
"Ara sudah menyiapkan baju di atas ranjang tempat tidur. Kenapa Rio memakai yang lain ?" Tanya Ara yang kini menatap lekat ke arah Rio.
"Aku tidak suka seleramu." Ketus Rio dan langsung pergi ke arah mobilnya.
Ara pun hanya melihat melesatnya mobil Rio dari halaman rumah.
"Huftt, sia-sia pagi hari ini." Kesal Ara karena sudah lelah menyiapkan segalanya. Namun tidak di hargai sama sekali oleh Rio.
***
Entah salah Ara apa di mata Rio. Awal emang sifat Rio dingin kepadanya, dan saat di rumah orang tuanya pun sifat dinginnya terlihat mencair. Tapi ketika sudah tidak serumah. Keduanya seperti hidup di dimensi lain. Seperti mempunyai kehidupan masing-masing.
***
Seperti biasa aktivitas Ara di pagi hari sama halnya kemarin. Kali ini Ara tak menyerah untuk memperlihatkan kualitasnya sebagai istri. Ia kembali masuk kamar Rio di saat Rio tengah mandi. Perlahan ia melangkah ke arah lemari pakaian Rio. Dengan menaikan alisnya, melihat sederet kemeja dan jas yang tersusun rapih di almari. Bola matanya ia gerakan ke sana kemari. Meneliti setiap kemeja dan jas Rio.
"Hmm, kali ini pasti dia akan pakai" Lirih Ara dengan percaya diri.
***
"Bi udah selesai ?" Tanya Ara yang sudah di dapur untuk membantu menyiapkan sarapan.
"Sudah Non" Senyum Bi Imah.
"BERHENTI" Nada tinggi Ara.
Rio yang akan baru saja melewati pintu pun langsung berhenti tanpa berbalik badan. Ara pun dengan cepat-cepat berjalan mendekati Rio. Dan kini tepat di hadapan Rio. Dengan wajah amarahnya, dengan nafas yang menderu.
"Kamu tuh gak bisa apa menghargai perasaan orang" kesal Ara dan bola matanya melihat detail seluruh tubuh Rio dengan seksama.
"Dan.. Dan kenapa kamu gak pakai baju yang udah aku siapin di ranjang." Jari tunjuk Ara menunjuk-nujuk ke wajah Rio dengan amarah.
Rio hanya bersikap tenang dan dengan sifat dinginnya.
"Mulai sekarang gak ada yang boleh orang satu pun masuk ke kamar ku tanpa izin , menyentuh barang-barangku dan gak perlu menyibukkan diri setiap pagi. Karena percuma, aku gak akan menyentuh apapun hal dari mu." Peringat Rio, ia pun melangkah pergi melewati Ara. Ara yang sedang dalam emosi, seketika lemas terkulai. Ia harap apa yang di ucapkan Rio adalah sebuah mimpi buruk. Berharap Ara bangun segera dari tidurnya yang panjang.
"Ingat itu!" Ancam Rio dan pergi melenggang meninggalkan Ara yang hanya diam mendengar peringatan Rio.
Hatinya sakit tersayat-sayat, apa yang dia lakukan dari kemarin adalah sampah buat Rio.
"Gak guna." Marah Ara dengan wajah kesalnya.
"Aku janji aku gak akan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan mu. Aku akan menjauhi itu, karena kamu sendiri yang meminta. Kalaupun aku dosa karena lalai dari tanggung jawabku, kamu yang haru bertanggung jawab nanti" Gerutu Ara dengan nafas yang tersenggal-senggal.