Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 72


Ara berganti posisi miring, agar bisa menatap wajah lelap Rio. Helaan nafas panjang dari Ara.


*Kenapa nasib ku begini, menikah lulus SMA sama orang blas gak ku kenal. Demi almarhum Ayah, demi Bunda, dan demi Qia. Aku ikhlas. Tapi bagaimana harus menghadapi rumah tangga ku yang aneh ini kedepannya? Aku udah mengorbankan masa muda ku, masa iya harus mengorbankan kebahagianku juga. Terasa gak adil, tapi kalau aku egois. Aku harus mengorbankan kebahagian banyak orang untuk melihat aku dan Rio bersatu. Bunda, Qia, Papa, dan Mama. Kenapa Rio gak bisa berfikir kayak aku.


Kenapa harus aku terus menerus yang rugi. Sifat dia lah, kekasihnya lah, status kami, sekarang apa aku harus selalu tunduk segala tindak dia. Gak boleh ini, gak boleh itu. Harus begini, harus begitu. Semuanya di atur sama dia.


Bener-bener dia, tapi....


Tentang Angel?


Kenapa dia harus usir Angel. Memang aku gak suka sih adanya Angel di tengah-tengah


kehidupan kami ini. Tapi kalau aku mau dulu, aku bisa manfaatin Angel buat Rio menceraikan aku. Tapi dulu sempet aku coba buat milih aku atau dia. Tapi kenyataannya Rio gak bisa milih di antara kami. Itu artinya....


Huh! Emang otak gesrek, serakah. Bilang aja rugi ngelepasin salah satu dari kami. Dasar Rio terlahir dari tanah kompos, makanya bentukannya gitu.


Tapi perginya Angel, apa memang dia menyimpan perasaan buat a, aku?


Masa?


Ya buat jaga perasaan aku gitu, secara aku kelihatan banget gak suka Angel di rumah ini. Makanya demi perasaan aku dia tendang si kekasihnya itu. Apa iya?


Tapi kalau dia suka sama aku, harusnya dia bener-bener putus hubungan bukan?


Arghhh, entahlah. Hanya Tuhan yang tahu isi hatinya si manusia balok es itu.


Ish, kenapa juga mikirin dia, buang-buang waktu*.


****


Wanita yang tengah insomnia kini mendekati lelaki tampan yang tengah terlelap begitu nyenyak. Ara mendekat, agar bisa melihat dengan jelas lekukan wajah dingin Rio. Mendadak degupan jantungnya memompa begitu cepat. Terasa nafas Rio menerpa di pipinya lembut.


"Dia memang tampan!" aku Ara.


"Hm.." lenguh Rio berganti posisi.


Wajah Ara langsung menjauh, ia pukul wajahnya sendiri karena bertindak berani.


"Apaan sih Ra, dia memang ta, tampan. Tapi bukan tipe ku..." gumamnya.


"Kok jadi ng-blank gini sih..." ia pukul kepalanya sendiri karena sudah mulai error.


"Ehem..." gugup dan ragu-ragu ingin membangunkan Rio.


Bangunkan saja, toh dia yang nyuruh aku untuk tidur di kamarnya.


Ara mendekat kembali, ia turunkan wajahnya mendekat. Maksudnya ia ingin memanggil nama Rio dekat di telinganya.


"Rio... Rio..." Panggil lembut Ara.


Rio hanya mengulet ketika sayup-sayup mendengar seseorang memanggil dirinya.


"Huuuuu, bukannya bangun bikin jantungan."


Ara tak menyerah memanggil Rio, kini tak hanya memanggil namanya dari dekat. Ara pun menggoyangkan tubuh Rio.


"Rio... Rio... Rio..."


"Hmm, apa?" akhirnya Rio bangun setengah sadar.


"Bangun..."


Susah sekali membangunkan Rio. Kalau tidak mengakui dia suami, sudah Ara siram pake air.


"Rioooooooo....." teriak Ara namun tetap suaranya terkendali agar tidak terlalu keras.


"Ara....!" Rio bangun duduk, wajahnya menegang karena geram.


Telinganya telah penuh oleh dengungan suara Ara. Untungnya saja kamar miliknya super kedap suara. Suara gajah teriak sekali pun terdengar seperti tikus kegencet.


Wajah kesalnya Rio semakin terlihat jelas di wajahnya. Ara baru menyadari telah membangunkan singa kelaparan. Tatapan Rio sangat menyeramkan, ia jadi menyesal membangunkannnya. Ara memberi jarak, nyalinya goyah.


Rio mengambil nafas panjang, kini sorot matanya menatap ke arah Ara dan berkata dengan nada dinginnya yang khas " Apa?"


Wajahnya menyebalkan sekali, tampan sih tapi sifatnya yang gak tampan. Sifatnya mengotori wajah tampannya. Ara menelan air liur kasar ketika melihat raut wajah Rio yang tak bersahabat. Inginnya sih Ara melempar wajah yang menyebalkan itu dengan sepatu yang ia kenakan. Rupanya sabar miliknya stock nya masih banyak. Jadi masih bisa menahan sabar.


"Aku boleh pake kamar mandi gak? Aku gak bisa tidur kalau belum mandi," nyengir kuda ala Ara.


"Boleh," ucapnya datar lalu kembali membaringkan diri di kasur.


Ara tersenyum, lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya ia bisa menyegarkan dirinya segera. Ia fikir takut Rio tidak mengizinkannya untuk mandi di tempat kekuasaannya.


---


"Astaga!"


Pasrah melihat sebagian bajunya basah karena terjatuh di bathub. Ara menepuk jidatnya sendiri, ceroboh ia menaruh semua bajunya di tempat dekat bathub. Sekarang karena tidak sengaja semuanya basah.


"Aduh gimana nih? Baju ku di kamar sebelah Rio ada bawa ke sini gak ya?" Ara mulai bingung.


Ia tatap kosong baju yang sudah hampir tenggelam itu. Ia terduduk di pinggiran bathub.


"Aish!!" Lenguh Ara melihat handuk yang ia pegang.


Ia ambil semua baju yang sekarang sudah basah, ia pun mencari seluruh laci-laci dan seluruh tempat biasanya ada penyimpanaan handuk ukuran besar mungkin atau handuk piyama.


"Kamar mandi sebesar ini gak ada handuk selembar pun?"


Ara kesal tidak ada handuk sama sekali di manapun. Ia mulai kebingungan, tidak mungkin ia akan keluar dengan bertelanjang. Ya, Ara bertelanjang bulat sekarang. Ia tekuk wajahnya, menyesal. Lebih baik dia menahan untuk tidak mandi. Ara mondar-mandir cari cara lain.


"Gak mungkin aku keluar telanjang kayak gini. Ya ampun, hari ini aku apes banget sih!"


"Oke, tenang Ra, cari jalan keluar. Mudah sih, tinggal bilang ke Rio buat ambil baju, tapi Tuhan aja tahu, dia tuh nyebelin banget..."


Ara bersandar di pinggir wastafel, ia gigit bibir bawahnya. Kaki kirinya terus bergerak tak jelas, ia sedang berfikir keras.


Tiba-tiba knop pintu berputar, sepertinya ada orang yang akan masuk. Ara berdiri tegap, netra matanya bergerak ke kanan ke kiri. Ia panik dan bingung.


Matanya sekarang mengunci objek di depannya yaitu pintu, seolah akan membuka paksa.


"Ara... Kamu di dalam? Ra..."


TokTokTok


Ara panik, ia menutup dua gunung kembarnya dan area V yang tanpa sehelai benang dengan kedua tangannya.


"Astaga, Rio?"


***