
"Sya mana Ara?" Tanya Gilang yang menghampiri Tasya di meja kantin.
"Di kelas tadi, bentar juga datang."
"Oh," Gilang pun ikut duduk berhadapan dengan Tasya.
"Nah itu anaknya!" Kata Tasya saat melihat Ara mendekati meja mereka.
Gilang pun menoleh ke arah dimana Ara berjalan.
"Lama amat Ra?" Manyun Tasya ke Ara.
Ara tersenyum tipis lalu duduk di sisi Tasya, "Ma, maaf Sya, tadi Bunda ngobrol banyak," Ara menampilkan wajah tak enak hati ke Tasya.
"Iya,iya," Tasya memaklumi Ara, padahal dirinya tak begitu kesal karena cukup lama dirinya menunggu Ara, sebab perutnya minta di isi.
"Pipi kamu kenapa Ra?" Tanya Gilang melihat pipi Ara bersemu merah.
"Kamu sakit?!" Tasya langsung menarik badan Ara ke hadapannya agar Tasya dapat melihat jelas mimik Ara.
Ara menggeleng, lalu Tasya menempelkan punggung tangannya ke dahi Ara guna mengecek suhu badannya.
Semu merah di pipi Ara semakin jelas ketika teman-teman Ara membahasnya. Dirinya memang sudah sakit, sakit jiwa karena Rio barusan. Sudahlah Rio tiba-tiba menciumnya, di tambah ke pergok temen sekelasnya. Syok pasti, bagaimana nanti menutupi kejadian tadi. Ini semua gara-gara Rio!
"Anget loh," ucap Tasya menatap Gilang.
"Hari ini panas..." Ara menepis tangan Tasya dari dahinya dan membenarkan duduknya dengan benar.
"... tadi kesini aku sedikit lari, wajar pipi ku merah sama jidat anget," jelas Ara.
"Gak usah berlebihan."
"Namanya juga khawatir, emang gak boleh," kata Tasya.
Kruk... Krukkkk...
Gilang dan Ara menatap ke arah Tasya dengan melongo.
"Laper!!" Nyengir Tasya.
Gilang dan Ara sontak tertawa, Tasya beringsut malu karena kedua sahabatnya menertawakan dirinya.
"Oke, biar gue yang pesen!" Ucap Gilang.
"Eh, biar aku yang pesen, anggap aja tanda minta maaf," Ara langsung berdiri sebelum Gilang.
"Traktirlah sekalian," sindir Tasya pelan.
"Iya, iya, hari ini aku yang traktir, besok-besok kamu loh, aku sama Gilang yang banyakan traktir kamu," berujar Ara tak kalah menyindir Tasya, lalu pergi menuju stand kantin yang ingin di datangi.
"Iya lu, nyuruh traktir aja gede tuh tembolok, giliran di suruh traktir mingsep malahan, huh!" Ejek Gilang pedas.
Tasya beringsut kesal tapi aslinya malu, memanyunkan bibir dan bermain handphone seolah tak mendengar celoteh Gilang. Biar bagaiamana Ara dan Gilang berkata pedas tak sepedas kata-katanya, ia tak pernah di memasukkan ke hati. Setebal itu untuk tidak merasa tersinggung dengan kata-kata menyakitkan. Baginya itu hanya sebatas guyonan, apalagi mereka sahabatnya.
---
"Eh, kata Uut, cewek ini yang godain Rio di kelas," ucap pelan salah satu mahasiswa kepada teman-teman sekitarnya yang ikut mengantri dengan Ara.
"Masa!?"
"Sttt, entar dia denger," ingat salah satu dari mereka.
Ara dengar, dengar sangat jelas, bahakan ada beberapa mata dari sekitarnya memandanginya dengan tatapan tak suka. Seperti menghakiminya secara tidak langsung. Walaupun demikian Ara tak ambil pusing, maklum terkadang mereka hanya tahu luarnya saja bukan aslinya.
"Dia suamiku, dan aku istrinya, emang kenapa, salah suami istri mesra-mesraan!" Bathinnya dengan geram.
Toh, memang kemauan Ara dan Rio yang tak ingin hubungan mereka terungkap ke publik. Entahlah, jujur Ara tak mempermasalahkan statusnya sekarang karena ia sedikit demi sedikit memiliki rasa lebih untuk Rio. Ara pun tak tahu sebabnya kenapa ia bisa jatuh hati dengan Rio yang jelas-jelas tak memiliki perasaan apapun untuknya.
