
"Kamu gila ya, ini adek kamu." Ucap Angel yang coba menyadarkan Rio.
Rio menatap sarkas ke arah Derry. Persetan dengan adik atau apapun. Rio sedang marah, emosinya cepat meluap saja melihat barusan Derry hendak mencium Ara di saat Ara tengah tertidur.
Derry mencoba berdiri tegap, ia rasakan nyeri di ujung sudut bibir. Derry tak kalah menatap mengintimidasi. Ini pertama kalinya Abangnya marah sampai memukul dirinya. Tadinya Derry menyesal telah melakukan hal tersebut.
Bagaimana pun Ara adalah kakak iparnya sekarang. Pemilik Abangnya. Terlalu kurang ajar memang dirinya mencintai sang Kakak ipar. Apalagi sampai kelewat batas seperti tadi.
Tapi rasa menyesalnya berubah menjadi ketidakterimanya melihat wanita yang tengah di sisi Rio. Rasa ngilu dan nyeri di pipinya tak terasa lagi. Kedua tangannya mengepal keras, nafasnya memburu.
Rasa amarah menguasai dirinya sekarang. Derry pasti kenal siapa wanita di depannya. Dia Angel sudah 3 tahun ia menghilang kini muncul di tengah-tengah hubungannya Ara dan Rio.
"Lo yang gila, Lo anggap apa Ara di mata lo ?" Derry menunjuk-nunjuk Rio.
"Bisa-bisanya lo nyakitin Ara terang terangan." Berdesis Derry, sumpah demi apapun hatinya sakit melihat sikap abangnya sendiri apalagi Ara.
Perasaan Rio mendengar kata-kata kasar dari adiknya sendiri sedikit malu ia menyadari hal itu. Tapi inilah Rio, ia sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Harus yang mana ia perjuangkan.
Angel, ia berdiri tertegun melihat kejadian yang sedang terjadi di depan matanya. Melihat dua lelaki bersaudara sedang meributkan tentang Ara.
Angel tak tahu apa arti pertengkaran antara mereka. Kenapa Ara? Bukannya Rio bilang Ara itu sepupunya, kenapa sekarang seperti ada dua pria saling memperebutkan hati wanita.
"Bukan urusan lo! " Rio langsung memapah tubuh Ara untuk di bawa masuk ke dalam kamar.
Derry hanya bisa melihat Rio membawa tubuh Ara masuk ke dalam kamar. Hatinya sakit untuk keduanya. Di sisi Ara, jujur dirinya memang mencintai Ara sejak pertama kali mereka bertemu.
Mungkin bisa di bilang sakitnya Ara juga sakitnya Derry. Dan di sisi Rio, kenapa harus Ara yang di sakiti. Kenapa juga abangnya bertindak kelewatan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah mereka kedua yang notabene suami istri.
Angel mendekati Derry, "Lo gak papa? "
Niat hati ingin melihat luka di ujung sudut bibir Derry. Namun Derry tepis tangan Angel dan menatap tajam ke arahnya. Angel langsung mundur beberapa langkah. Derry tidak bersahabat dengannya. Tatapan Derry seolah makna ada kebencian untuknya.
"Jauhin Abang gue kalo lo gak mau di sakiti." Derry pergi begitu saja setelah berbicara seperti itu kepada Angel
Angel termenung sejenak mencoba mengartikan kalimat Derry barusan. Apa ada kaitannya dengan kejadian tadi? Ara?
***
Rio frustasi dengan dirinya sendiri. Wajahnya ia tenggelamkan ke bawah. Menarik-narik kuat rambutnya. Kata-kata Derry terngiang-ngiang di telinganya. Scene di mana Derry tadi ingin mencium Ara.
Memory otak kepalanya berputar cepat ke belakang. Rio langsung mengingat kejadian sebelum ia menikah dengan Ara. Dimana Derry pernah berpesan untuk tidak menyakiti Ara di kemudian hari jika Rio telah menikah dengan Ara.
Rio menganggap perkataan Derry dahulu hanya sebuah pesan wajar saja. Tapi, Derry lah orang yang pertama kali bertemu Ara sebelum dirinya. Apa mungkin Derry memiliki perasaan dengan Ara?
***
Pagi hari, sinar mentari menerangi seluruh sudut ruang kamar Ara. Ia terbangun karena jam weker miliknya berbunyi. Tangannya terulur untuk memberhentikan suara berisik dari jam tersebut.
Enggan rasanya untuk membuka mata dan bangun memulai hari ini. Weekend ini terlalu panjang untuk Ara. Lebih baik kemarin ia pulang saja ke Bandung.
Dua hari cukup sekedar untuk meliburkan diri berkumpul dengan keluarga mengobati rasa kerinduan. Ara tatap jendela yang sudah terbuka di sana, sinar matahari menyorot lembut.
Lalu ia bangun duduk, dia baru ingat seharusnya dia bersama Derry. Tapi kenapa sekarang dia di kamar. Ara mencoba mengingat, mungkin Derry yang membawanya masuk.
Ara kembali merebahkan diri, tapi ujung ekor matanya menangkap siluet tubuh seseorang di sisinya. Ara langsung menoleh ke sosok tersebut. Ia sudah berfikir itu adalah Derry, kacau jika itu Derry yang tidur satu ranjang dengannya. Tapi ia lega.
"Syukurlah, bukan."
Ara sekarang mulai terbiasa dengan hadirnya Rio. Apa yang harus di takuti, toh mereka sudah menikah, halal pastinya. Tak akan ada orang yang memergoki karena tidur seranjang bukan. Terlalu lucu jika itu terjadi.
Ara bangun, ia harus mandi. Lalu, entah belum ada rencana.
20 menit Ara mandi, ia keluar sudah memakai baju santainya. Sambil mengeringkan rambutnya.
"Udah pergi? " Kata Ara melihat ranjangnya yang sudah tidak ada Rio di sana.
Ara memandang luar jendela. Pagi hari yang harus ia lakukan setelah mandi adalah harus melihat tanaman yang ia buat di sana. Belum ada kuncup bunga yang ada hanya tunas-tunas kecil. Ada kepuasan sendiri setelah melihatnya.
***