
Ara kesal tidak ada handuk sama sekali di manapun. Ia mulai kebingungan, tidak mungkin ia akan keluar dengan bertelanjang. Ya, Ara bertelanjang bulat sekarang. Ia tekuk wajahnya, menyesal. Lebih baik dia menahan untuk tidak mandi. Ara mondar-mandir cari cara lain.
"Gak mungkin aku keluar telanjang kayak gini. Ya ampun, hari ini aku apes banget sih!"
"Oke, tenang Ra, cari jalan keluar. Mudah sih, tinggal bilang ke Rio buat ambil baju, tapi Tuhan aja tahu, dia tuh nyebelin banget..."
Ara bersandar di pinggir wastafel, ia gigit bibir bawahnya. Kaki kirinya terus bergerak tak jelas, ia sedang berfikir keras.
Tiba-tiba knop pintu berputar, sepertinya ada orang yang akan masuk. Ara berdiri tegap, netra matanya bergerak ke kanan ke kiri. Ia panik dan bingung.
Matanya sekarang mengunci objek di depannya yaitu pintu, seolah akan membuka paksa.
"Ara... Kamu di dalam? Ra..."
TokTokTok
Ara panik, ia menutup dua gunung kembarnya dan area V yang tanpa sehelai benang dengan kedua tangannya.
"Astaga, Rio?"
"Ah, iya, sebentar!" Sahut Ara, ia berlarian ke sana kemari tanpa busana karena bingung harus bagaimana menutupi tubuhnya.
Pintu bergetar berulang kali, suara ketok pintu, knop berputar, dan Rio terua memanggilnya. Ara semakin panik jika begitu.
"Ra, aku kebelet pipis, gak tahan. Cepet Ra! Kamu mandi apa tidur sih?" Teriak Rio.
"Aduh! Gimana nih?" Panik Ara.
Tiba-tiba ada ide terlintas di fikirannya, mudah-mudahan bisa. Ia mendekat ke pintu, dan berkata "Aku bakal buka, tapi kami hitung satu sampai sepuluh ya."
Rio merem melek, terasa air seninya sudah di ujung. Tangan kirinya terapit di antara kedua tangannya dan tangan kanannya terus bergantian mengetok dan memutar knop pintu.
"Ya ampun Ra, ngapain harus begituan sih. Aku mau kencing gak mau main petak umpet! Please Ra buka pintunya."
"Kalau kamu masih mandi, silahkan. Aku gak bakal lihat, yang penting buka pintunya sekarang!" Pinta Rio.
Tak tahan rasanya, sudah kalang kabut di buatnya.
"No! Aku mau kamu hitung dari satu sampai sepuluh baru aku buka pintunya. Kalau kamu terus ajak aku berdebat aku jamin, sebentar lagi kamu bakal pipis di celana!"
"Shit, oke, aku hitung..." Rio akhirnya mengalah karena ia pun tak mau sampai pipis di celana.
Ara tersenyum lebar mendengar persetujuan Rio. Akhirnya Ara menekan kunci di knop pintu, sebelum menekan Ara ingin mendengar terlebih dahulu apakah Rio berhitung.
"Satu, dua, tiga ..." mulai Rio.
Ara pun bergegas menekan kunci tersebut, di hitungan ke delapan. Ara sudah berada di glass box dalam kamar mandi.
"...Sembilan, sepuluh." Akhirnya selesai juga.
Kembali knop pintu berputar, lega rasanya mengetahui pintu tidak di kunci lagi.
"Cewek aneh, tinggal keluar apa susahnya sih!" Rio masuk dengan keadaan kesal, niatnya ingin langsung protes ke Ara.
"Lah, mana orangnya?"
"Ra, kamu di mana?" Tanya Rio yang mencari Ara.
"Di sini."
Mata Rio langsung tertuju ke glass box di depannya. Rio fikir Ara masih mandi di dalam, ia pun bergegas ke toilet untuk menyelesaikan yang ia tunda tadi.
"Kamu masih mandi?" Tanyanya.
Ara menarik nafas panjang, "Banyak tanya!" gumamnya.
"Apa?"
"Eh, iya, eh, gak juga sih!" Ara ling lung, bingung harus menjawab yang mana.
Mengerut dahi Rio mendengar jawaban Ara yang berikan.
"Gimana? Udah apa belum? Kalau udah kenapa gak keluar?"
"Iya bentar lagi," ucapnya.
"Mandi apa tayamum di dalam?!" bathin Rio, karena dari dalam glass box tidak terdengar percikan air seperti layaknya orang mandi.
Terdengar flash kloset, apa Rio sudah selesai?
"Ya udah, jangan lama-lama mandinya, entar masuk angin!" Ingatkan Rio.
"Iya masuk angin gak pake baju semalaman," gumamnya.
