Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 115


Di waktu yang sama.


"Kenapa kamu gak jujur selama ini kamu kerja part time di cafe Gilang?" tanya Rio.


Malam itu Alex yang memberitahukan kalau cafe tempat kerja Ara milik Gilang. Sewaktu di dalam, Alex menanyai siapa pemilik cafe ke salah satu pelayan di sana.


Ara terkejut atas pertanyaan Rio. Mengapa Rio tahu?


"Bukan urusanmu!"


"Aku ini suamimu, aku punya hak untuk tau. Kamu kerja pun tanpa minta izin dari aku."


Ara menatap tajam ke arah Rio. "Bukannya kamu sendiri yang gak mau mengakui status mu jadi suamiku. Kenapa baru sekarang kamu mengakui dirimu itu suamiku?"


"Gak usah bahas masa lalu Ra!"


"Kamu pikir dengan apa yang terjadi sekarang berawal dari mana?"


"Aku cuma minta jawaban, penjelasan aja Ra. Gak usah di lebar-lebarin."


"Aku malas ribut!" tandas Ara.


Ara memilih menyingkir dari hadapan Rio. Ia duduk di kursi meja rias membelakangi Rio. Hatinya cepat panas jika berdebat dengan Rio. Masalah yang mereka alami tak pernah menemui titik jelas.


___


Tak terasa beberapa jam telah berlalu kini sudah mulai senja. Ara duduk di meja riasnya dengan mata menatap nanar ke arah Rio yang tengah asyik memainkan ponselnya di atas ranjang miliknya.


Raut wajah Ara tak bisa di jelaskan lagi. Sungguh kusut, hatinya memanas berulang kali setelah beberapa kali kembali dingin dengan ucapan sabar.


Mereka sama-sama keras kepala tidak ada yang mau mengalah. Padahal Ara harusnya tengah bersiap untuk bekerja karena dirinya masih shift malam. Berulang kali mengecek jam di ponselnya. Berulang kali yang terdengar hanya lenguhan nafas pasrah dari Ara.


Otaknya berputar untuk mencari cara bagaimana mengambil kunci kamar dari Rio. Di minta baik-baik Rio malah ngajuin syarat untuk membawa dirinya pulang ke rumah. Namun kalau dirinya memberontak, takutnya menimbulkan suara keras hingga membuat para penghuni tahu kalau Ara memasuki seorang pria di dalam kamarnya.


Karena terlalu lama saling diam, suasana menjadi hening. Lama-lama Rio hampir tertidur. Berulang kali ponselnya menjatuhi wajahnya, akan tetapi Rio tetap berusaha keras untuk tidak tidur.


"Tidur.... tidur.... tidurlah," harap Ara.


Ya, ajaib. Rio tidur tanpa kembali bangun. Berbinar mata Ara. Segera ia bangun perlahan tanpa menimbulkan suara mendekati Rio untuk memastikan Rio tidak terbangun jika dirinya mengambil kunci.


Lambaian tangan Ara di wajah Rio tak menimbulkan gerakan wajah Rio yang artinya Rio memang sudah tidur.


"Yes!" seru Ara senang.


Ara kembali tersadar sekarang bagaimana mengambil kunci kamar ya dari Rio. Ara tepok jidat, ia baru ingat kuncinya Rio simpan dalam saku celananya. Kembali Ara memutar otaknya apa yang harus ia lakukan jika kunci miliknya berada di saku celana Rio. Tidak mungkin kan tangannya merogoh tak sopan di saku celana Rio. Yang ada selain mukanya akan hilang juga pasti Rio akan terbangun.


"Sial banget sih!" gerutu Ara.


"Di coba dulu kali ya, mana tau Rio lelap jadi gak sadar," pikir Ara.


Perlahan namun pasti, Ara duduk di tepi ranjang dengan tangan menjulur ke arah saku celana Rio. Di hatinya merapal doa agar Rio tak bangun. Bisa mati kutu kalau Rio bangun.


"Sial ketahuan!" batin Ara. Segera Ara memejamkan matanya erat-erat.


