
Tubuh Ara menegang ketika namanya di sebut oleh suara tak asing. Ya itu pemilik kamar ini, Rio. Posisi Ara tengah berjongkok sedang membuka lemari bagian bawah.
"Berakhir sudah!" Gumamnya.
Mana tangannya kepergok sedang membuka lemari. Begini ya rasanya ketangkap basah sedang melakukan hal yang sekiranya salah tapi masih di lakukan. Giliran ketahuan dengan bersangkutan, rasanya itu loh, nano-nano gak jelas.
Campuran antara salah, gak enak, dan malu. Intinya merasa bersalah, karena telah sembarangan melakukan hal bodoh.
"Ra..." panggil Rio lagi.
Ara menutup lemari tersebut, dan langsung berdiri dan berbalik menghadap Rio. Namun dirinya tak mau menatap wajah Rio, Ara memilih menundukan wajah rasa malunya karena tertangkap basah telah menyentuh hal miliknya.
Rio bereaksi terkejut, bergetar gelas yang ia pegang. Kenapa Ara hanya menggunkan handuk saja ? Ini lebih mini di bandingkan hari lalu, bersemu kedua pipi Rio. Rio berusaha mengendalikan dirinya, tak menampik hasratnya sebagai lelaki tergugah dan di uji. Ia lelaki normal, apalagi wanita yang di depannya ini wanita yang telah halal untuk dirinya.
"K-kamu ngapain di situ?" Tanya Rio
"Hm, anu, aku...." Ara bingung ingin berkata apa jika sudah begini.
"Hey, aku lagi ngomong sama kamu," ucap Rio.
"Ya, aku tahu!" Angguk pelan Ara namun tetap tertunduk.
"Maksud aku, kalau aku ngomong sama kamu tatap muka aku. Aku gak suka, lagi bicara tapi lawan bicaranya gak natap aku!"
"Oke," manut Ara.
Ara mengangkat wajahnya ke depan, tapi pandangan tertuju ke bawah.
"Aku bilang pandangan bukan wajah."
Ara benar-benar malu, kalau bisa ia menghilang secara misterius tak semalu ini dirinya. Ara terus memaki dirinya sendiri.
Dengan berat hati, Ara memutar kedua bola matanya mengarah ke depan. Bersamaan menelan ludah ketika menatap wajah Rio.
Jantungnya berpacu, gelisah pula. Oh, rupanya Rio ke bawah mengambil air, terlihat gelas kaca di genggamannya.
"Kenapa gak pake baju?" Tanyanya santai dengan mata melihat Ara dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Mulai Ara merasa risih dan tersadar, tangan kanannya menutup bagian atas dada yang terbuka, tangan kirinya menarik-narik ujung handuk berharap agar bisa turun sedikit menutup pahanya yang terpampang.
"Baju aku basah," lirihnya.
"Hah, basah? kok bisa?!"
"Ya bisalah, jatuh ke air," ujarnya sembari tangan kirinya terus menarik-narik ujung handuk.
Rio tahu Ara sedang gelisah, gerakan kedua tangannya terus menutupi bagian yang terbuka.
"Terus gak ada baju?"
"Iya, baju ku kamu taro mana?" Tanya Ara barangkali memang ada di simpan di kamar Rio, masa barang-barangnya ada tapi baju selembar pun gak di bawa.
Tak menjawab, Rio terlihat menghampiri Ara. Ara mundur beberapa langkah guna mewanti-wanti. Tapi salah ternyata Rio menghampiri lemari pakaiannya. Ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya.
"Nih!" Rio menyodorkan kemeja putihnya ke Ara.
Ara sedikit terkejut melihat Rio menyodorkan kemeja miliknya ke dirinya. Ara menatap Rio untuk mengetahui akan maksud apa Rio memberikan kemeja untuknya dari bola matanya.
Isyarat mata Rio jelas menyuruh Ara untuk mengambil kemeja tersebut. Namun balik lagi, Ara menatap kemeja putih polos di genggaman Rio.
"Ambil!" Ucap Rio.
"Hah, untuk apa?"
"Untuk kamu pake lah," ungkapnya seraya menyodorkan kemeja tersebut.
Ara menggeleng kepala, "Em, baju ku emang gak ada di sini?"
Ara sedikit ragu untuk menerima kemeja tersebut, entahlah semenjak Bi Imah mengatakan barang apapun milik Rio jika ada yang menyentuhnya akan ia buang.
Bukan apa, sebenarnya tak masalah sih. Hak dia, sifat dia. Tapi bagi Ara kesannya sesuatu seperti itu terlihat dirinya ini kotor. Tak pantas menerima, lebih baik menolak ketimbang merasa diri ini gak ada harga dirinya.
"Gak ada, cuma barangmu aja yang di taro di sini. Bajunya masih di kamar sebelah, kalau Mama tanya bilang aja lemari ku terlalu penuh buat naro baju-baju mu," jelas Rio.
"Oh," hanya itu yang terlontar di bibir Ara.
"Ini, ambil, pake!" Perintah Rio.
Ara masih saja tidak mengambil kemeja Rio. Ara terdiam, menatap nanar kemeja putih yang masih betah Rio memegangnya untuk di berikan oleh Ara. Teringat bukannya Rio yang bilang sendiri untuk tidak mencampuri tentangnya, apalagi menyentuh miliknya.
