
Hey aku balik lagi😅, jarang-jarang kan aku nongol lagi. Kadang sekali doang, atau nongol sekali besoknya lenyap😭🤣🤣.
Thanks yang udah mampir ke novel ku💜. Kalau suka jangan lupa like, comment, klik💜 ini ya biar gak ketinggalan kalau aku up. Kasih kritik dan saran kalian, itu membantu aku untuk memperbaiki kesalahanku, jangan minta up teyusss. Kalau kalian suka lupa likenya😭😅😅. Vote dikit-dikit boleh, kagak maksa sih. di kasih alhmdulillah, gak di kasih ya gak apa-apa belum rezeki namanya🤣🤣😊.
»ʰᵃᵖᵖʸʳᵉᵃᵈⁱⁿᵍ:)
«««»»»»
Tasya tersenyum secerah matahari yang menampakkan diri dari awan mendung.
"Mau pak!" Jawab cepat dan tegas Tasya.
"Tambah satu minggu bersihin toilet wanita dan lelaki selama satu minggu setelah hukuman skors kamu usai," kata Pak Seno.
"Hah?! Lho pak?" Kaget bin bingung, sudah senang di kira permohonannya di kabulkan malah harus di tambah.
"Gimana, mau?!" Tanya Pak Seno.
Dua tangan Tasya melambai tanda tidak mau dan kepala bergeleng cepat.
"Gak mau pak, saya terima hukuman skors dua minggu Pak. Saya tidak ingin keringanan, apalagi di tambah pak," ucap Tasya tegas.
"Bagus, itu namanya sudah di kasih hati malah minta jantung," kata Pak Seno menyindir.
Maksudnya Pak Seno sedikit nyeleneh, Tasya sudah di tetapkan hukuman skors dua minggu tetapi masih ingin keringanan.
"Iya pak, jantungnya buat bapak saja, saya tidak mau," tambah Tasya.
"Kamu nyuruh bapak bersihin toilet gitu?!" Melotot Pak Seno.
"Bu, bukan gitu pak maksud saya, maksud sa,saya."
"Udah pak di tambahin lagi aja," Uut memanas-manasi suasana hati Pak Seno.
Tasya menatap tajam Uut, gemas sekali ingin menarik mulutnya.
"Untuk kamu Uut saya skors satu bulan, setelah masa habis hukuman skors dua minggu membersihkan toilet wanita dan lelaki, dua minggu membersihkan satu ruangan perpustakaan sendirian dari ngepel, membereskan buku-buku," ucap Pak Seno.
Uut tentu seperti orang ketiban batu dari langit, siapa sangka dirinya malah mendapatakan hukuman yang lebih berat. Lantas Tasya tersenyum sumringah ia sadar hukumannya lebih ringan. Hanya tidak masuk kampus hanya dua minggu saja.
"Lho Pak Seno, kok hukuman saya lebih berat ketimbang Tasya. Dia duluan yang nyerang saya pak," tak terima Uut atas hukumannya begitu berat.
Tasya terus berucap ****** di dalam hati untuk Uut, siapa suruh meracuni pikiran Pak Seno agar hukumannya lebih berat, tak lupa ia mengucap syukur karena dirinya terhindar dari hukuman berat.
Lihat wajah Uut begitu tak terima atas keputusan Pak Seno untuk menghukumnya lebih berat.
"Ini sudah keputusan, selain kamu juga ikut merusak fasilitas, kamu juga melakukan kekerasan. Lihat wajah Tasya sampai babak belur gara-gara kamu," Pak Seno ada benarnya.
Langsung Tasya pun berakting merintih kesakitan di area matanya yang memang terlihat lebam dan bengkak. Padahal ia baru ingat setelah Pak Seno menujukan luka lebamnya. Tersadar luka di bagian wajahnya sebagai alasan kuat untuk membawa Uut mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat. Tasya berakting berlebihan di hadapan Pak Seno agar memang dirinya orang yang di rugikan.
"Itu, itu gak sengaja Pak. Saya juga di tarik-tarik rambut saya sama Tasya Pak," ujar Uut juga ikut menampilkan rasa kerugiannya pada bagian rambut.
"Aduh Pak, saya tarik rambut dia pembelaan karena dia ingin menonjok saya lebih dari ini. Lagian Pak rambut di tarik sakitnya sebentar, kalau berantakan tinggal di rapihin. Lah saya Pak di tonjok begini, sembuhnya pake waktu Pak," cepat Tasya mengembalikan keadaan sebelum Uut merubahnya.
Terlihat Pak Seno terdiam sembari menatap bergantian mahasiswi di depannya.
---
Gilang sedari tadi menunggu di luar ruangan Pak Seno berharap cemas. Sudah lama ia menunggu, akhirnya pintu terbuka. Buru-buru Gilang menghampiri pintu tersebut dengan menanti-nanti.
Ternyata yang keluar dulu adalah Uut, Uut menatap Gilang sinis dan berlalu pergi.
"Gimana ?" Tanya Gilang langsung ketika Tasya keluar dari ruangan Pak Seno.
