
Rio benar-benar menunggu Ara pulang hingga waktunya bergantian shift. Walau Rio menghabiskan berjam-jam di kafe ia tak membuang waktunya cuma-cuma. Ia pergunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang waktu itu sempat tertunda.
Rio tak risih di lihat pada pelayan-pelayan di kafe karena merasa aneh hampir separuh waktu Rio habiskan di kafe dengan menghabiskan beberapa gelas minuman dan cemilan.
Sebenarnya malah Ara yang risih. Ara berusaha kasih pengertian ke Rio untuk segera pulang sebab para rekan kerjanya selalu menanyakan perihal dirinya dengan Rio.
Ya pasti mulut Arin sudah membeberkan adegan Ara dengan Rio. Pastilah para rekan kerjanya tak percaya dan malah menanyakannya pada Ara langsung. Tak mungkin Ada memberitahu kepadanya mereka kalau Rio adalah suaminya. Bisa-bisa heboh nanti.
Bukan di lingkungan pekerjaannya. Namun bisa-bisa di lingkungan kuliahnya. Karena memang di kafe Gilang ada beberapa teman satu kampus yang kerja part time seperti dirinya.
Makanya mereka sekepo itu. Siapa yang tak kenal Rio di lingkungan kampusnya. Rio adalah sosok yang selalu menjadi perbincangan panas, bintangnya kampus yang banyak segudang prestasi. Di tambah ketampanannya yang sudah terkenal seantero kampus.
Bagi mereka yang mengagumkan Rio serta ingin memiliki. Pasti akan kecewa berat jika Ara menikah dengan Rio. Bisa-bisa mereka hanya akan membully Ara karena tidak percaya.
Ya iyalah, siapa Ara jika mereka mendengar kedekatannya dengan Rio saja pasti sudah di katai halu. Apalagi sampe mereka tahu dirinya menikah dengan Rio, yang ada di katai gila saking mereka tidak percaya.
Selama perjalanan menuju kos Ara. Mereka hanya terdiam. Lebih ke Ara yang selalu diam ketika Rio banyak bertanya selalu berujung jawaban yang singkat.
Rio berusaha memahami Ara. Memang semuanya butuh perjuangan untuk kembali memperbaiki hubungannya yang selama ini retak karena ulahnya.
Ketika sampai di depan kos Ara. Mereka berdua terlihat bingung karena sudah ramai orang di depan gerbang sedang kumpul.
"Mereka siapa?" tanya Rio pada Ara yang hendak turun dari mobil.
"Itu Ibu kos sama penghuni kos, ada apa ya?" bingung Ara yang langsung turun dan menghampiri mereka.
Terlihat wajah mereka tak bersahabat terutama yang mencolok adalah Meli dan teman segengnya. Yang bikin Ara heran wajah ibu kos yang juga ikutan seperti Meli, menatap marah dan tak suka secara terang-terangan.
"Maaf Bu, ini ada apa ya?" tanya Ara.
"Meli," panggil Ibu Kos tanpa menjawab pertanyaan dari Ara.
Bersama itu turunlah Rio dan menghampiri Ara.
"Nah, ini Bu lelaki yang Meli maksud," tunjuk Meli dan di ikuti sorakan para penghuni lainnya.
Ara dan Rio saling bertatapan bingung.
"Nih, bawa barang-barang lo keluar!" Satu koper hitam besar di dorong begitu saja oleh Meli dan temannya.
Sontak Rio tahan koper Ara yang hampir terguling. Ara semakin bingung, kenapa koper miliknya ada di mereka.
"Bu ada apa ini?" tanya Ara bingung.
Ibu Kos maju selangkah dengan kedua tangannya melipat kedada.
"Kamu ini ya, sudah saya kasih aturan di kos ini gak boleh bawa lelaki siapapun kecuali saudara atau suami yang gak ada hubungan apapun di larang masuk. Eh, kamunya malah main langgar aja.
Penghuni lainnya gak ada yang kayak kamu gak tau aturan. Mereka ini ngadu ke saya kalau kamu sering bawa lelaki masuk. Dan parahnya ada sampai berjam-jam lelaki yang mereka maksud," lirikan mata Ibu Kos ke arah Rio dengan tatapan tak suka.
Mendengar ucapan Ibu Kos Ara hanya bisa diam. Rio hendak membela, namun di cegah oleh Ara.
"Tapi Bu, harusnya Ibu tegur saya dulu. dengar penjelasan saya, baru setelah itu Ibu usir saya," ucap Ara.
"Owalah kamu kok yang ngatur saya, kamu ini jadi membuat kosan saya jadi ke coreng tau gak sama kelakuan kamu yang gonta-ganti lelaki bawa-bawa ke kamar kos. Semua penghuni pada komplen karena merasa saya kasih privilege ke kamu.
Pokonya saya gak mau tau, mulai malam ini kamu keluar dari kosan saya malam ini," tegas Ibu Kos dengan di barengi sorakan dari penghuni lainnya.
