Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 91


Esok harinya, Rio bangun tanpa ada Ara di sisinya. Bekas tempat tidur Ara semalam terlihat rapih. Rio segera bangun dan meraih ponselnya.


"Baru jam 6 pagi, Ara pergi sepagi ini?" lirihnya dengan suara khas bangun tidur.


Rio pun tak ingin menyita waktu banyak, ia segera mandi membersihkan dan segera bersiap untuk pergi ke kampus.


Memakai kemeja lengan pendek hitam di padu celana panjang bahan, Rio memanglah tampan. Hari ini Rio benar-benar memperhatikan penampilannya, dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Ia semprotkan parfum ke bagian leher, dan pergelangan tangan. Sebelum ia benar-benar pergi dari kamarnya, ia sempatkan melihat cermin untuk sekali lagi mengecek apa ada yang terlihat.


Ah, jika ada Derry di sini. Pasti akan mengejeknya, mengingat Rio tidak begitu memperhatikan penampilannya sendiri begitu detail. Ada apa dengan Rio hari ini?


Bergegas ia turun menuju lantai bawah. Jika ada yang melihat ekspresinya pasti merasa heran.


"Kesambet apa semalam, pagi-pagi udah senyum?" mungkin jika ada orang di rumah.


Nyatanya Rio tidak menemukan siapa-siapa. Tahu Ara sudah pergi, pastinya Bi Imah selalu menyiapkan sarapannya. Tapi kali ini tidak ada siapa-siapa. Rio hanya menemukan sebuah note dengan tulisan tangan Ara di meja makan bersamaan dengan sepiring nasi goreng dan secangkir teh.


Alis Rio bertaut, sudah menebak itu tulisan Ara. Bibirnya mengulum senyum, entah apa yang di kepalanya sekarang. Rio raih note tersebut.


Bibi Imah pulang kampung mendadak,


katanya suaminya jatuh sakit.


Itu di meja sarapan buat kamu.


Ara


Kurang lebih begitu isinya. Kemudian Rio pun mengalihkan pandangannya ke sebuah piring yang berisikan nasi goreng. Lagi-lagi ia tersenyum simpul, mendadak hatinya menghangat. Tak ingin mendiami sarapan yang telah tersaji di meja makan, Rio pun menyantapnya hingga tak bersisa.


_____


Semua mata yang berada di ruang kelas memandang


di ambang pintu. Ada sesuatu yang menyita perhatian. Siapa lagi kalau bukan Rio. Terutama kaum hawa, tatapan mereka akan kotor untuk segera di cuci oleh air suci yaitu ketampanan dan penampilan yang berbeda dari Rio.


Mereka di antaranya ternganga, bahkan lalat akan masuk pun mereka tidak peduli. Saking terpana kesempurnaan fisik Rio.


Ara yang tengah sibuk mengeluarkan buku-buku di dalam tasnya. Tasya dengan segera mentoel-toel pundak Ara.


"Ada apa sih, Sya?" kesal Ara.


"Liat, liat itu siapa?" tunjuk Tasya ke arah pintu.


Dengan malas Ara sekedar memutar leher. Ara pun ikut terpana dengan penampilan Rio. Sebenernya biasa saja menurut Ara. Tiap hari juga Rio berpenampilan seperti itu, tapi memang ada yang berbeda. Aura dan wajahnya berseri-seri tanpa senyum yang memang Rio tak pernah tersenyum pada siapa pun.


Entahlah, mungkin sebelum Rio berangkat ia berulang kali wudhu dan niat. Makanya hari tampak berbeda. Ara saja yang hampir tiap hari bertemu Rio, mengakui jika hari ini Rio berpenampilan berbeda.


"Mingkem, Ra." ujar Tasya.


Ara tersadar, dan langsung mengatupkan kedua bibirnya. Dan berpura-pura kembali ke aktivitasnya langsung.


Ara mencuri-curi pandang ke Rio, dimana Rio akan melangkah menuju meja yang biasa tempati yaitu tepat di belakang Ara. Ara acuh, gengsi memperlihatkan wajah mendamba seperti mahasiswi lainnya.


"Hei!" sapa Rio dengan lembut.


Sontak membuat satu ruangan khususnya mahasiswi berteriak histeris. Ya lagi-lagi mereka hampir tak pernah mendengar suara Rio, selaginya mendengar, terdengar lembut. Ia selembut ice cream makanya meleleh sekarang.


Ara pun sinis, sinis di dalam hati. Gimana tidak sinis, orang yang di sapa Tasya bukan dirinya. Eh, kok ngarep.


"Ha,a,ai!" sapa balik Tasya yang salah tingkah.


Meleleh lah tuh Tasya. Sesekali mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Memang wajahnya terlihat memerah.


"Dasar buaya darat!" sungutnya dalam hati. Ara sengaja menaruh buku-buku yang ia ambil dari dalam tasnya ia letakan dengan kasar.


"Baru aja tadi malam ngajak tidur sekasur, sekarang malah tebar pesona dengan wanita lain. Emang buaya!" lanjutnya dalam hati dengan membenarkan duduknya.


"Bisa tuker tempat duduk nggak?" ujarnya dengan memperlihatkan wajahnya ramah.


Aaaaaa......


