Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 18


Rio yang baru saja masuk kekamar, melihat Ara yang suda memakai piyama dan sedang menyisir rambutnya yang masih sedikit basah. Ara yang menyadari ada Rio, Ara pun menoleh ke arah Rio dan langsung menyambutnya dengan tersenyum manis. Rio tak membalas senyum Ara ia langsung cepat-cepat menuju ke ranjang dan bersiap untuk tidur. Ara sedikit kesal dengan sikap dingin Rio kepada Ara. Tapi Ara berusaha sabar dan memaklumi. Ara melihat jam dinding pukul 10:15 malam. Ara mencari selimut kesayangannya di kopernya. Setelah dapat selimut, perlahan Ara menarik bantal di ranjang Rio. Kemudian Ara bersiap tidur di sofa panjang. Ara tak ingin keberadaan Ara di kamar Rio membuat Rio risih dan terganggu. Jadi Ara memilih tidur di sofa di banding di ranjang bersama Rio.


"Pegel.. Pegel situ deh. Daripada bangun-bangun di suguhin sikap dinginnya." Dumel Ara dan langsung rebahan di sofa.


Rio yang sedari belum benar-benar tertidur merasa aneh karena Ara belum juga naik dan tidur di sampingnya.


"Kemana ya ? Masa lama banget sih mau tidur aja harus sisiran berjam-jam" dalam hati Rio yang masih penasaran dengan Ara. Sudah 30 menit sudah Rio tak berani mengubah posisi tidurnya yang miring. Rio masih terjaga dengan tidurnya.


"Lama banget dah. Mau tidur aja harus ada ritualnya gitu" Rutuk Rio kesal. Karena sudah terlalu lama untuk menunggu Ara, Rio pun terlelap juga. Rio sudah tak tahan lagi dengan kantuknya. Jadi ia memilih tidur terlebih dahulu.


****


"Hoammm" Nguap Ara dan mengulet karena tidurnya terjaga.


"Jam berapa sih ini ?" Lirih Ara dan berusaha menetralkan pandangannya ke arah jam dinding.


"Ya ampun jam 1:25 malam" Ara pun perlahan keluar kamar untuk minum. Karena tenggorokannya selalu kering jika tengah malam. Ara perlahan menuruni anak tangga dan menuju ke dapur bersih.


Ia membuka pintu kulkas dan menuangkan air dingin ke dalam gelas. Ara pun meminumnya hanya 3 teguk. Saat Ara menutup pintu kulkas ia membalikan tubuhnya. Karena Ara masih belum 100% sadar dari tidurnya, pandangan ia kabur dan sempoyongan. Ara menabrak tubuh tegap dan bertelanjang dada. Ara kaget langsung berusaha menyadarkan dirinya dan mendongak keatas untuk melihat siapa lelaki ini.


"Hahh" pekik Ara dan matanya terbelalak lebar melihat lelaki itu.


Dengan sigap lelaki itu membekam mulut Ara yang hampir teriak.


"Stttt.... Ini aku Derry ,Ra" Derry berusaha menyadarkan Ara yang syok akan kehadirannya yang tiba-tiba. Ara yang melihat dia Derry berusaha melepaskan tangan Derry dari mulutnya.


"Iya aku tahu." Ara masih dengan kondisi kaget dan berusaha mengatur nafasnya.


"Kalau teriak nanti seisi rumah pada bangun." Ucap Derry


"Ya habisnya, datang tiba-tiba. Tengah malam pula, habis dari mana ?" Ara kesal tapi matanya melotot melihat ke arah dada bidang dan perut berotot Derry. Ia sadar langsung membalikan tubuhnya.


"Udah pulang dari jam 11. Ada acara temen aja tadi. Ehh, kenapa balik badan ?" Derry melihat Ara yang berbalik badan langsung menoleh ke belakang.


"Gak ada siapa-siapa kok Ra "


"Huffttt, pake baju dulu."