Sedikit sedih dengan statusnya sekarang yang seperti mengambang tak jelas seperti perasaannya.
---
"Ye, makan-makan," berbinar mata Tasya ketika Ara mendekati meja mereka.
Ara pun menaruh nampan yang berisi tiga mangkok bakso panas di meja. Dengan cepat Tasya menggeser bagiannya.
"Sabar Sya, masih panas!" Peringat Ara karena Tasya begitu tergesa-gesa.
"Gak tahu Tasya, gak ada yang berebut juga makanan lo Sya," timpal Gilang.
"Akh, lu pada, gua dah nahan laper tahu dari tadi," ucap Tasya sewot.
Ara dan Gilang saling pandang dan bergeleng bersamaan.
Ya itu lah Tasya, hanya dunia perutnya saja yang ia manjakan.
"Uhuk..Uhuk!!"
"Ya ampun Sya, udah aku bilang pelan-pelan kalo makan," panik Ara langsung menepuk lembut punggung Tasya, Gilang pun memberikan bekas botol minumnya yang ia bawa, karena minuman mereka belum kunjung datang.
"Nih, minum!" Ucap Gilang, Ara pun menerima botol minuman tersebut lalu memberikannya kepada Tasya.
"Pelan-pelan!" kata Ara.
"Eh, itu kan Ara anak yang di bilang Uut," salah satu dari tiga Mahasiswi yang baru datang langsung menempati meja persis sebelah Ara dan lainnya duduk.
"Oh, itu, cantik sih, tapi gatel..." timpal mereka di selingi tawa renyah.
Tangan Ara yang sedari tadi mengelus punggung Ara pun terhenti ketika mendengar ucapan mereka. Gilang dan Tasya merasa nama Ara terpanggil pun memandang heran ke ketiga mahasiswa di sisi mereka yang tiba-tiba mengatai Ara begitu keterlaluan.
"Eh emang kenapa cewek itu?" salah satu dari mereka bertanya seolah tidak tahu akar pembicaraan mereka.
"Lo gak tahu, ini kan berita lagi panas-panasnya."
"Iya, itu katanya anak pemilik donatur terbesar di kampus ini, itu Si Rio cowok ganteng plus tajir melintir tuh lagi di gatelin sama cewek CANTIK tapi ganjen, tadi barusan gue denger langsung dari Uut anak sekelas mereka, katanya sih Uut liat sendiri gimana cewek CANTIK itu godain si Rio!" suara yang begitu menyakitkan terdengar langsung ke telinga Ara, dan kedua temannya juga yaitu Gilang Dan Tasya.
Ara remas jemarinya kuat-kuat, ingin sekali menutup telinganya, namun ia tahan. Tasya dan Gilang mendengar kabar tersebut serasa tak percaya. Mereka berdua menatap Ara dengan pandangan penuh tanya. Tasya tahu, Rio dan Ara tak pernah saling sapa walau dalam satu kelas sekalipun.
Bagaimana bisa ada berita hal keji tersebut tersebar dari mulut Uut. Uut adalah salah satu mahasiswi yang satu jurusan dengan Tasya, Ara dan Rio. Katanya Uut sudah begitu lama mengagumi Rio sejak SMA satu sekolah dengan Rio. Dengan kata lain menyukai Rio secara memendam.
Uut sendiri tahu betul bagaimana Rio memperlakukan wanita-wanita yang menyukainya secara terang-terangan menyatakan cinta kepadanya di tolak mentah-mentah. Bahkan tak jarang pula Rio cuek, atau menatap tajam dengan aura dingin menyelimuti diri Rio.
Siapa yang tidak tahu sifat Rio yang begitu pendiam, dingin, dan anti dengan perempuan. Uut lah yang tahu persis bagaimana Rio dulu. Tapi sekarang tak ada badai tak ada hujan, bagaimana Ara begitu mudah menggaet Rio yang supet dingin itu dengan mudah.
Dan Tasya sendiri tak menyangka jika Ara mendapatkan gosip dengan Rio. Padahal yang ia tahu Ara hanya dekat dengan dirinya dan Gilang. Kenapa sekarang ada kabar yang mengejutkan.
***