
"Makasih, ya Mas."
"Sama-sama," ucap kang ojol setelah menerima helm dan uang dari Ara yang baru saja pulang dari kerja.
"Eh, Neng Ara udah pulang," sapa Kang Odi yang langsung membuka pagar untuk Ara.
Ara tersenyum, "iya kang."
"Hoek ... uhuk ... uhuk ... "
Ara kaget yang tiba-tiba mendengar suara mual berserta batuk seseorang. Otomatis Ara menoleh ke arah sumber suara. Dirinya berjingkrak berputar ke belakang hingga tubuh belakangnya terbentur pagar.
"Kang, dia siapa!" tunjuk Ara ketakutan.
Ara melihat seseorang lelaki yang duduk sembarangan di paving dengan keadaan kacau. Seperti sedang mabuk berat, kepalanya hanya tertunduk.
"Oh, itu. Akang malah mau tanya sama Neng Ara. Dia siapa?"
"Loh, kok jadi tanya saya."
"Gak tau, tadi ini laki datang sama temennya kayaknya. Temennya sih normal, dia ini aja yang gak sadar."
"Lah, sekarang mana temennya. Kok di tinggal gitu aja di sini."
"Justru itu, temennya tadi bilang kalau Neng Ara datang. Biar ni lelaki Neng yang urus," jelas Kang Odi.
Jelas Ara bingung pake banget. Sejak kapan Ara punya sanak saudara yang tetiba di suruh mengurus orang yang tidak tau rimbanya.
Tapi lamat-lamat ia perhatikan. Pawakan tubuh si pria ini tidak asing. Ara nekat mendekati pria yang sedang mabuk berat dengan perasaan takut. Kakinya sedikit demi sedikit mendekati si pria.
"Hati-hati Neng," ujar Kang Odi.
"Per ... permisi ...." tangan Ara terjulur mencoba menyentuh pundak pria asing itu.
Wajah pria itu pun mendongak seketika saat tangan Ara menyentuh pundak pria itu. "Hah!"
Ara terkejut, bibirnya menganga tak percaya.
"Rio?" lirihnya.
Kembali wajah Rio tertunduk menyembunyikan wajah merahnya di karenakan mabuk berat. Terdengar Rio berceloteh tak jelas.
"Kang," Ara langsung mendekati Kang Odi dengan wajah masih kaget. "Ciri-ciri yang antar pria ini siapa? Kang Odi ingat?"
"Em, Kang Odi gak begitu ingat. Yang Kang Odi ingat cuma temennya ini bawa mobil bagus banget. Pasti kaya temennya, Neng kenal sama lelaki ini?" tunjuk Kang Odi ke arah Rio.
Ara hanya mengangguk, perasaannya masih terbawa tak menyangka. Rio datang dengan keadaan kacau dan tidak sadar sepenuhnya.
Ara bingung sekarang, mau di bawa kemana Rio. Tidak mungkin di bawa masuk ke dalam kostnya, ataupun di bawa ke rumah Mama Fani, itu sangat tidak mungkin. Ara takut membuat Mamah Fani merasa sedih melihat keadaan Rio yang tak karu-karuan.
"Eh!" Ara segera mendekati Rio segera karena Rio hampir membaringkan tubuhnya di lantai paving .
"Jangan tidur di sini, ayo berdiri!" Ara memapah tubuh Rio.
"Mending di bawa pulang ke rumah aja, kenapa susah-susah mikir. Dia 'kan punya rumah sendiri," batin Ara seraya berusaha mengimbangi pijakannya.
"Kang Odi, tolong berhentiin taksi itu."
Segera Kang Odi melambaikan tangan ke arah jalan, memberhentikan mobil taksi yang kebetulan mau melewati jalan di area depan kost Ara.
Mobil pun berhenti dan menepi. Kang Odi membantu membuka pintu taksi, Ara pun memapah tubuh Rio dengan di bantu Kang Odi untuk di dudukan di dalam mobil taksi. Dengan susah payah, akhirnya selesai. Sebelum pergi Ara pamit dan berkata terima kasih karena telah merepotkan.
___
"Astaga!" Ngeluh dan pasrah Ara.
Tubuh Rio awalnya bersandar di pundak Ara. Karena jalan tak selalu mulus, lama-lama kepala Rio pun merosot. Ara mencoba berulang kali menahan kepala Rio agar tak jatuh. Tetapi, entah itu polisi tidur. Ada guncangan membuat kepala Rio mendarat di atas kedua paha Ara dengan begitu cepat.
"Maaf, Mbak. Polisi tidur, saya gak perhatikan dengan benar," ujar supir taksi karena guncangannya lumayan keras.