Lagi-lagi histeris para ciwi-ciwi di kelas. Wajahnya biasanya tampak dingin sedingin gunung es di kutub utara, tiba-tiba meleleh akibat global panas dunia. Siapa yang tidak terkejut, melihat Rio berubah dengan cepat. Ara pun tak terkecualikan.


Ara pun kembali ternganga tak percaya, bahkan ia merasa ia masih tertidur artinya ini hanya mimpi. Oh, sayang ini memang nyata. Ara mencoba menampar pipinya dan itu terasa sakit.


"Oh, sial!" batinnya sembari mengusap pipi yang habis ia tampar sendiri.


"Boleh, boleh, boleh banget." setuju Tasya tanpa menolak ataupun menawar.


Tasya bergegas merapikan barang bawaannya dan langsung melipir ke meja tadinya milik Rio sekarang berpindah ke Tasya. Begitu pun Rio, sekarang ia duduk di meja milik Tasya sesudah ia meminta izin bertukar tempat.


"Makasih." ucap Rio dan langsung duduk.


"Sama-sama." bergetar bibir Tasya, mungkin jika di depannya ada Rio dan sebongkah berlian. Tasya memilih Rio ketimbang sebongkah berlian.


Ara hanya diam sedari tadi, menonton scene bak drama korea. Melihat Rio kini tepat di sampingnya, Ara pun hanya menarik napas panjang. Bagaimana dia bisa menguatkan hati untuk meminta cerai, jika bayang-bayangan Rio kian intens mendekatinya.


Dosen pun masuk, semua mahasiswa pun duduk langsung dengan rapi. Ara sempatkan melirik Rio yang tengah sibuk dengan buku di depannya. Di lihat dari samping saja, visualnya memanglah tak di ragukan. Dia memang tampan.


Deg


____


Waktu pun tetap berjalan, hari semakin siang. Akhirnya Ara pulang dengan Tasya. Ara terlihat buru-buru, memasukan segala peralatan belajarnya ke dalam tas dengan cepat.


"Hari ini kemana?" tanya Tasya yang sudah siap dan kini tengah menanti Ara.


"Biasa." singkatnya.


"Oh..." Tasya seperti paham arti dari jawaban Ara, yang Rio sendiri tidak paham. Dirinya sedari tadi memperlambat gerakannya agar bisa keluar bersamaan dengan Ara tak sengaja menangkap obrolan mereka.


Tak lama mereka berdua pun bergegas keluar dari kelas, dengan sedikit obrolan ringan di antara mereka.


Rio terpikirkan akan sesuatu, rasa ke kepoannya tergugah karena obrolan singkat mereka tadi dengan Rio sendiri tidak paham. Segera kakinya berjalan cepat membuntuti keduanya hingga keluar dari lingkungan kampus.


Ia memang sudah kepikiran belakangan hari ini tentang Ara yang selalu pulang malam, terkadang tengah malam. Di tambah beberapa kali Rio melihat Gilang selalu mengantarnya pulang. Sekarang bukan lagi kepikiran sudah naik tingkat kecurigaan.


Mobil Rio terparkir tak jauh dari berada nya Ara. Akhirnya Rio pun membuntuti kemana Ara pergi hari ini hingga ke sebuah cafe yang cukup jauh dari alamat rumahnya. Dari Ara turun dari angkutan umum hingga masuk ke cafe tersebut.


"Mau ketemu siapa, Ara?" pikirnya.


Rio memutuskan menunggu Ara, siapa tahu ada seseorang yang datang dan masuk ke cafe yang ia kenali. Selama ini Rio hanya tahu kenalan Ara yang tidak seberapa, jadi mudah untuk mengenali mereka. Barangkali ada salah satu dari mereka membuat janji dengan Ara.


Berjam-jam Rio menunggu dengan tatapan tak pernah lepas menyorot sekitar cafe. Setiap yamg datang, Rio akan dengan jeli memperhatikan mereka di antaranya tanpa terlewatkan satu pun. Tapi tidak ada yang ia kenali, wajah mereka sangat asing.


"Ara ngapain sih di dalam lama amat?" keluh Rio yang mulai kesal. "Apa memang udah ada yang nunggu di dalam, ah, tapi siapa?" kesalnya bertambah dengan penuh rasa penasaran.


Jika memang ada seseorang yang telah menunggu, kenapa mereka tidak segera muncul keluar.


"Itu cafe apa hotel sih?" celetuknya, " lama amat perasaan."


Hingga akhirnya, apa yang ia harapkan memang benar datang. Membuat Rio terbangun dari sandaran body bangku mobil untuk melihat dia yang familiar bagi Rio.


"Gilang?" lirihnya.


Benar itu Gilang, motornya Rio sangat paham. Bagaimana tidak sudah beberapa kali Rio melihat motor yang biasa Gilang gunakan jika berangkat ke kampus.


Rasa kesal berubah menjadi-jadi, ia eratkan stir yang ia pegang dengan wajahnya yang mulai mengeras.


"Apa segitunya, nunggu Gilang sampe berjam-jam. Huh, Ara kamu benar-benar buat aku terkejut. Kamu memang ada main di belakangku, Ra. Aku kecewa." ucapnya dengan emosi terpendam.


Amarah yang begitu menguasai, perasaan yang sulit di jelaskan.Rio membawa mobilnya ia pacu dengan kecepatan tinggi, meninggalkan tempat yang membuat dirinya merasa di khianati.


🥀𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐🥀