kamar kostnya tidak lagi kosong. Setelah urusan bayar membayar selesai, dan kunci sudah di pegang oleh Ara. Gilang dan Ara langsung mampir ke makanan cepat saji.
Ara yang ingin membalas budi kebaikan Gilang karena hari ini mau repot-repot mencarikan tempat tinggal untuknya. Jadi Ara ingin mentraktir Gilang, kebetulan juga sudah waktunya makan siang.
"Kamu yakin mau makan di sini, nggak ke restoran aja. Uang ku cukup kok buat ngisi perut kamu, Lang." tanya Ara setelah turun dari motor.
"Yakin, lidahku lagi pengen makan fast food aja." yakin Gilang.
"Ya udah, jangan nyesel ya."
Gilang tersenyum sembari mengacak rambut Ara dan langsung berlarian kecil masuk ke dalam.
"Gilang!" Ara manyun mendapati rambutnya berantakan karena ulah Gilang yang jail.
Dari kejauhan, di sebrang jalan. Ada sepasang mata elang tengah menyoroti gerak gerik Ara dan Gilang, yaitu Rio. Wajahnya merah padam, kedua tangannya yang memegang erat kendali stir.
Rio yang memang sengaja mencari Ara pun kebenaran melihat Ara bersama Gilang di restoran cepat saji. Rio cemburu melihat kedekatan Gilang dan Ara semakin dekat. Panas hatinya melihat Gilang memperlakukan Ara begitu manis.
Tak bisa menahan lebih lama, Rio memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kemana ia akan pergi dengan perasaan kacau.
____
"Sial!" umpat Rio yang datang-datang langsung menendang meja di depan Alex dan Aris.
"Eh, tenang Bos. Datang-datang kok marah-marah." ucap Aris mencoba menenangkan Rio yang tengah terbakar oleh api cemburu.
Alex yang tadi terkejut, kini hanya tersenyum tipis melihat Rio dengan wajah merah padam. Baru kali ini dirinya melihat Rio seperti marah besar.
"Duduk, duduk, tenangin diri." Aris menenangkan Rio yang tengah kalang kabut ini. "Nih minum." sodor Aris segelas wine untuk Rio.
Rio menatap tajam ke arah Aris ketika melihat segelas wine di berikan kepadanya. Aris membalas dengan senyum, lalu memberikan isyarat untuk mempersilahkan Rio meminumnya.
Rio bukanlah lelaki yang sempurna. Dirinya pun peminum tapi dalam batas wajar. Aris memberikan wine padanya, Rio pun tak menolak. Ia sahut segelas wine lalu menenggaknya sampai habis.
Alex sahabat perjuangan Rio yang memiliki tipe ceplas-ceplos, hanya menatap sinis ke arah Rio. Sedangkan Aris sahabat namun berperangkap sebagai asisten Rio. Dia lebih berhati-hati dalam melakukan hal ataupun dalam berkata-kata.
"Angel lagi?" tanya Alex berusaha menebak.
Alex melihat Rio seperti ini sebenarnya bukan pertama kali. Tapi kali ini lebih dari yang lalu. Kalau yang lalu pastilah Rio risau dengan hubungannya bersama Angel yang selalu tak memiliki jalan yang mulus.
"Gue denger-denger, Angel ada di sini. Gimana nasib istri Lo? Pasti beban banget kan." sindir Alex.
Mendengar kata 'istri', Rio menatap tajam ke arah Alex yang santai dan bermesraan dengan kedua wanita pekerja di bar yang mengapit dirinya.
Tadi Rio yang meminta bertemu dengan mereka di tempat biasa yaitu di sebuah bar ternama di Jakarta. Tempat tongkrongan mereka di masa SMA. Kebetulan memang mereka sekarang jarang kumpul karena kesibukan masing-masing.
Alex berbeda dengan Rio dan Aris. Mereka peminum, kadang kala merokok, tapi tidak pernah memakai jasa wanita di bar. Alex memang doyan bergonta-ganti pasangan.
"Iya, Angel ada di sini. Tapi bukan karena dia." jawab Rio.
Alex menatap Rio yang masih memasang wajah gusar. Tangan Alex tak bisa diam, ia senang bermain-main dengan rambut ikal salah satu dari wanitanya.
"Istri gue." jawab Rio seraya menagacak rambutnya frustasi.
Mereka berdua melongo terheran-heran. Apa yang di lakukan istrinya selain Angel membuat Rio begitu merasa tak tenang.
"Lho, istri Lo kenapa emangnya?" tanya Alex tambah penasaran.
Kepala Rio serasa mau pecah, ia menyandarkan diri ke badan sofa dengan tangan memijat pelipisnya. Rio sangat stres akhir-akhir ini. Masalahnya bercabang, ia bingung harus menyelesaikan yang mana dulu.