"Eh iya, sorry-sorry." Derry yang menyadari akan maksud sikap Ara dan melihat ke arah tubuhny sendiri yang telanjang dada, dan langsung memakai kaos tipis yang sedari tadi ia pegang.


"Udah Ra" Derry mencolek pundak Ara.


Ara pun langsung membalik tubuhnya dengan mata tertutup. Ia mengintip sedikit memastikan Derry sudah mengenakan bajunya.


"Lain kali kalau mau keluar dari kamar pake baju napa ?" Sungut Ara dan langsung di meja makan.


Derry mengambil minuman kaleng dari kulkas dan ikut duduk.


"Ya maaf. Tadi aku pikir ada maling."


"Hah... Maling.. mana ?" Ara langsung berdiri dan melihat sekeliling ruangan.


"Deket kok"


Ara pun semakin mempertajam pandangannya dan semakin serius melihatnya.


"Mana Derr ?"


Derry pun langsung ikut berdiri dan berusaha mendekati Ara.


Ara pun semakin di bikin bingung.


"Derry...." kesal Ara.


"Serius Ara" yakin Derry


"Aku loh maling apaan ?" Ara semakin kesal Derry menuduh sembarangan.


"Maling hatiku, ha.. ha.. ha.." Derry senang menjahili Ara sepert ini.


Ara pun langsung mencubit pinggang Derry dan membulatkan matanya yang semakin bulat.


"Derry, kamu nakal"


"Auww.. Auww.." rintih Derry.


"Sakit Ra, Pedes banget tuh tangan" protes Derry dan langsung mengusap pinggangnya.


"Sukurin" puas Ara sudah mencubit Derry sampai kesakitan.


Tetapi Derry tetap tersenyum.


Ara yang melihat ekspresi Derry pun langsung memukul lengannya.


"Apaan sih Ra ? Tadi di cubit sekarang di tabok. Sakit tahu... sekali-kali di cium gitu" protes Derry dengan cemberut.


Ara yang mendengar dengan kalimat terakhir Derry langsung kaget.


"Ih apaan sih Derr." Ara tak suka dengan celoteh Derry. Ara pun langsung berdiri dan akan pergi. Tetapi lengannya di raih oleh Derry .


"Bercanda Ara" jelas Derry.


Derry terkejut ketika melihat cap merah di leher putih dan jenjang Ara. Rambut Ara memang tadi di gelung berantakan dan melihatkan leher putih dan jenjang. Derry menatap lekat-lekat arah tanda warna merah di leher Ara. Ara berusaha melepaskan lengannya dari tangan Derry. Tapi genggamannya semakin kuat. Membuat Ara meringis kesakitan.


"Sakit Derr... Derry.. Derry" Ara berusaha berontak.


"Hebat sekali Abang Rio bermain di ranjang." Ucap Derry dan melepaskan tangannya dari lengan Ara.


"Maksud mu apa Der ?" Tanya Ara bingung.


Derry tersenyum simpul dan menunjukan arah warna merah terang di lehernya.


"Sampai meninggalkan bekas warna merah begitu"


Ara pun langsung melihat tanda merah terang di lehernya. Ia pun sebenarnya tidak tahu tanda merah di lehernya.


"Oh ini.. gigitan nyamuk kok" Ucap polos Ara.


Derry pun tersenyum melihat sikap polos Ara.


"Itu namanya cupang Ra." Bisik Derry di telinga Ara.


"Cupang, apa ?"


"Cupang itu gigitan kecil pada saat berciuman Ara" jelas Derry dengan tersenyum.


Ara barung ngeh dan ingat kejadian siang tadi. Ara sangat malu dan ia pun berlari ke atas. Ara menutupi lehernya dengan mengurai rambutnya yang hitam. Derry melihat Ara yang sangat malu sungguh membuat Derry semakin jatuh hati dengan kepolosan Ara.