Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 22


"Habisnya Mamah pake masker wajah tengah malam. Kan serem.... " Gidik Rio


"Kamu kan sebelumnya juga pernah lihat Mamah pake masker malam-malam juga biasa aja."


"Itu karena Ara." Kesal Rio


"Loh kok Ara ?" Bela Mamah Fani


"Iya kok Kak Ara sih Bang. Kan lo yang takut." Heran Derry


Ara hanya diam dan menatap Rio dengan kesal.


"Iya katanya di depan kamar Rio, Ara lihat setan. " Kesal Rio.


" Hahaha... Otot lo aja segede gulali. Tapi kalo udah kena angin, wushhh langsung ciut. Mana ada setan di rumah kita. Rumah udah di tempatin sejak kita orok sampai gede gini. Emang ada setan, baru kali ini gue denger. Lo lihat di mana sih Kak ?" Ucap Derry.


Ara geram sedari tadi mendengar celoteh Derry.


"Kamu juga tahu sebenernya. Gak perlulah aku jelasin kayak apa rupanya." Sindir Ara.


"Hah.. Aku tahu ?" Derry berfikir keras untuk mencerna kata-kata Ara barusan.


"Maksudnya Aku gitu?" Derry teringat tadi malam ia menggoda Ara sampai Ara sangat malu sekali. Derry pun langsung mengerti apa yang di ucapkan Ara, kalau yang dimaksud itu adalah Derry sendiri.


"Wah parah. Maksud kamu aku setannya" Kesal Derry


"Aku gak bilang ya" ejek Ara6


Mereka adu mulut tanpa menghiraukan yang di sekitarnya lagi.


"Eh udah, pagi-pagi udah ribut" lerai Mamah Fani.


"Ckk" decak kesal Derry


****


"Hmm... Aku bosen di rumah terus. Biasanya jam segini bantu Bunda di kebun. Tapi di sini malah gak boleh bantu ini, gak boleh bantu itu. Malah Mamah pergi, Rio pasti tidur." Jenuh Ara yang tengah duduk di halaman belakang sambil membaca buku yang di ambil di tumpukan buku koleksi Rio. Lembaran demi lembaran Ara telah baca, sampai ke lembaran berikut ada sesuatu yang terjatuh.


"Eh apaan ini ?" Ara memgambil kertas yang terjatuh


"Angel miss you" Eja Ara


"Ini kayak foto deh ?" Lalu Ara membalik kertas itu dan ternyata foto Rio dan wanita yang mungkin itu adalah Angel. Ara terkejut dan tak habis fikir jika Rio masih menyimpan sesuatu yang dari masa lalu walau Rio sendiri sudah menikah. Hati Ara sakit sekali mendapati sesuatu yang tak terduga. Perasaan yang menyeruak begitu hebatnya. Luruh deras air mata kekecewan Ara. Ara harus melihat sesuatu yang melukai perasaanya dan mungkin ini adalah bomerang untuk rumah tangga mereka yang baru di mulai. Ara menutup dan menyimpan foto itu dalam buku. Matanya memerah dan emosinya ingin sekali ia tumpahkan.


***


Ara berlarian ke gudang belakang rumah Rio dengan tatapan yang menakutkan. Para pembantu yang melihat ngeri sendiri. Lalu Ara mengambil sebilah parang di peti perkakas. Salah pembantu yang bernama Bi Imah yang mengikuti Ara, sontak terkejut.


"Eh Nona. Apa yang Nona lakukan dengan sebuah parang itu." Kejut Bi Imah dan tak berani mendekati Ara yang tengah marah.


"Jangan pedulikan aku. Aku ingin memenggal kepala orang itu. Sungguh dia keterlaluan." Marah Ara dengan mengangkat parangnya ke langit-langit. Bi Imah yang mendengarnya langsung panik dan ketakutan.


"Lepas Non. Itu bahaya" Ucap Bi Imah.


"AKHHHH...." Teriak Ara dengan sekuat tenaga menebas semua rumput liarnya sampai ke dasar tanah. Bi Imah yang melihatnya ketakutan sendiri, ia tak percaya majikannya jika sedang marah sangat menakutkan.


***


Rio yang tengah tertidur pulas terbangun mendengar suara jeritan Ara yang melengking.


"Ya ampun siapa sih teriak-teriak tengah hari bolong" Kesal Rio dan langsung beranjak dari ranjangnya dengan lesu menuju balkon kamarnya. Rio melihat di ujung lahan kosong terdapat ada dua wanita. Dengan terkejut dan membulatkan matanya sebulat-bulatnya. "Ara" lirih Rio tak percaya gadis polos sedang menebas rumput di lahan ujung sana.


"Apa yang di lakukan gadis itu ?" Rio cepat berlari ke bawah untuk mengetahui apa yang Ara lakukan di sana.


Ternyata para pembantunya telah berdiri melihat aksi kegilaan Ara dengan wajah ketakutan.


"Ada apa ? Kenapa Ara seperti ini ?" Tanya Rio kepada para pembantunya. Mereka terkejut melihat kehadiraan Rio dia antara mereka.


"Kita gak tahu Tuan. Tiba-tiba aja ambil parang dari peti perkakas dan menebas semua lahan kosong ini. " Jelas salah satu dari mereka.


Rio akhirnya pergi mendekati Ara yang seperti sedang emosi.


"Ra apa yang kamu lakukan ? " Rio berusaha menyudahi apa yang di lakukan Ara. Ara langsung berhenti melihat ke arah Rio berdiri dan menatap tajam kepadanya.


"Ra" panggilnya.


Melihat Rio yang berdiri di hadapannya , teringat foto yang Ara lihat tadi. Membuat emosinya makin menggebu-gebu, parangnya Ara angkat tepat ara Rio berdiri. Dengan kekuatan tersisa, Ara hempaskan parangnya ke arah Rio berdiri. Semua orang yang memandang adegan menakutkan seperti ini hanya bisa menatap dan ketakutan. Rio pun dengan sigap mundur agar terhindar dari parang yang Ara memegang. Nafas Rio hampir habis mendapatkan sikap Ara yang begitu bringas kepadanya.


"Dasar gak tahu diri" pekik Ara dengan menghempaskan parang ke rumput.


"Akhh..." setiap hempasan Ara teriak seperti meluapkan rasa kesalnya.


"Pergi..."


"Ara gak mau lihat kamu.."


"Pergi.." teriak Ara.


Rio tak memgerti dengan sikap Ara. Rio bingung harus bagaimana ?


"Bi Imah, Mamah kemana?" Tanya Rio


"Nyonya pergi arisan tadi." Jelas Bi Imah.


"Pergi.... Pergi... Ara bilang pergi...!!" Teriak Ara dengan masih menghempaskan parangnya ke rumput.


Semuanya pun pergi, terkecuali Rio sendiri. Rio khawatir dengan sikap Ara.


"Udah Ra. Udah kita masuk " Bujuk Rio


"Cuacanya panas, pasti kamu capek" Bujuk Rio sekali lagi.


Ara tak mengindahkan apa kata Rio. Ia masih emosi, masih meluapkannya dengan caranya sendiri.