
Han Sen mengangguk dan bersulang, "Junior harus bersyukur karena masih tetap hidup... mereka yang mati hanya meninggalkan kenangan bagi mereka yang masih hidup. Tidak ada yang abadi di Dunia ini, Raja yang agung sekalipun suatu saat akan turun dari singgasana miliknya. Bahkan makhluk abadi masih bisa dibunuh oleh makhluk abadi lainya."
Yun Zhi tersenyum dan meminum araknya, "Hah... kebijaksanaan Senior memang luar biasa. Pasti Senior akan populer dikalangan banyak wanita, di Sekte Embun Beku hanya ada sekumpulan Gadis yang belum melihat Dunia. Aku yakin kedatangan Senior kesana pasti menarik minat mereka !"
Han Sen menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan geli. Apa yang didunia ini yang tidak bisa didapatkan dengan kekuatan, Han Sen sudah merasakan berbagai pengalaman di kehidupan sebelumnya sebagai Han Xuan.
Bahkan dulu jika dia ingin tidur dengan wanita mereka tidak akan menolaknya. Namun manusia terus tumbuh dan pikiran mereka akan menjadi lebih dewasa dalam mengambil keputusan.
Yun Zhi merasa sangat senang bisa berbicara banyak dengan Han Sen. Mereka melanjutkan minum bersama dan mabuk untuk menenangkan diri.
Keesokan paginya Yun Zhi bangun dan kepalanya terasa sangat pusing. Dirinya tidur diranjang yang sama dengan Han Sen dan sedikit terkejut, segera dia bangun dan merapikan dirinya dan untungnya tidak terjadi sesuatu kepada mereka.
Han Sen juga ikut bangun dan terlihat sama sekali tidak peduli. Hanya Yun Zhi saja yang terlihat panik dan Han Sen menghela nafas, hanya dalam semalam energi Alam yang sudah dia kumpulkan semuanya sudah kembali.
Cincin Semesta didalam tubuhnya menjadi lebih kuat dan Buku Rahasia Alam membuatnya dapat pulih lebih cepat.
"Junior... bagaimana jika kita berangkat sekarang ?" Tanya Han Sen dengan santai.
"Apakah Senior yakin sudah memulihkan energi ?" Yun Zhi sekali lagi memastikan kesiapan Han Sen.
"Ya... pemulihanku jauh lebih cepat dari orang biasa." Jawab Han Sen sambil merapikan pakaiannya.
"Kalau begitu tidak akan jadi masalah." Yun Zhi dengan cepat berbalik dan menghindari kontak mata dengan Han Sen.
Setelah mereka bersiap-siap akhirnya mereka berdua terbang kearah selatan untuk menemukan Rawa. Beberapa hari sudah berlalu dan mereka akhirnya keluar dari Medan salju, didepan mereka saat ini terdapat hutan dengan kabut yang tidak lain adalah racun.
Aura Han Sen meledak dengan gila dan dia berniat memancing Beast ini keluar. Raungan yang ganas membuat tempat itu berguncang hebat dan sosok Hydra dengan tiga kepala keluar, racun yang sangat ganas menyembur kearah mereka berdua dan dengan cepat mereka menghindar.
Han Sen mengerutkan keningnya dan berteriak, "Kau seharusnya bisa memahami perkataanku ini mengingat dari umurmu yang sudah tua. Katakan padaku dimana keberadaan Pulau Melayang itu, jika kau mau bekerjasama maka aku tidak akan mengambil hidupmu."
*Groar.*
Hydra meraung dengan marah dan gelombang Qi yang sangat kuat menyembur dari ketiga kepalanya. Han Sen melemparkan Plat Array keatas langit dan sebuah formasi pertahanan membentuk sebuah kubah yang dilapisi Qi yang sangat tebal.
Yun Zhi merasakan tekanan yang sangat berat dari Hydra dan level pertarungan ini bukan sesuatu yang bisa dia masuki. Sekarang hidup dan matinya berada ditangan Han Sen, dia hanya berharap bahwa Han Sen benar-benar mampu untuk mengalahkannya.
Gelombang Qi itu berhasil ditahan namun racun yang kuat dan membuat Formasi pertahanan meleleh. Han Sen dapat memperkirakan bahwa Formasi ini hanya akan bertahan dua serangan lagi sebelum sepenuhnya hancur.
Han Sen mengeluarkan Plat Array yang satunya dan membentuk sebuah segel. Sebuah Array terbentuk dibawah kakinya dan empat ekor Naga emas perlahan mulai terbentuk.
Empat Naga itu melesat kearah Hydra dan menggigit tubuhnya dengan kuat. Sisik Hydra tidak dapat melindunginya dari serangan empat Naga milik Han Sen dan dengan marah Auranya meledak.
"Jangan pikir kau bisa bergerak !" Han Sen merubah segel ditangannya dan keempat Naga itu bersatu menjadi sebuah Pedang besar yang luar biasa.
Pedang itu berayun dengan kecepatan yang sangat cepat. Dua kepala Hydra terpotong dengan mudah dan raungan kesakitan menggema diseluruh tempat itu.
Han Sen sendiri juga terengah-engah dan dia cukup kelelahan untuk mengendalikan formasi ini seorang diri. Jiwa Naga Surgawi keluar dari dalam tubuh Han Sen dan raungannya menekan segala sesuatu yang ada dihadapannya.
Hydra merasakan penindasan yang luar biasa dan berkata, "Aku menyerah Manusia... mari kita bicarakan ini baik-baik !"