"Udah mulai nakal ya," goda Rio seraya membelai anak rambut Ara dengan lembut.


Dapat perlakuan lembut dari Rio, seketika jantungnya berdegup kencang. Hawa tubuhnya panas dingin. Tak mau terlena, Ara segera bangkit dari dekapan Rio.


"Fitnah?" sanggah Ara tanpa mau menatap Rio.


Rio tersenyum lebar lalu bangkit dari tidurnya.


"Aku gak fitnah, nyatanya kamu meraba-raba bagian pahaku. Apalagi kalau bukan nakal," jelas Rio menahan tawanya senang mengerjai Ara.


"Siapa yang mau raba-raba. Aku mau ambil kunci pintu kamar, siniin!" pinta Ara dengan tangan kanannya terbuka.


"Kenapa sih kamu dari tadi mintain kunci mulu, kita udah hampir satu bulan gak ketemu. Emang kamu gak ada kangennya sama aku," aku Rio.


Deg. Makin gak karuan jantung Ara. Buru-buru ia buang wajah agar Rio tidak tahu kalau wajahnya kini tengah bersemu kemerahan.


"Apa tadi malam selepas aku tinggal dia jatuh dari kasur terus kepalanya kejedot kali ya? Atau salah makan makanya sikapnya berubah jadi aneh," batin Ara yang merasakan ada hal yang berubah dari Rio.


Kenapa sekarang mendadak Rio pandai mengguncangkan isi hati Ara.


"Ara," panggil Rio memaksa tubuh Ara untuk merubah duduknya agar saling berhadapan dengannya. Ara pun tak menolak. Batinnya memberontak, namun tubuhnya tidak.


Rio menatap dalam ke arah Ara. Tatapan matanya penuh arti seolah menyiratkan bahwa Rio telah jatuh hati padanya. Entahlah itu sepintas tebakan Ara saja. Benar atau tidak. Tatapan Rio mampu membuat Ara terkesiap.


"Tolong dengerin aku kali ini, untuk pertama dan terakhirnya," ucap Rio dengan wajah serius.


" Jangan motong penjelasan aku. Kali ini aku gak mau ada debat di antara kita. Tolong izinkan aku ungkapin semua isi hatiku, Ra. Dengan sungguh-sungguh," tambahnya seraya meraih tangan Ara. Ara pun tak menolak.


"Maafin aku selama ini yang udah sia-siain kamu. Mempermainkan perasaan mu Ra, pernikahan kita dan kepercayaan yang kamu kasih ke aku selama ini. Aku sekarang bener-bener tulus mau memulainya dari awal.


Aku tau mungkin kamu kurang menerima aku dengan mudah setelah apa yang pernah aku perbuat, dan ucapan terdahulu. Tapi aku jamin, aku tulus, aku yakin, aku mau memulainya dari awal sama kamu, Ra.


Sekarang aku sadar, setelah kepergian kamu tanpa jejak buat aku hampir gila. Tanpa sadar aku memang benar-benar jatuh hati sama kamu," ucap Rio.


Berdegup jantung Ara mendengar semua kalimat dari Rio. Ah, rasanya tak perlu menolak lagi ajakan Rio. Siapa sangka hatinya pun memiliki rasa yang sama dengan Rio, namun dirinya malu untuk jujur.


Ini bukan lagi sinyal hijau namun sudah berwarna-warni. Sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Jauh dari lubuk hatinya sedang merayakan kebahagiaannya saat ini.


Walau Rio sudah sadar dengan perasaannya. Dan sekarang dirinya ingin membina hubungan yang baru. Ara kira untuk tidak semudah itu memberikan jalan untuk Rio membawanya masuk ke rumah mereka terdahulu. Tak semudah itu lagi Ara memberikan kepercayaannya sekali lagi setelah berkali-kali di kecewakan.


Biarkan Rio merasakan sakitnya memperjuangkan cintanya jika dirinya bersungguh-sungguh padanya. Tentu saja Ara tak mau berkali-kali kecewa.


"Ara mau kan memulai semuanya dari awal?" tanya Rio membuyarkan lamunan Ara.


___