Kesombongan Surgawi

Kesombongan Surgawi
Bab 56 - Mati


Sejak awal tujuan Han Sen adalah membiarkan Chai Ying untuk mendapatkan pengalaman. Khususnya adalah pengalaman mengambil hidup orang lain.


Fan Lim memang berada di Alam Nascent Soul namun keterampilan Chai Ying sebenarnya sudah cukup untuk membunuhnya. Memang ada perasaan yang tidak menyenangkan untuk pertama kalinya membunuh seseorang, tapi hal ini tidak akan menerima kebaikan semacam itu.


Chai Ying merasa panik dan dirinya tidak ingin pergi dari sisi Han Sen, "Maaf Tuan... aku tidak akan mengulanginya !"


Fan Lim menerjang kearah Chai Ying dengan marah dan dalam posisi tidak siap Chai Ying terkena pukulan. Tubuhnya terseret kebelakang dan membentur dinding, sudut mulutnya mengeluarkan darah dan sorot matanya menjadi sangat tajam.


"Karena Tuanku ingin kau mati maka matilah !" Chai Ying mengayunkan Pedangnya sekuat tenaga.


Qi Pedang membentuk sebuah bilah yang sangat ganas, dengan panik Fan Lim menghindar dan tiba-tiba tubuhnya bergetar seolah mendapatkan tekanan yang luar biasa.


Semua penonton merasa bingung dengan reaksi Fan Lim, namun beberapa orang kuat sangat paham dengan apa yang terjadi. Diusia 17 tahun Gadis itu dapat menggunakan Niat Pedang yang sangat kuat, bahkan Luo Feng tidak memiliki keyakinan penuh untuk berani menahan Qi Pedang itu.


Walaupun dia bisa menyelamatkan hidupnya namun luka yang dia derita pasti akan menyakitkan. Pertarungan ini jelas akan dimenangkan oleh Chai Ying, walaupun Kultivasinya dibawah Fan Lim tapi pemahaman Niat Pedangnya bukan sesuatu yang bisa ditahan oleh sembarangan orang.


Pedang Chai Ying melayang diatas kepalanya dan memancarkan Aura yang sangat kuat sekaligus menyilaukan. Pedang itu berputar-putar dan Qi Pedang yang sangat ganas mengamuk diudara.


Chai Ying melambaikan tangannya dan Pedang itu melesat kearah Fan Lim dengan kecepatan cahaya. Merasakan tekanan Niat Pedang yang kuat Fan Lim tidak dapat menghindar dan dadanya tertusuk oleh Pedang hingga menciptakan lubang yang jelas.


Jantungnya hancur dan darah menyembur dari lukanya. Fan Lim mati dibawah keganasan Pedang Chai Ying, Aura membunuh meledak dari belakang Chai Ying dan itu merupakan Fan Hai yang berniat untuk membunuhnya.


Semua orang terkejut melihat hal ini dan dilihat dari manapun Fan Hai sudah melanggar aturan Arena. Namun sebelum tangannya dapat mencapai Chai Ying, kilatan petir muncul disampingnya dan itu merupakan Han Sen.


Han Sen menendang wajah Fan Hai dengan pelan dan membuatnya menyingkir, "Apakah kau pikir aku ini orang buta yang akan membiarkanmu menyentuhnya. Karena kau terlalu tidak sabar untuk mati maka mari kita lakukan sekarang juga !"


Tetua 9 segera turun dan berhadapan langsung dengan Han Sen, "Patriak... biarkan aku yang maju terlebih dahulu... untuk menghadapi Tahap Awal Alam Nascent Soul sepertinya aku sendiri sudah cukup !"


Fan Hai mengangguk dan mengukur kekuatan lawannya juga sangat penting. Namun Han Sen tersenyum dan berkata, "Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya... untuk menghemat waktu kalian bisa maju bersama-sama. Jangan membuang waktu yang tidak perlu, dendam Keluarga Han akan berakhir hari ini juga !"


"Sombong juga ada batasannya Bocah." Tetua 9 melesat kearah Han Sen dan Auranya meledak dengan gila.


Qi berkumpul ditangan kanannya dan telapak tangan yang kuat tepat mengenai dada Han Sen, ledakan Qi yang ganas membuat arena sedikit berguncang dan semua orang terkejut dengan keberanian Han Sen yang merima telapak tangan itu.


Perlahan sosok mereka berdua terlihat sangat jelas dan Han Sen sama sekali tidak bergerak dari tempatnya ataupun melakukan gerakan bertahan, dia selamat tanpa memiliki luka apapun ditubuhnya seolah telapak tangan itu hanya sebatas candaan untuknya.


"Seni Beladiri yang bagus... sayang sekali penggunanya adalah sampah. Akan aku tunjukan kepadamu apa yang disebut dengan kekuatan yang sebenarnya !" Kata Han Sen sambil mencengkram lengan Tetua 9.


Han Sen menariknya kearahnya dan lututnya menghantam tepat diperut Tetua 9, beberapa tulang rusuknya patah dan jeritan kesakitan terdengar sangat menyedihkan.


Semua orang yakin bahwa dari teriakan kesakitan itu pasti terasa sangat menyakitkan. Han Sen menahan kepala Tetua 9 dengan kakinya dan menatap Fan Hai dengan senyum yang puas.


"Lepaskan dia Bocah !" Teriak Fan Hai dengan marah.


"Lepaskan... dalam mimpimu." Han Sen menginjak kepalanya dengan keras dan membuatnya hancur.


Pemandangan ini sangat mengerikan dan seorang Tetua yang berada di Tahap Akhir Nascent Soul mati tanpa memiliki harga diri.


"Ketika kalian membantai Keluarga Han... apakah kalian melepaskan mereka setelah Keluarga Han memohon ampunan. Kita sudahi saja omong kosong ini, hari ini kalian semua akan mati sebagai bentuk penebusan dosa yang sudah kalian lakukan kepadaku." Kata Han Sen dengan keras.