Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 89


"Kok berhenti di sini? Kan bentar lagi nyampe Ra." heran Gilang yang meminta Ara untuk berhenti sebelum memasuki kawasan komplek rumahnya.


"Em, aku mau beli sesuatu dulu di minimarket itu." tunjuk mini market di sebrang sana sembari memberikan helm ke Gilang.


"Oh, ya udah nanti sekalian aku anter masuk ke dalam komplek." ujar Gilang.


Ara menggeleng cepat, "nggak usah, nggak usah. Udah deket ini. Kamu pulang aja. Makasih ya." Ara mendorong-dorong lengan Gilang untuk segera cepar pergi.


"Lho, mana bisa gitu. Aku yang nawarin kamu pulang, kudu sampe depan rumah lah." protes Gilang.


Ara ingin sekali menepuk jidatnya, ia lupa siapa yang di depannya ini. Dia Gilang pria tangguh.


"Gilang, nggak usah. Aku pulang sendiri aja, sampe sini pun nggak papa." ucap Ara.


"Kan nanggung Ra."


"Em, kebeneran aku lagi program diet. Jadi setidaknya aku ada olahraga. Jadi aku lari dari sini sampe rumah buat bakar kalori di badan aku. Kamu liat aku sekarang gendutan kan." Alesan Ara, padahal ia tadi siang makan habis dua hotdog. Tapi kalau tidak begini, akan panjang urusannya nanti kalau Rio tahu dirinya pulang bersama Gilang. Bersama Derry saja dia tidak suka, apalagi ini.


Ara kehabisan akal jika Gilang tidak mau memahaminya. Ara pasrah saja.


Gilang memperhatikan Ara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Iya sih, kamu gendutan sekarang." ujarnya tanpa dosa.


Ara tertegun mendapati Gilang berkata demikian. Rasanya ingin menjambak rambutnya, namun ia tahan. Ara menahan kekesalannya dengan menggigit bibir bawahnya dengan mengulas senyum getir kepada Gilang. Gimana pun Ara duluan yang berkata.


"Okelah, aku pulang dulu ya. Selamat berolaharga!" ujarnya lalu menancap gas memacu motornya melesat meninggalkan Ara di pinggir jalan.


"Mulut Gilang pedes juga, pantesan Tasya gak akur." gumamnya kesal dan Ara pun berlari.


***


Ara masuk ke pekarangan rumah Rio. Ia ngos-ngosan karena Ara benar-benar lari. Sakit hati juga dengan ucapan Gilang, makanya ia nekat lari.


Ara menenangkan dirinya seusai berlari, ia menatap pintu masuk dengan dada bergemuruh. Ara tak tahu Rio akan memberi sikap seperti apa. Mungkin bisa jadi tersenyum, tapi dia bukanlah tipe lelaki seperti itu. Mustahil untuk Ara, pastinya ia akan habis-habisan di ceramahi karena ulahnya terbilang mencari masalah.


"Ah, bodo amatlah. Mau dia marah atau apa. Siapa tahu setelah dia marah, terus jatuhin talak ke aku. Mana kita tau, aku bisa mudah lepas darinya tanpa harus susah payah." ucapnya dalam hati.


Ara melangkah mendekati ambang pintu. Tangannya sudah akan menekan bel.


Ting Tong


Ara takut sekali, bahkan jemarinya panas dingin. Berulang kali menghembuskan nafas untuk sedikit memberikan ketenangan agar tidak terlalu gugup ketika bertemu Rio nanti.


"Iya sebentar." terdengar suara Bi Imah dari dalam.


Ara sedikit bernafas lega, Bi Imah rupanya yang akan membuka pintu. Ia pun sangat merindukan Bi Imah.


"Ya ampun Neng!" pekiknya melihat Ara yang datang, Bi Imah pun langsung berhambur memeluk Ara dengan erat.


Ara tersenyum, dan membalas pelukan Bi Imah. "Assalamualaikum." salam Ara.


"Wa'alaikumsalam. Gimana kabar Neng Ara? Sehatkan?" tanya Bi Imah.


"Sehat Bi, Bibi gimana kabarnya?" tanya balik Ara.


"Sehat, Alhamdulillah. Ayo masuk Neng!" ajak Bi Imah.


Ara masih mematung di ambang pintu, dengan pandangan mencari sesuatu di dalamnya.


"Eh, kenapa masih di situ?" tanya Bi Imah.


"Em, anu, Rio ada?" ragu Ara dan sedikit takut.


"Oh, Tuan Rio belum pulang Neng. Selama Neng Ara nggak ada di rumah, Tuan Rio lembur terus." jawab Bi Imah.


Ara bernafas lega. Ia pun melangkah ringan masuk. Setidaknya dirinya bisa hidup selama beberapa jam kedepan kalau Rio pulang nanti.


Ara semakin merasa bersalah, karena keegoannya membuat semua orang khawatir padanya. Ara hanya tersenyum tipis mendengar Bi Imah mulai bicara tentang banyak hal apa yang terjadi selama dirinya tidak ada.


"Untung, Tuan Rio menelfon ibu mertuanya Neng kemarin." ungkap Bi Imah.


"Apa Bi?!" kaget Ara. Mertua? Maksudnya Bunda? "Maksudnya Bunda Ara, Bi?!" tanya Ara memastikan.


"Iya." angguk Bi Imah.


Ara lemas seketika, jadi Bunda udah tahu kalau dia telah berbohong pada beliau mengatakan Rio tidak bisa datang bersamanya karena Rio sibuk. Padahal aslinya memang Ara tidak ingin pergi dengan Rio, parahnya Ara tidak meminta izin pada Rio yang berstatus suaminya kini. Hal bodoh yang membuat semuanya semakin runyam.


Pantas saja Bunda bicara hal itu kemarin. Ara merasa bersalah pada semua orang jadinya. Bunda, Mamah, Papah, Bi imah, terkecuali Rio. Ara merasa malu juga kalau sudah begini.


"Neng udah makan belum?" tanya Bi Imah yang membuyarkan lamunan Ara.


"Eh, belum Bi!" reflek menggelengkan kepala.


Perasaannya sekarang bercampur aduk. Dia tidak bisa mengatasi hal ini darimana dulu.


"Ya udah, makan dulu ya. Bibi siapin dulu."


"Nggak usah Bi, Ara mandi dulu. Ara belum lapar." ucap Ara dan beranjak dari tempat duduk meja makan dan berjalan menaiki anak tangga dengan tubuh yang sudah tidak ada energi lagi.


"Oh, nanti kalau lapar bilang ke Bibi ya!" teriak Bi Imah.


"Iya Bi." balas Ara lesu.


***


Setelah mandi, seharusnya terlihat segar. Ara tidak, ia melihat wajah kusutnya bahkan setelah mandi dari cermin.


"Sekarang harus bagaimana, kenapa masalah dateng mulu ke hidup aku. Bodoh, bodoh, bodohnya aku." frustasi Ara menyesali perbuatannya yang bertindak jauh.


"Maafin aku Bunda, aku pikir memang karena ikatan darah kita. Makanya Bunda paham dengan keadaanku." lesunya.


"Dah lah, pasrah!!" ucapnya.


***


"Bi, Bi!" panggil Rio.


"Iya Tuan!" tergopoh-gopoh Bi Imah berlari keluar dari dapur mendekati Rio yang baru saja datang. "Ada apa Tuan?" tanya Bi Imah.


"Ara udah pulang?" tanya Rio seraya melepas jasnya, dengan pandangan mencari sosok istrinya yang sudah tiga hari dua malam tidak terlihat.


"Udah, Tuan. Sekarang lagi di atas, lagi mandi." jawab Bi Imah, ia pun mengambil jas, dan tas kerja Rio.


Rio menatap pintu kamarnya dari lantai bawah. Wajah Rio menegang, sepertinya sedang kesal. Ia pun langsung naik ke atas tanpa meninggalkan kata kepada Bi Imah.


Setelah sampai ke kamarnya, ia melihat semua ruangan. Ia tak melihat Ara. Berarti Ara belum selesai mandi. Rasanya Rio ingin mengetuk pintu kamar mandi, agar Ara segera selesai. Tapi ia urungkan, ia memilih menunggu dengan hati panas.


***


Dengan wajah di tekuk, perasaan campur aduk. Ara keluar dari kamar mandi. Ia malah hampir pingsan mendapati Rio sudah berada di kamar ini. Jantungnya hampir copot dari tempatnya. Ara mencoba menampar kedua pipinya, berharap ini adalah ilusi.


"Aw sakit!" ringisnya pelan.


Itu bukan ilusi, tapi nyata. Rio berdiri tepat di lemari membelakanginya.


"Astaga, gimana ini. Kok dia cepet banget pulangnya. Aduh, mampus aku!" Ara kali ini pasrah sepasrahnya.


Kali ini dirinya tidak akan membalas argumen Rio. Ia memang salah, dan dirinya harus menerimanya.


***