Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 56


"Masuk, silahkan masuk!" Tasya mengizinkan tamunya untuk masuk ke dalam kos miliknya.


Tamunya tak lain adalah Gilang dan Rosa.


"Makasih Sya." Gilang pun masuk dengan di ikuti Rosa.


Ara tersenyum kepada dua orang tersebut. Terutama Rosa, Rosa rupanya ramah dan memiliki sifat lembut.


"Rosa kenalin ini temen satu jurusan sama aku di kampus namanya Ara. Ara ini Rosa temen baik ku." Tasya memperkenalkan mereka.


"Hai, salam kenal aku Ara." Ara menyapa Rosa.


Ternyata Rosa berparas cantik, tubuhnya sangat bagus, dan kulitnya putih. Baik, dan ramah juga.


Rosa menerima jabatan tangan Ara dengan tersenyum pada Ara.


"Hai, aku Rosa, senang bisa kenal dengan mu."


"Udah, kenalannya nanti kita lanjut lagi. Kakak ku udah masak banyak hari ini. Ayo ke meja makan." Ajak Tasya.


"Wah ngerepotin nih!?" Ujar Gilang.


"Halah, sok baik lu." Judes Tasya.


"Basa-basi." Balas Gilang.


Semuanya duduk di kursi masing-masing.


"Ra kenalin ini Kakak ku namanya Henry. Kak ini Ara yang biasa aku ceritakan" Tasya memperkenalkan kakak lelakinya kepada Ara. Karena hanya Ara yang tidak tahu.


Ara memberi angguk hormat kepada Henry dan mengulas senyum lebar. Pastinya di sambut baik oleh Henry. Sedikitnya kisah Ara, Henry pasti sudah tahu. Segala hal Tasya pasti akan bercerita tentang kesehariannya tak luput tentang Ara.


"Tasya banyak cerita tentang kamu Ra, ternyata memang anaknya cantik, dan baik." Puji Henry, Ara menjadi malu mendengar hal itu.


"Kakak terlalu berlebihan." Jawab Ara.


"Gak lah, ayo dimakan, hari ini Kakak sengaja banyak membuat lauk enak karena Tasya bilang bakal ada yang datang. Jangan malu-malu." Tawar Henry kepada semuanya.


"Kak Henry memang jago masak, aku gak bisa lupa rasa yang kakak masak." Puji Gilang.


"Ah lu apa pun masuk, kecuali kayu sama batu." Ketus Tasya.


"Biarin." Gilang menjulurkan lidahnya meledek balik Tasya.


"Kalian gak dimana-mana ribut mulu. Capek gue dengernya. Ntar jodoh baru tau rasa." Imbuh Rosa.


Gilang dan Tasya saling membuang muka, "Amit-amit." Kompak mereka berdua.


Selain mereka menahan tawa akibat sikap mereka berdua.


"Fix lu besok jodoh! " Seru Rosa seraya tertawa di ikuti Ara dan Henry.


"Ih gua sih ogah, gue dah punya tunangan. Kalau belum gua juga milih-milih kali." Tak terima Gilang.


"Ih, apalagi gua, Najis! Kalau di dunia ini cuma ada satu lelaki yaitu elo. Gua milih jadi perawan tua ketimbang nikah sama elo. Hiii... " Gidik Tasya.


Ara tertawa melihat keributan kecil mereka. Memang benar Gilang dan Tasya selalu tak pernah absen untuk tidak berdebat masalah sepele jika bertemu. Padahal mereka bersahabat lama. Tapi jika bertemu saling melepar kata-kata pedas.


"Elo udah berapa lama tinggal di sini? Kata Gilang elo dari Bandung." Ucap Rosa tertuju Ara.


"Hah! Aku?" Ara sedikit terkejut karena Rosa tiba-tiba mengajak bicara. Rosa mengangguk dan tersenyum.


Sebelum menjawab pertanyaan Rosa. Ara terlebih dahulu meminum air di dekatnya. Sedikit terkejut padahal pertanyaan wajar. Rosa bertanya demikian wajah Rio membayang begitu saja.


"Belum lama, iya aku tinggal sama saudara yang kebetulan tinggal di sini." Jawab Ara.


"Oh." Rosa mengangguk mengerti.


"Udah pernah ke Jakarta sebelumnya? " Tanya Henry.


Ara dengan cepat menggelengkan kepala di saat Henry melontarkan pertanyaan tersebut.


"Oh."


"Ara cuma tahu jalan ke kampus, cafe Gilang, dan ke sini baru pertama kali." Nyengir Ara.


"Wah gak asyik dong belum ke tempat-tempat bagus di sini." Ujar Rosa.


"Gak ada yang ngajak."


"Kalau ada waktu luang deh kita pergi bareng-bareng berempat. Kita keliling kota Jakarta dan nongkrong di tempat biasa kita nongkrong. Ajak Ara pastinya." Ucap Gilang.


"Hm, ide bagus tuh. Sekalian merayakan anggota kita tambah satu orang." Timpal Rosa.


"Eh Sya, siapa yang ngajak elu." Tasya menatap heran pada Gilang.


"Lah barusan elu ngajak gue. Tuh berempat kalau salah satunya bukan gue siapa?"


"Setan!" Jawab Gilang santai.


Tasya sudah menarik nafas dalam-dalam, menatap tajam ke arah Gilang. Ia pegang erat garpu dan sendoknya.


"Udahlah gue jadi setannya aja, gak pa-pa, ridho gua." Kesel Tasya.


Satu meja tertawa lepas atas menyerahnya Tasya. Yang paling puas adalah Gilang. Seumur berteman dengan Tasya, mereka berdebat saling tidak ada yang mengalah. Sekarang ibarat rekor untuk Gilang bisa mengalahkan Tasya.


"Puas lu semua. Tertawalah sampai meninggal." Gerutu Tasya, ia melanjutkan makannya dengan lahap.


***


Seharian ini di rumah Tasya. Mereka bertiga, Ara, Gilang, dan Rosa menghabiskan waktu weekend di rumah Tasya dengan bersenang-senang. Bermain monopoli, main PS, karaoke dan masih banyak lainnya. Untungnya rumah Tasya kedap suara, jadi bebas untuk melakuan apapun tanpa harus mengkhawatirkan tetangga terganggu.


Kebersamaan mereka di menghabiskan berjam-jam sampai tak terasa hari mulai gelap. Kebetulan Henry bekerja di rumah sakit, iya dia dokter spesialis jantung. Siang tadi ia pamit karena buru-buru terdapat panggilan mendadak dari pihak rumah sakit ada pasien yang harus di segerakan tindakan operasi. Jadi dirinya memohon maaf tidak bisa menemani teman Tasya.


Acara terakhir mereka adalah karaoke. Giliran Gilang yang bernyanyi. Ara duduk di antara mereka dan hanya menikmati kesenangan mereka. Tenyata suara Gilang bagus juga, enak di dengar. Ara sampai baru menyadari ponsel yang berada di sisinya tengah bergetar. Ara tersadar, dan langsung melihat siapa yang menelfon. Ara mengerutkan dahinya, ia pun pergi ke kamar mandi agar tidak terganggu suara musik yang sedikit kencang.


Ara masuk, dan langsung menutup rapat pintu kamar mandi. Jemarinya langsung menggeser panggilan terjawab.


"Hallo!"


"Ara, aku telfon, sms gak kamu respon. Kamu Tuh sengaja ya hindarin aku. Balik sekarang! Aku tunggu di tempat tadi." Ara menghela nafas panjang, tiba-tiba Rio marah-marah.


Ara pun langsung mengecek pesan dan panggilan tidak terjawab. Ara terkejut memang ada beberapa pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Rio semua.


"Maaf aku gak denger, iya ini aku pulang. Tunggu sebentar, aku pamitan sama yang lain." Ara mencebik, bukan karena ia di suruh pulang tapi Rio yang tiba-tiba marah kepadanya. Tanpa basa-basi Ara memutuskan panggilan tersebut.


"Dasar manusia es, gak punya perasaan, buta hati, gak jelas, egois, ****!" Ara menggerutu di layar ponselnya. Mengutuk sikap Rio di mata Ara.


Ara memutar bola mata jengah, terus mengatur nafasnya yang sudah mulai emosi. Akhirnya Ara keluar dari kamar mandi dan ikut gabung lagi dengan mereka.


Bukan ikut gabung lagi, Ara mengambil tas ransel mini nya. Gilang yang melihat itu langsung berhenti menyanyi, di susul Tasya memberhentikan suara musik. Mereka semua menatap Ara.


"Mau pulang elo?" Tanya Rosa.


Ara mengangguk pelan dengan wajah lesunya, sembari memakai tasnya.


"Iya, sorry ya aku balik dulu. Kalian lanjut aja. Aku pamit dulu."


" Kamu bali sama siapa? Aku anter ya." Tawar Gilang yang sudah berdiri, karena tahu Ara tidak tahu jalan pulang.


"Eh, gak usah." Tolak cepat Ara.


"Lah kenapa? " Tanya Tasya.


"Aku udah di jemput sama saudara aku. Dia udah di depan nunggu aku."


"Yah, saudara kamu gak asik banget sih. Gak pernah ngalamin masa muda ya. Nanggung tahu baru puncaknya." Kecewa Tasya.


"Sorry!" Sesal Ara, bhatin Ara sudah kesal sekali. Rio memang merusak segalanya.


"Udahlah, udah malem juga. Kita ikut balik aja Lang, udah jam berapa juga." Ujar Rosa pun ikut pulang.


"Oke deh, besok ketemu lagi kan bisa Sya. Besok lu ada jam pelajaran kan." Setuju Gilang.


"Ada sih, ya udah deh. "


"Besok masih bisa ketemu ini. Ya udah kita pamit balik ya, salam buat Kak Henry." Ucap Rosa.


"Iya."


" Aku juga pamit ya Sya. Makasih buat hari ini." Ara memberi pelukan perpisahan di susul oleh Rosa.


"Oke, oke. Hati-hati ya di jalan." Tasya pun mengantar mereka sampai di pintu.


Ara, Rosa, dan Gilang pun saling berpamitan. Gilang akan mengantar Rosa menggunakan motor miliknya. Dan sementara Ara, dia berjalan seperti tidak ada tenaga. Berjalan mendekati mobil Rio yang sudah stand by di sana.


***


Jangan lupa Like, comment, and Vote guys. itu bentuk dukungan buat author, insha allah author bakal rajin update. Makasih yang sudah like, comment, dan vote-nya. Thanks, see you next episode 🔥🔥