"Kok diem sih, mau gak? Sampai besok pagi emangnya kamu mau begini," ucap Rio.
Ara menatap lagi sang lelaki yang biasa ia maki dengan sebutan tuan balok es ini. Ia telisik kedua bola mata Rio. Rio terlihat tulus, tidak di paksakan sepertinya. Ada yang berbeda darinya akhir-akhir ini. Ya memang terlihat berbeda. Apakah dia benar-benar.....
"Kamu kalau kayak gini sampai pagi, dan kita di satu ruangan begini. Aku sebagai lelaki gak jamin buat gak segan-segan nyentuh..."
Kemeja putih yang di genggam oleh Rio kini telah berpindah tangan ke tangan Ara. Dengan cepat tadi Ara mengambil kemeja tersebut setelah Rio mengatakan kata-kata 'nyentuh' yang membuat Ara menggendikan bahu ngeri.
"Ok pake!" Urusan dia alergi dengan barang di sentuh orang bodo amatlah. Toh, dia kaya tujuh keturunan. Masalah sebuah kemeja, dia bisa saja membeli satu perusahan konveksi untuknya. Ara tak mau menganggap ini serius. Lagian Rio sendiri yang menawarkannya.
Ara pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk memakai kemeja Rio.
---
Cklek!
Ara keluar dari kamar mandi, Rio pun melihat Ara yang baru keluar dari kamar mandi dengan menelan ludah kasarnya.
Ara gigu saat mata mereka saling pandang. Ia masih saja menarik bawah kemeja berharap agar menutupi bagian yang terbuka. Walaupun sudah memakai kemeja milik Rio, tapi masih saja paha putihnya terekspos.
Berdebar jantung Rio melihat penampilan Ara. Kemeja putih membalut tubuh Ara yang mungil, ukuran oversize jika yang memakai adalah Ara. Hasratnya jika melihat penampilan Ara begini semakin tak tertahankan.
"Kenapa?" Tanya Ara yang membuyarkan pikiran Rio yang tengah berkelana liar.
"Aneh ya?" Tanya Ara semakin tak pede, Rio menatapnya sampai segitunya.
"Oh, g-gak juga, lumayan lah. Daripada gak sama sekali entar kamunya sakit, ntar aku nya juga yang repot," ucap Rio tanpa meninggalkan sindiran dan nada dinginnya.
Sebenarnya tak bermaksud hati untuk berkata demikian. Ia hanya menutupi rasa kagumnya dan rasa gugupnya melihat penampilan Ara yang sedang berusaha mengoyak benteng imannya.
Ara mencebik mendadak wajahnya yang malu-malu tadinya berubah kesal, berjalan menuju sofa panjangnya dengan kaki yang sengaja ia hentakan tanda tak suka Rio mengatai dirinya adalah beban jika dirinya sakit.
"Siapa juga yang mau ngerepotin dia," gumamnya kesal.
"Eh, mau kemana?!"
"Mau tidurlah, udah jam berapa ini?"
"Gak boleh," tandasnya.
"Lah gak boleh gimana, maksudnya?" Mengerut dahi Ara tak paham.
"Temenin aku kerja," lah dia yang mau kerja hubungan dengan Ara apa.
"Nggak mau, kenapa aku juga yang harus nemenin kamu?" Tolak Ara seraya duduk di sofa bersiap untuk tidur.
"Ara, kamu udah ganggu jam tidur aku. Sekarang kamu tidur tanpa mikirin aku yang sekarang susah buat tidur!" Protes Rio.
Ara menoleh ke Rio yang sedang menudingnya pekara masalah tidur menidur. Ara langsung duduk tegap dan berhadapan dengannya 'si tuan balok es'.
"Kamu kok kamu nyalahin aku sih, tidur ya tidur aja, kenapa gak bisa tidur nyalahin aku!" Tak terima Ara.
"Kamu berisik, yang bangunin cuma masalah mau mandi. Mandi tinggal mandi, pake izin dulu. Gak, gak bakal tuh kamar mandi kalau kamu gak izin bakal ada jebakan batman," tudingnya semakin memancing Ara untuk tidak menahan berdebat dengan manusia entah terbuat dari apa.
Ara berdiri, sembari kedua tangannya terangkat ke arah Rio, geram sekali ingin meremas kepala Rio sampai gak berbentuk. Kepalan tangan Ara terlihat seperti orang memiliki dendam kesumat. Apalagi wajahnya yang meneggang.
Ia sampai kehabisan kata-kata, ia berdiri hanya biaa bergulat dengan bathin nya untuk memaki si Rio dengan kata-kata kesalnya. Ia juga menyadari memang, tapi Rio tidak perlu sampai sekesal itu.
---
Akhirnya melewati perdebatan yang panjang dan penuh emosi 'bathin'. Ara pun sekarang duduk di sisi Rio dalam satu ranjang. Memperhatikan Rio yang tengah baku ketik dengan laptopnya.
Ara hanya di suruh duduk di sisinya, gak boleh tidur sebelum pekerjaan Rio selesai. Itu permintaan Rio, alasannya ia tidak adil saja Ara tidur dia yang sulit tidur.
***
Maaf ya kalau banyak typo