Terdengar derap langkah yang semakin jauh, Ara terfikirkan sesuatu. Ia kembali memastikan apakah Rio benar-benar sudah pergi apa belum dengan menempelkan daun telingannya ke pintu.
Baru saja Rio akan keluar sudah memegang knop pintu. Di panggil namanya, Rio pun berhenti dan berbalik badan.
"Apa?"
"Bisa, pinjem handuk gak?"
"Handuk?"
"Hm..." angguk Ara.
Ara berharap Rio membawakan handuk untuknya. Tapi kok lama sekali Rio tidak memberikan jawaban. Ara resah, ia dekatkan lagi telinganya di dinding glass box. Tidak ada tanda ada orang di dalam kamar mandi selain dirinya. Kakinya melemas seketika, ia pasrah malam ini ia memutuskan untuk menetap di glass box.
"Ra, ini handuknya," membulat mata Azahra, ia langsung berdiri tegap.
Telinganya masih sehat, apakah itu Rio?
"Ra, ini handuknya!" Sekali lagi Rio berkata membuat Ara langsung mendekat ke pintu.
"Oh, makasih, mana handuknya," segera Ara membuka pintu glass box dan menjulurkan tangannya keluar untuk mengambil handuk dari tangan Rio.
Rio langsung berbalik badan ketika pintu terbuka. Langsung aliran darahnya menaik membuat perasaanya tak nyaman.
"Mana?" Tangan Ara terus mencari handuk, tapi ia tak menemukannya.
"Rio, jangan bercanda!"
"Nggak, siapa yang mau ngajak bercanda, ini handuknya!"
"Astaga, liat jarak kamu sama glass box nya. Dari tadi aku gak dapat," kata Ara.
Rio mengintip sekilas ke arah tangan Ara yang terus mencari handuknya, ia pantas tidak dapat. Jarak Rio dengan glass box jauh. Kaki Rio mendekat, tanpa melihat ke arah glass box.
"Ini!" ucapnya menyodorkan handuknya ke arah tangan Ara yang siap mengambil handuk di tangannya.
Ara tersenyum ketika tanganya menyentuh bahan yang lembut. Ia ambil handuk tersebut seraya berkata, "Makasih."
"Hm.." gumam Rio.
---
"Ini handuk yang buat pelit amat, masa kecil sih!" Jengkel Ara melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin di kamar mandi.
Ia menimbang ukuran handuk yang terlalu mini untuknya. Hadap depan, hadap belakang dengan raut wajah bingung dan kesal.
Handuk yang hanya menyelimuti dari dada hingga atas lutut, tidak, sebatas paha atas. Ara menggeleng, dia tidak bisa menahan. Lebih baik ia keluar dan mencari bajunya. Ia tak khwatir tentang Rio, bodo amat. Toh, dia suaminya. Wajar saja dia melihat sebagaian tubuhnya ini.
---
Cklek!
Memastikan Rio sudah tidur apa belum, hanya kepala yang melongo. Dahi Ara melipat, di ranjang tidak ada Rio.
"Kemana?" lirihnya, Ara berani keluar dari kamar mandi setelah sekian lama di dalam kamar mandi.
"Di bawah kali ya," pikir Ara.
Ini kesempatan Ara untuk mencari baju-bajunya di kamad Rio. Barang-barang miliknya berada di sini, berarti bajunya pun. Ara bergerak mencari ke seluruh ruangan untuk mencari tas berisi baju miliknya.
Mustahil kalau baju-bajunya berada di satu lemari dengan Rio. Ibaratnya baju Rio itu berlian, baju Ara sampah. Ya siapa yang mau berliannya terpapar barang kotor seperti Ara. Namanya sadar diri.
"Di taro ke mana sih?" Bingung Ara, sudah mencari ke seluruh penjuru ruangan.
Nihil tidak ada tas, kardus, minimal karung kali lah yang berisi baju miliknya. Pandangannya menuju lemari Ri yang tepar di depan matanya.
Entah setan apa yang membisiki telinganya, mengatakan semua bajunya berada di dalam lemari milik tuan balok es. Sebenarnya, ragu-ragu untuk berani menyentuh lemarinya.
Terakhir ia sempat di larang oleh Rio untuk menyentuh apapun tanpa seizinnya. Namun keraguan Ara semakin mendorong Ara untuk mendekat ke arah lemari sembari berjaga-jaga Rio masuk.
"Sial!" Ara mundur, ia gigit kukunya gugup dan takut. Matanya berulang kali menatap lemari dan pintu kamar.
Ara bingung, dilema pekara baju. Ia pijat batang hidungnya.
"Ah, bodo amat!" ujarnya nekat membuka seluruh lemari dan laci-laci di kamar Rio. Berharap ada baju miliknya yang memang di simpan oleh Rio.
"Mana sih?!"
"Ara, ngapain?" Ara terkejut setengah mati, ****** itu Rio!!
***
Maaf kalau ada typo ya, ngebut😊