"Gak papa, Pak," jawab Ara pasrah. Ara hanya menepuk jidat sendiri. Merasa harinya sangat buruk hari ini. Apalagi melihat Rio yang semakin nyenyak dan nyaman tertidur di pangkuannya.
___
Sesampainya di rumah mereka, rumah yang mereka berdua tinggali. Entah mengapa Ara begitu merindukan aroma rumah ini yang sudah lama ia tak sambangi semenjak ia tinggal di indekos. Akhirnya ia datang kembali ke sini.
Kesusahan Ara belumlah berakhir, berulang kali Ara mengambil nafas berat melihat Rio yang semakin tak sadarkan diri.
Perlahan Ara berusaha memapah tubuh Rio untuk membawa masuk ke dalam rumah. Untung saja Ara masih memegang kunci rumah ini. Jadi Ara masih bisa masuk untuk mengantarkan Rio masuk sampai ke dalam.
"Rio, kamu itu nyusahin banget sih. Kalau ngajak susah begini, aku kena getahnya. Lagian bisa-bisanya kamu terdampar di kosan aku."
Dengan susah payah akhirnya Ara dapat membawa tubuh Rio yang bobot badannya lebih berat dari bobot badannya sendiri sampai di kamar. Lalu Ara pun membaringkan tubuh Rio dengan asal.
"Ya Allah, Ya Rabb!"
Terdengar erangan tak jelas dari mulut Rio. Tubuhnya mengulet ke sana ke mari.
Begitu Rio berbaring, Ara pun melepaskan sepasang sepatu dan kaos kaki Rio. Sepatunya, Ara letakan di tempat biasa. Kaos kaki ia masukan ke dalam keranjang kotor.
"Ya, ampun!" Jelas mata Ara melebar, keranjang baju kotor milik Rio sungguh membuat Ara geleng-geleng kepala. Bajunya sudah menggunung tak terurus.
"Emang gak bisa apa, di bawa ke laundry gitu. Daripada di biarin gini," omel Ara namun tangannya meraih pegangan keranjang untuk ia angkat.
Membawa keranjang baju kotor yang menggunung, Ara meninggalkan Rio untuk membawa semua ini ke lantai bawah.
Sebelum Ara benar-benar keluar dari kamar. Rio, sadar tak sadar. Matanya menangkap sosok tubuh yang tak asing baginya. Ia berpikir ini hanyalah mimpi bisa melihat Ara berada di dekatnya. Lama-lama matanya pun terlelap bersamaan sosok Ara yang menghilang.
___
Semenjak Bi Imah sudah tidak bekerja lagi. Semenjak Ara pun pergi. Rumah tidak terlihat rumah lagi bagi Ara. Benar-benar suasana rumah menunjukan keadaan si pemilik sebenarnya semenjak dirinya pergi.
Dapur pun bagi Ara bukan penampakan dapur lagi. Sampah bekas tempat makan sekali pakai pun di tinggalkan begitu saja. Bungkus-bungkus mi instan tak terhitung pun berserak di lantai.
Memang Rio begitu sudah tidak memikirkan dirinya lagi. Apa memang Rio benar-benar menyesal sekarang?
Melihat kesungguhannya akhir-akhir ini membuat hati Ara sedikit tersentuh. Dirinya seperti wanita yang benar-benar diinginkan Rio. Ara tahu, Rio menyukai dirinya. Terlihat jelas sikap-sikapnya yang kadang nampak menginginkan dirinya.
Tapi Ara kesal dengan pendirian Rio yang cenderung plin-plan terhadap perasaannya.
Entah mengapa setelah pertemuan dengan Mama Fani beberapa Minggu lalu di kafe tanpa sepengetahuan siapapun. Hati Ara semakin yakin, Rio memang takdirnya.
Di tambah kala itu, Mama Fani menceritakan kisah di balik kejadian hari dimana Ara angkat kaki dari rumahnya. Kisah kesalahpahamannya antara dirinya, Rio, dan Angel.
Ternyata Ara yang memang salah begitu kemakan api cemburu sehingga membuat dirinya di kuasai oleh amarah.
Tetapi kejadian itu membuat Rio terus mengambil langkah besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Ternyata ada benarnya di setiap masalah pasti akan ada hikmahnya.
Tentu Ara senang bukan main. Tentu pula obrolan nangis bombay di rumah Mama Fani adalah sandiwara untuk membuat Rio semakin mencari cara membawa dirinya kembali.
Rencana demi rencana telah ia susun bersama mama mertuanya. Biarlah sesekali membuat Rio jera. Memang harus begitu bukan, jika menginginkan sebuah berlian berharga harus berjuang untuk mendapatkannya dengan harga setimpal.
___