"Istri gue... istri gue minta cerai." jawab Rio pelan dengan nada keputus asaan.
Kejadian ini kedua kalinya terjadi. Yang pertama dulu dengan Angel. Sewaktu Angel minta menyudahi hubungan mereka karena ayahnya di pindah tugaskan ke Kalimantan. Rio menolak, namun Angel kukuh ingin menyudahinya sebab nantinya hubungan mereka tidak jelas karena hubungan di jarak jauh. Rio bisa, tapi Angel yang tidak bisa.
Sama persis dengan yang sekarang. Mungkin bedanya Rio terlihat lebih bingung harus berbuat apa.
Alex dan Aris saling memandang. Kaget, kenapa urusan percintaan Rio tidak berjalan mulus. Tapi,
"Eh, bukannya dulu elo yang gak mau nikah sama Ara. Bagus dong kalau dia yang minta cerai, elo gak perlu repot-repot bilang ke orang tua elo maupun orang tua dia. Clear kan masalahnya." ucap Alex.
"Tapi dia yang minta aku mutusin cerai apa nggaknya."
Mengerut dahi Alex.
"Aneh, kok lo jadi bingung. Tinggal cerai aja, langsung talak tiga." ujar Alex
"Iya, kenapa Bos jadi bingung. Yang ada kita-kita ini yang bingung. Masalahnya dimananya?" tambah Aris.
Rio mengembuskan nafas panjang, ia pejamkan kedua matanya sesaat.
"Masalahnya gue gak mau cerai sama dia. Tapi gue bingung ngomongnya gimana."
Jelas ada rasa gengsi untuk berkata tidak. Dirinya memang tidak berkomitmen dalam hubungannya dengan Ara maupun Angel. Semuanya runyam karena dirinya sendiri.
"Ya, tinggal bilang...." terjeda ucapan Alex.
"Gue gak bisa, gue sebenarnya udah bilang gak setuju. Tapi Ara yang minta penjelasan." tersekat ucapan Rio, ingatannya kembali di lusa lalu.
"Salah gue di awal, gue pikir karena memutuskan buat surat kontrak hubungan kita, kita bakal selangkah lebih baik. Nyatanya Ara semakin ngasih jarak di antara kita. Dia 'ngejauhin' gue," lirih Rio menyesal.
Alex tak habis pikir dengan pikiran dangkal Rio dalam suatu hubungan cinta. Dirinya saja marah mendengarnya apalagi Ara sendiri.
"Wah, hilang akal." geleng Alex tak menyangka.
"Dia marah karena gue nggak kasih kepastian yang jelas buat dia, antara dia sama Angel. Sekarang dia jalan sama yang lain. Gue harus gimana, gue bingung." jelas Rio.
"Sakit!" ungkap Alex.
"Gue liat Ara tadi jalan sama temen kampusnya. Gue gak suka, gue marah, gue gak terima. Kenapa banyaknya cowok di dunia ini, harus dia." desis Rio.
"Emang elo nya yang sakit. Dimana-mana cewek itu minta kepastian. Gila, elo tuh udah cinta sama Ara, Rio. Kenapa juga elo pake cara bodoh, pake surat kontrak. Itu istri elo manusia bukan benda atau barang."
Rio semakin menunduk mendengar sebuah kata bahwa dirinya cinta dengan Ara.
"Iya, gue akui, gue cinta, sayang sama Ara. Bodohnya gue baru sadar kemarin-marin. Gue pikir gue cuma suka, suka sesaat. Nggak nyangka rasa suka gue berubah jadi cinta. Sekarang gue nyesel, tindakan gue kemarin memang gak bisa di maafin." ungkap Rio tulus.
Rasa kesal dan kekecewaannya terhadap dirinya sendiri begitu mengoyak batinnya.
"Kayaknya, istri Bos emang udah cinta. Makanya dia marah waktu Bos buat surat kayak gitu. Mana ada sih cewek yang mau perasaannya di permainkan. Seenggaknya Bos itu menghargai cinta istrinya Bos terlebih kalau memang Bos gak cinta sama istri. Lagian istri Bos udah berbaik hati kasih kesempatan. Kesempatan buat Bos memperbaiki keadaan sebelum terlambat. Jangan menyerah dulu." ujar Aris.
"Betul kata Aris, Ara kayaknya memang udah cinta. Sekarang elo cinta sama Ara, ya udah apa yang elo tunggu lagi. Dan kalau elo ngerasa gak ada hubungan apapun sama Angel, lebih baik elo jauh-jauh sama dia." pesan Alex.
Rio termenung setelah mendapatkan pencerahan dari kedua sahabatnya itu.
"Ra, kayaknya sekarang aku yang harus berjuang memperbaiki semuanya." batin Rio meyakini dirinya.
___