Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 51


Lama tidur gak bagus juga buat tubuh. Sekarang Ara malah semakin lesu. Gak semangat buat melakukan hal sesuatu. Sehabis mandi, ia sibak tirai jendela kamarnya. Sekarang hujan sudah reda, matahari mulai memunculkan diri dari balik awan gelap.


Ara buka jendela kamarnya lebar-lebar. Angin semilir sejuk mulai memasuki kamar Ara. Memang aroma sehabis hujan itu terasa segar jika di hirup dalam-dalam. Ara lanjut merapihkan tempat tidurnya sebelum keluar.


Baru ingin keluar dari kamar, tiba-tiba ponsel Ara berdering. Segera Ara meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon.


"Derry?" Ara mengernyitkan dahi, "Tumben nelfon?" Ara langsung menerima panggilan telfonnya.


"Hallo! Ada apa Derry? " Tanya Ara.


"...."


"Di rumah?"


"...."


"Iya, aku gak lagi di Bandung. Kenapa? "


"..."


"Main?" Ara berfikir sejenak.


"...."


"Eh? " Di sana menutup panggilan telfon sepihak. Ara belum mengatakan setuju atau tidaknya. Malah Derry langsung bilang OTW.


"Main otw, otw. Belum juga manga udah di matiin." Kesel Ara.


Tok!Tok!


"Siapa?" Tanya Ara


"Ini Bibi."


"Ada apa Bi?"


"Ada Aden Derry datang katanya mau ketemu sama Neng." Kata Bi Imah.


Ara yang minum air putih seteguk muncrat begitu saja. Dia tidak salah dengar bukan. Panggilan berakhir belum usai lima menit. Tiba-tiba Derry datang secepat kilat. Ara tersedak di buatnya. Buru-buru Ara menyeka mulutnya, dan berlari menuju pintu.


"Serius secepat ini!" Ara jadi penasaran.


Membuka pintu, ternyata memang benar Derry sudah tepat di depan pintu kamarnya dengan melempar senyumnya yang narsis sembari tangannya mengangkat dua box pizza.


"Hai!" Sapa Derry.


"Ha, hai " Ara masih ternganga melihat kehadiran Derry yang secepat angin.


***


Ara mengajak Derry untuk menonton film kartun kesukaannya yaitu Tom And Jerry. Sudah lama Ara tidak duduk santai, menonton sebuah film kesukaannya, di temani keluarga, teman dan camilan.


Derry memang paham secara kebetulan di saat Ara bingung untuk melakukan hal apa di weekend ini.


Derry dan Ara duduk di ruang tv, menonton kartun dengan di selingi tawa riuh keduanya. Dan di temani pizza yang dibawa oleh Derry.


"Kamu cenayang ya? " Tanya Ara di sela film tengah di putar.


Derry mengernyitkan dahinya, "Kenapa?"


"Iya, tahu apa yang aku mau." Jawab Ara.


"Aku tahu kamu bosan." Sahut Derry, " Tapi seharusnya kamu yang traktir aku makan pizza. Karena kemarin lusa batalin janji."


"Janji? Janji apa?"


"Kamu janji buat aku jemput, tapi kamunya malah pergi sama Abang." Merengut Derry.


Seketika air muka Ara berubah, baru ingin memasukan satu gigitan terakhir pizza. Mengingat hari itu membuat Ara kesal.


"Sorry, gimana mulai besok kamu yang antar aku ke kampus. Dan lain waktu aku traktir makan deh." Ucap Ara, ia cepat menyembunyikan rasa kesalnya.


Mata Derry berbinar, senyumnya mengembang lebar.


"Serius Ra?"


Angguk Ara lalu tersenyum. Lumayan juga irit uang ongkos.


***


Setelah menghabiskan dua box pizza, malamnya Derry memesan makan lewat Go-Food. Dan di lanjutkan menonton berbagai film favorit mereka. Pokoknya hari ini mereka gunakan untuk kesenangan diri.


Ternyata tak terasa sudah larut malam. Sudah jam sepuluh malam. Derry baru menyadari Ara sudah tertidur pulas dengan posisi melengkung. Lucu sekali.


Niat hati ingin membangunkan Ara untuk pindah tidur ke kamar. Derry merasa kasihan melihat pulasnya tidur Ara. Entah peri baik atau pergi jahat yang membisiki untuk mendorong Derry menatap sekejap wajah ayu Ara dari dekat.


Derry berjongkok, menatap lamat-lamat wajah cantik Ara yang polos. Jantung Derry berdegup kencang. Bukan pertama kalinya ia dekat dengan wanita, tapi ada perasaan lain jika dekat dengan Ara. Dan Derry tak paham dengan hatinya sekarang. Tangannya berani terulur menyisipkan anak rambut milik Ara ke belakang telinga.


"Abang beruntung bisa memiliki Ara. Coba aja dulu aku yang mau buat di nikahin Ara. Pasti sekarang lain cerita, mungkin Ara bahagia sekarang. Seperti hal yang tadi kita lakukan." Bhatin Derry dengan membayangi.


Di sisi lain.


Rio baru saja datang bersama Angel. Tadi Angel memohon untuk di temani datang ke acara pesta temannya. Tadinya Rio menolak dengan alasan malas untuk keluar rumah.


"Rio, itu siapa?" Tunjuk Angel ke arah seorang lelaki yang terlihat hendak mencium kening Ara.


Mata Rio membulat, rahangnya mengeras. Deru nafasnya memburu. Siapa lelaki yang kurang ajar dengan istrinya.


Amarahnya melanda, Rio dekati lelaki tersebut. Rio sudah gelap mata, ia tarik kerah baju milik lelaki itu dengan kuat. Lalu satu tonjokan mengenai bagian pipi.


Bukk!


"Shh !" Rintih Derry, ia kaget siapa yang menonjoknya.


"Abang!" Rasa takut mulai menyerang, Derry tahu dia salah.


"Derry ! Kamu !" Satu tonjokan mengenai bagian pipi Derry hingga sedikit robek di ujung bibir sampai berdarah.


Rio sangat marah siapa lelaki tadi yang hendak menyentuh Ara ketika tidur. Makin meradang saja amarah Rio.


Angel ketakutan, ini pertama kalinya Angel melihat Rio seperti kesetanan. Angel bingung harus bagaimana. Mau melerai tapi takut, kalau tidak melerai Derry akan babak belur.


"Rio, udah, dia adik mu." Angel menarik Rio kebelakang.


"Kamu, keterlaluan, dia Ara. Kamu gak tahu batasan !" Marah Rio seraya menunjuk-nunjuk.


Derry kelimpungan akibat dua tonjokan penuh emosi. Merintih kesakitan di bagian pipinya. Derry berusaha berdiri tegap.


***