Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 58


Jantung Ara berdebar cepat seolah ingin lari saja. Semakin erat dekapan tangannya di depan dada. Mengutuk diri yang sedang Ara lakukan saat ini. Aura dingin menerpa pori-porinya dengan begitu jelas. Ah, sungguh sial! Ara memakai handuk di atas lutut saja. Atas dada, dan betis ke kaki mungilnya berkulit putih terekspos jelas.


Rio yang melihat pastilah menelan ludah, Rio masih berdiri di sana dengan tertegun. Jantungnya pun berdetak, detakkan yang aneh di rasakan.


"Ara kenapa keluar gak pakai baju sih?!" Bathin Rio, cepat-cepat ia berdehem.


"Tuli ya," Ara terkejut, maksudnya apa berkata dirinya itu tuli. Siapa yang tuli, dia itu yang buta lihat wanita hampir tidak berbusana bukannya langsung pergi malah masih betah berdiri di sana.


"Hei," panggil Rio. "Beneran tuli,"


Cukup, memang Rio suka memancing emosinya. Ara mengeram pelan, rahangnya mengeras. Lihat saja siapa yang tuli siapa yang buta.


"Sana ke THT, males banget nampung orang tunarungu di sini," Kata Rio kasar sekali, dia itu yang tuli.


"Siapa yang tuli?!" Ara berbalik badan memasang wajah merah padam akibat menahan amarahnya.


Rio sedikit terkejut, matanya tak bisa terkontrol sampai menelan ludah susah payah ketika melihat kedua tonjolan di balik handuk.


"Kamu tuh yang buta!" Nada suara Ara naik satu oktaf.


Rio langsung tersadar ia pun memilih mengabaikan Ara di sana. Niat awal ingin ambil minum, Rio mendekati kulkas mengambil sebotol air mineral dan langsung meneguknya.


"Kalau aku buta, aku gak mungkin bisa turun ke bawah minum air, nih!" Rio menunjuk botol minumnya dengan wajah yang menyebalkan.


"Ck, aku juga gak tuli," Ara tidak ingin mengalah pada Rio.


"Tuli, tadi aku tanya kamu gak jawab. Itu namanya tuli," kekeh Rio.


"Kamu ..." Geram Ara, kedua tangan Ara sudah mengepal saking ingin menojok tuh pipi Rio.


"Kenapa?" Demi apapun wajah Rio sangat memuakan.


"Rio!" Sentak Ara, Rio memasang wajah tengilnya itu pertanda keributan yang sesungguhnya akan berlangsung sesaat lagi.


"Kamu tuh nyebelin banget sih," Ara berjalan mendekati Rio.


"Eh kok aku, kamu tuh yang nyebelin," Rio tak mau kalah, maksudnya kalah beradu mulut, melihat Ara datang dengan kemarahan, Rio memilih untuk perlahan menjauh.


"Kamu... "


"Kamu... " Balas Rio.


Ara berhenti, kini mereka berdua berada di tengah-tengah ruangan. Nafasnya naik turun, tahu mata Rio seperti magnet. Tatapan nakal ke arah ya itulah.


"Aku nyebelin di mana nya sih?!" Tanya balik Ara.


Setahunya, Ara tidak suka cari masalah dengan siapapun. Tapi Rio lah yang selalu membawa masalah. Sekarang menuduh Ara, pastinya Ara tidak terima. Sekarang Ara ingin membuktikan siapa yang menyebalkan di sini.


"Em, semuanya," jawab cepat Rio, Ara memicingkan matanya tak paham.


"Semua yang bertentangan kamu,"


"What?!"


"Gak sadar diri Boss, siapa yang nyebelin di sini, hah," Ara berkacak pinggang seolah apa yang dikatakan itu adalah sebuah fakta.


"Apa maksud mu? Kamu lagi nyindir Aku?"


"Mohon maaf yang nyindir siapa? Ara cuma bicara fakta," tegas Ara.


Rio langsung mengatupkan bibirnya. Iya dia tahu diri, ia tahu kesalahan yang ia buat selama ini.


"Cih! Gak merasa tuh," enteng Rio sembari melipatkan kedua tangannya.


Dua mata Ara membulat, siapa sangka Ara lupa siapa yang ada di hadapannya ini. Si manusia tebal muka, balok es, dan tengil ini.


Ara semakin marah, jika dilihat darahnya pasti sudah bergejolak hebat akibat terlalu mendidih. Tatapan tajam kini yang menyoroti sosok Rio di sana yang hanya berjarak lima langkah dari Ara. Rio masih dengan sikap tengilnya, ia tahu Ara sedang marah padanya.


"Gak merasa? Mari Ara ingatkan lagi," ucap Ara ramah kepalsuan.


Rio takut melihat sikap Ara berubah drastis tadi 5 detik lalu sepertinya Ara marah sekali. Tapi sekarang memasang wajah senyum lebar dengan tatapan mematikan. Ara terus berjalan mendekati Rio yang perlahan mundur. Lebih baik melihat wanita marah secara langsung di bandingkan awalnya marah tiba-tiba memasang wajah ramah, itu mengerikan.


Sampai-sampai langkah Rio buntu menabrak pintu utama. Tapi ia bergeser pelan menitah di dinding ke arah ruang tamu.


"Yang menyebalkan itu kamu, kamu gak mengakui kalau aku istrimu, kamu menyangkal hubungan ini, kamu bebas sama siapa aja, tapi kalau aku, kamu selalu melarang banyak hal. Gak boleh ini, gak boleh itu. Harus begini, harus begitu. Seenak jidatmu kalau aku ini adik sepupu mu, kamu jemput wanita kamu tanpa lihat aku terlebih dahulu, kamu melanggar perjanjian kita, kamu Sampai-sampai bawa kekasih mu itu ke rumah ini. Dasar lelaki tidak tahu malu, pantas kamu tuh di jadiin **** guling!!" Ara terus menyudutkan Rio dengan kata-kata kasar dan pastinya ruang untuk menghindar dari Ara semakin sempit.


Rio menatap Ara dengan ketakutan, amarah Ara benar-benar membuat Rio tak berdaya. Ia pun pasrah sekarang. Pasrah karena ia tidak bisa lari, sekarang dirinya jatuh terduduk di sofa. Ara mengungkung tubuh Rio saat ini. Bahkan tangannya mendarat di leher Rio.


"I, iya, sabar, tenang dulu oke," hanya itu yang bisa Rio lakukan. Rio berfikir apakah ini akhir hidupnya?


"Tenang kamu bilang, sini mulut mu aku robek biar gak seenaknya bicara!" Sentak Ara, Rio langsung menutup mulutnya sendiri dengan cepat menggeleng kepala. Lehernya terasa sakit akibat Ara juga. Karena Ara menahan tubuh Rio dengan lengan kecilnya do leher Rio


Mata Ara memerah, apa ini amarah terpendam. Ara langsung mencengkram kerah baju Rio dengan erat. "Dasar laki-laki gak tahu diri. Kamu kalau ngaku laki-laki sejati terang terangan bilang ke orang tua kita kalau kamu mau hubungan kita ini harus berakhir. Jangan nyakitin perasaan orang yang sama sekali gak tahu seluk beluk kehidupan kamu!" kata Ara.


Apa sekecewa itu Ara kepada dirinya. Terlihat mata Ara memerah dan berkaca-kaca ketika mengatakan hal tersebut. Rio menatap dua bola mata indah Ara dengan lekat.


Seketika kesadaran Rio membawa hari-hari dimana dirinya selalu menyusahkan Ara, selalu membuat Ara di rugikan. Emang benar apa kata Ara, kenapa dirinya tidak bisa memilih antara Ara dan Angel. Kenapa dirinya tidak bisa menentukan siapa pemilik ruang hatinya saat ini. Dan akhirnya Rio telah menyakiti dua hati.


"Uhuk... uhuk... uhuk!! Ra, lepasin!" Rio hampir kehabisan nafas.


"Gak!" Ara lebih menekan lengannya.


"Ra, g-gue bisa... bisa ma-mati!"


Ara langsung melemahkan penekanan lengannya dari leher Rio. Tanpa basa-basi, dengan cepat Rio mengambil alih pengungkukungan Ara. Dengan sigap Ara sekarang berada di bawah dan Rio di atas. Ara memberontak namun kedua tangannya telah terkunci menjulur ke atas oleh genggaman Rio.


"Lepas!" Pinta Ara sembari memberontak.


"Gila, aku bisa mati konyol tadi!" Kata Rio kepadanya.


Ara membuang muka dengan bergumam, "Emang pantes mati!"


"Hah, kamu doain aku mati! Kamu seneng aku sekarat kayak tadi. Dasar psikopat!" Kata Rio, sukses membuat Ara yang tadinya tidak mau melihat Rio. Sekarang menatap tajam bagaikan singa ingin memangsa korbannya.


"Cih, eh, psikopat masih punya hati, ketimbang laki-laki labil kayak situ!"


"Aw!" Ara mengeluh karena cengkeraman Rio semakin kuat terasa sakit di bagian pergelangan tangannya.


Rio tersinggung, Ara mengatakan dirinya labil. Mungkin maksudnya tentang hati memanglah Rio labil. Dan Rio tak bisa menolak kenyataan. Tapi ia sembunyikan rasa pengakuannya. Ia gengsi mengakui hal tersebut.


"Lepas Rio!" Ara tersadar bahwa dirinya sedang tak aman. Ia menyadari kenapa dirinya harus meladeni tuan balok es ini. Ia sedang telanjang bulat, benar-benar telanjang hanya di lapisi selembar handuk putih. Ara mulai panik, dirinya merutuki kebodohannya sendiri.


"Siapa yang labil?"


"Kamu!"


"Sekarang apa mau mu?" Kata Rio


"Aku mau cerai!" Ucap Ara lantang.


***