"Ck!" Decak Tasya lemas.
Gilang terus membuntuti Tasya yang terus berjalan dengan menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Ehh," Gilang memotong langkah Tasya, kini mereka saling berhadapan.
Tasya menatap Gilang dengan pandangan kosong, itu membuat Gilang semakin khawatir saja.
Deg!
Jarak wajah mereka dekat, pandangan mereka saling bertemu. Gilang berusaha mencari jawaban, sedangkan Tasya....
"Apaan sih Lang," Tasya menepis kedua tangan Gilang yang bertengger di kedua bahunya.
Otomatis Gilang menyudahi tatapanya dan berdiri sempurna.
"Iya, habisnya lo tadi gue tanya gak di jawab," keluh Gilang.
"Gue di skors," kata Tasya lemah.
"Hah, lu di skors, berapa hari?" Tanya Gilang.
"Dua minggu."
Kedua kaki mereka melangkah bersamaan melewati lorong koridor yang sepi.
"Selama itu."
"He'uem," angguk Tasya.
"Tapi,"
"Tapi, tapi apa?" Penasaran Gilang dengan kalimat Tasya barusan seperti ada hal baik saja.
Tasya sekarang memotong langkah Gilang, sehingga mereka saling berhadapan. Senyum lebar tertera di bibir Tasya, membuat Gilang melipatkan dahi seolah terheran dengan manusia aneh ini. Bukannya dia sedang menerima hukuman skors, kenapa sekarang mendadak tersenyum.
"Tapi gue seneng," tiba-tiba Tasya memberikan gerakan melompat-lompat dan berputar tak tentu arah sebab terlalu kegirangan di depan Gilang.
Bahkan ia busa tertawa begitu puas atas hukuman yang di berikan oleh Pak Seno tadi. Gilang pun terheran-heran, tapi ia ikut tersenyum ketika melihat sahabatnya tertawa dan berkelakuan aneh dengan bebasnya.
"Aneh, tapi lucu," lirih Gilang.
"Mau tau gak kenapa gue seneng," Tasya mengakhiri kegirangannya dan langsung berhadapan dengan Gilang kembali.
Gilang mengerutkan dahinya sesaat, dan berfikir sejenak jawaban apa yang akan ia ucap. Akhirnya menyerah ia pun menggelengkan kepala sembari berkata "Karena lo di skors?!" antara jawaban atau pertanyaan, entahlah.
"Ish, bukan itu yang ku maksud, yang ku maksud Uut kena skors juga," Tasya bersemangat ketika mengatakan Uut juga kena skors.
"Lah apa bedanya, sama-sama kena skors tapi lu yang bahagia. Aneh!" Gilang heran dengan sahabatnya yang satu ini sama-sama kena skors tapi dirinya lebih bahagia.
"Ya beda lah, gue cuma dua minggu, dia satu bulan, di tambah dua minggu bersihin toilet, dua minggu bersihin perpustakan. Jadi dia kena dua bulan full hukuman," jelas Tasya.
"Serius seberat itu," Gilang saja tak percaya begitu beratnya hukuman Uut.
"Ya serius lah, malah tadinya sebelum gue tahu, gue minta di ringanin. Eh sekalinya dia kena lebih dari gue, ya gue mending terima aja," ujarnya senang.
Di saat mereka berjalan tiba-tiba langkah Tasya terhenti ketika Gilang menarik tas ranselnya.
"Eh, apaan sih," tak suka Tasya seraya membenarkan tas ranselnya.
"Ikut gue," ucap Gilang.
"Kemana?" Tanya Tasya, belum di jawab tangan Gilang meraih jemari Tasya lalu menariknya masuk ke dalam UKS yang tak sengaja mereka lewati.
Tersentak ketika kulit tangan Tasya bersentuhann oleh jemari Gilang. Ada perasaan mengglenyar aneh yang timbul di hatinya.
Tasya hanya mampu terdiam dan menurut tangannya di genggam dan di tarik oleh Gilang. Berulang kali matanya menatap jemarinya sendiri yang tengah bertautan dengan jemari Gilang.
***
NB: Jangan di skip, seupil curahan Author yang gak disiplin ini🤣😅🤣
Tapi sejujurnya, komentar kalian yang positif, like kalian, vote kalian itu penyemangat aku. Ketika aku gak mood nulis, terus sengaja buka MT, terus sengaja lihat karya ku banyak yang nungguin, support, nyemangatin aku untuk bisa balik lagi, sumpah aku semangat banget buat balik lagi untuk kalian😳💜😭. Masalah vote itu bonus buat aku, apresiasi kalian buat aku. Vote gak di vote aku bodo amat, yang penting kalian balik ke sini buat tetap nunggu kelanjutan cerita ini yang gak seberapa. Thanks buat kalian, sehat-sehat terus ya😊. Udah gitu aja, sekian dan terima kasih.
⚠️Entar malam up lagi, jadi stay tune ya, jangan lupa klik💜, biar gak ketinggalan😅😅. Entar isinya bikin kalian gedeg sama Ara 🤣🤣🤣, pokonya gitu lah.