"Saya gak keberatan kalau Ibu ngusir saya, tapi saya gak terima kalau Ibu bilang saya suka gonta-ganti pasangan. Jangan bicara sembarangan ya Bu kalau gak ada buktinya," ucap Ara yang terpancing emosi.
"Bukti? Kamu mau bukti, ini satu penghuni yang bilang dan lihat kelakuan kamu!"
Tangan Ara mengepal, benar-benar marah mendengar ucapan Ibu Kos. "Bukannya di kosan ini ada CCTV ya, harusnya ibu lihat dulu kebenarannya baru Ibu ngatain saya! Saya baru satu bulan tinggal di sini, coba cek CCTV. Biar Ibu tau siapa yang benar di sini! Kalau saya yang salah saya siap angkat kaki di sini tanpa minta setengah uang dari uang sewa. Tapi kalau saya bener, Ibu harus usir yang nyebarin fitnah ke saya malam ini juga."
"Bu gak usah pake liat CCTV segala, semua bukti udah jelas. Bukan saya aja yang liat, tapi temen-temen yang lain juga bisa jadi saksinya," ujar Meli.
Tak salah memang, Meli terlihat gelisah takut Ibu Kos mengiyakan tantangan yang di beri Ara.
Terlihat Ibu Kos sedang memikirkan untuk mengambil keputusan.
"Oke, saya setuju dan kita buktikan sekarang!"
Semuanya pun mengikuti langkah kaki Ibu Kos menuju tempat pos biasa Kang Odi bertugas. Kang Odi hanya menonton dari kejauhan, bukannya tak mau membela Ara. Padahal Kang Odi sudah membantah fitnah yang ada, bagaimana pun Kang Odi merasa Ara adalah orang baik tak seperti yang di ceritakan oleh Ibu Kos dan penghuni lainnya.
Namun mereka tak percaya, terutama Ibu Kos yang selalu hanya mau mendengarkan aduan Meli. Semakin dirinya membela, Kang Odi tak berani berbuat lebih sebab dirinya sudah di ancam oleh Ibu Kos kalau ikut campur dirinya akan di pecat.
Padahal harusnya mempertimbangkan aduan Meli jika Kang Odi membantah aduan Meli. Sebab dirinya yang hampir 24 jam menjaga kos. Pasti Kang Odi lebih tahu. Akan tetapi masih ada yang perlu nafkah dari dirinya, Kang Odi memilih hanya diam saja.
"Ayo Kang, tolong puterin CCTV dari pertanggal Ara masuk ke sini sampai hari ini!" perintah Ibu Kos.
Kang Odi tanpa membantah langsung memutar dari mulai Ara masuk ke kos pertama kali dimana dirinya masuk wilayah kos bersama Gilang untuk melihat keadaan kos.
Hari besoknya terlihat Ara kembali sendiri dengan membawa sebuah koper untuk siap meninggali kamar kosnya.
Hari berikutnya Ara keluar di jam lima sore untuk pergi, setahu Kang Odi di jam ini Ara berangkat bekerja.
Untuk hari-hari selanjutnya aktivitas Ara sebatas berangkat bekerja atau pergi sebentar hanya untuk membeli keperluan dirinya atau pergi makan.
Kang Odi memutarkan file hari selanjutnya dengan di percepat.
"Eh, tunggu Kang!" ucap Meli. "Coba mundur sedikit Kang," pintanya.
Kang Odi menurut saja. "Nah, ini apa! Bener kata saya kan Bu, dia ini suka di jemput cowok berbeda-beda. Coba di perjelas pasti bukan orang yang pertama ke sini sama Ara," ujar Meli kembali percaya diri.
Memang benar ada sebuah mobil yang berhenti di depan gerbang kos. Tak lama Ara pun keluar lalu masuk ke dalam mobil si pria itu.
"Ini buktinya, kamu gak bisa ngelak!" ucap Ibu Kos.
Ara menghela nafas panjang, otaknya serasa panas. Bingung bagaimana menjelaskan semuanya.
"Ibu, ini memang saya, tapi ini adik saya Bu," jawab Ara.
"Gimana kita bisa percaya kalau itu adik kamu?!" ucap Meli berusaha membuat terlihat bersalah.
"Tanya aja sama lelaki di samping saya," ucap Ara dengan pasrah.
Rio sontak melihat ke Ara dengan tatapan bingung sekaligus gugup bagaimana menjelaskannya.
Semua mata memandang ke Rio menanti jawaban dari lelaki yang Ara maksud.
"Dia adik saya," kata Rio.
"Loh, maksudnya kalian ini saudara kandung?" tanya Ibu Kos.
"Bukan," jawab keduanya kompak.
Semua yang menatap mereka jadi mengerutkan kening karena bingung dengan jawaban mereka.
"Kalian ini jelasin yang benar, gak usah bikin semuanya bingung!" kesal Ibu Kos.
"Kami ini suami istri Bu," jawab Rio dan Ara serempak.
Kening mereka yang tadinya mengerut kembali mengencang sebab kedua bola mata mereka hendak keluar mendengar ucapan Rio dan Ara karena tak percaya.
---