
Rio telah makan dengan lahap.
"Bi tolong buatkan teh. Dan antarkan di halaman belakang." Pinta Rio
"Baik Tuan" Ucap Bi Imah.
♡♡♡
Rio pun duduk di halaman belakang dengan laptopnya, dan beberapa tumpukan berkas. Ia terheran dengan lahan kosong di halaman belakang yang tadinya semak belukar sekarang bersih dan ada beberapa bekas tanah yang habis di cangkul dengan telaten.
"Bi Imah ?" Heran Rio
Tak beberapa lama Bi Imah datang dengan nampan berisi secangkir teh susu jahe hangat dan sepiring kecil camilan klepon (jajanan khas indonesia berbentuk bulat yang terbuat dari tepung ketan yang di beri pewarna hijau pandan, di dalamnya berisi gula merah, dan di taburi parutan kelapa muda).
"Ini Tuan" Bi Imah menaruhnya di meja.
"Bi ini apa ?" Tanya Rio yang menunjuk di piring yang berisi camilan.
"Ini klepon namanya Tuan. Jajanan tradisional. Rasanya enak sekali" Ucap Bi Imah dengan tersenyum.
"Dan ini ?" Rio tunjuk ke cangkirnya.
"Rio bilang kan teh bukan ini" protes Rio
"Oh ini, ini namanya teh susu jahe. Ini bagus untuk kehangatan tubuh Tuan. Coba dulu, pasti enak" Ucap Bi Imah
"Teh Susu Jahe ?" Rio mengambilnya da menciumnya terlebih dahulu sebelum ia coba.
"Iya Tuan, bagus untuk menghangatkan tubuh." Bi Imah meyakinkannya sekali lagi.
Aromanya aneh, tapi Rio penasaran dengan rasanya. Perlahan ia sruput sedikit, setelah menelannya. Ia membulatkan matanya, dan meminumnya kembali. Dan kini menatap ke Bi Imah. Bi Imah menelan saliva karena takut Rio tak suka.
"Ini enak sekali Bi. Oke aku akan minum ini. Buatkan aku setiap pagi dan malam ya Bi." Rio menikmati minumannya kembali.
"Baik Tuan" Bi Imah lega karena Rio menyukainya.
"Baik kalau begitu Bibi akan masuk dulu" Bi Imah hendak melangkah pergi.
"Tu.. Tunggu dulu Bi " cegah Rio
"Ada apa yang bisa bantu ?" Tanya Bi Imah.
"Oh itu Nona Ara" Singkat Bi Imah.
"Ara ?" Lirih Rio
"Ada lagi Tuan ?" Tanyanya
"Udah itu aja Bi" Ucap Rio.
"Baik Tuan. Saya permisi dulu" Pamit Bi Imah.
♡♡♡
"Bagaiman Bi ?" Tanya Ara yang menunggu di dapur dengan wajah cemasnya.
Bi Imah yang berlarian kecil menghampiri Ara dan melihat kebelakang karena takut Rio masuk. Bi Imah tersenyum dan mengangkat ibu jarinya. Yang membuat Ara tersenyum puas dan puas. Ara sangat senang jika Rio suka. Walau hatinya sebenarnya masih dongkol akan perbuatan Rio. Tak membuat Ara kehabisan akal untuk melayani sang suami. Dan ia ingin bertugas secara kewajibannya dengan baik. Ya walau itu semua perantara dari Bi Imah. Tapi tak apa, itu sebuah awal yang bagus untuknya
♡♡♡
"Ara ?" Bingung Rio
"Kalau Ara ..." Rio tercengang mengingat kejadian tempo hari lalu. Ketika Ara menebas rumput di lahan kosong rumahnya terdahulu dengan bringas. Dengan mata tajam ketika menatap Rio waktu lalu. Rio sendiri tidak tahu apa salahnya. Tapi terlihat jelas Ara sedang marah dengannya. Namun tidak jelas apa yang mengganggu di diri Ara. Rio hanya merasakan jika seprtinya Rio lah yang membuat Ara marah.
"Dasar wanita aneh" Rio geleng kepala dengan heran perilaku istrinya yang bisa di anggap aneh ketika marah.
♡♡♡
Sudah jam 11:25 menit, sudah hampir tengah malam. Namun pekerjaannya belumlah selesai.
"AKH !" Geram Rio dengan mengacak rambutnya sendiri.
Ia memikirkan Ara saat ini. Rio penasaran sebenernya Ara marah dengan dirinya apa tidak. Atau Ara melakukan itu hanya karena bosan di rumah terus.Rio frustasi sendiri. Tapi malam ini Ara tidak seperti biasanya setelah Rio memperingati batasan Ara kepada Rio pada pagi hari tadi.
"Apa mungkin tadi pagi ya ?" Rio bingung sendiri. Ia tak konsen dengam pekerjaannya karena terus mengingat Ara. Karena kesal, ia minum habis teh susu jahe dengan sekali teguk. Dan mengambil satu camilan yang di bawa Bi Imah. Ia bolak-balikan camilannya dengan meneliti seksama.
"Apa tadi namanya kle.... apa tle... Dck susah sekali di ingat. Tapi ya sudahlah." Rio pun memakannya.
"Astaga ini enak sekali ? Bi Imah pintar sekali bikin cemilan seprti ini. Sangat enak...." Puja Rio..