
Dua bulan berlalu dengan cepat dan tidak jauh dari lubang terdapat sebuah batu besar yang bergetar. Namun sebenarnya itu adalah sebuah tempurung kura-kura hitam yang bentuknya sangat mirip dengan sebuah Batu.
Untungnya ketika waktu dia tinggal berdua di Pulau Melayang dengan Yun Zhi dirinya sudah sedikit menyempurnakannya. Keberuntungan masih ada dipihaknya dan untungnya Tian Yan sama sekali tidak sadar ataupun curiga dengan hal ini.
Andai saja Tian Yan mencarinya lebih teliti dan tidak dikuasai oleh kemarahan, mungkin dia dapat menemukan sesuatu yang janggal dan pastinya Han Sen dapat ditemukan pada saat itu juga.
Namun kondisi Han Sen yang sekarang benar-benar sangat mengenaskan, semua otot ditubuhnya terasa sangat sakit dan bahkan untuk mengerang kesakitanpun dia tidak memiliki tenaga.
Ketika melakukan Tinju Raja Naga Elemen dirinya sudah sangat berlebihan. Tubuhnya tidak mampu menampung energi yang dia kumpulkan dan efek Pil Roh yang meningkatkan kekuatan fisiknya sekarang memberikan kerusakan yang berlipat ganda.
Meridiannya seolah dapat hancur kapan saja dan Han Sen tidak tahu kapan dia bisa bergerak dengan bebas. Tapi dia sama sekali tidak puas, jika bukan karena Tian Yan memiliki Pedang Kekacauan maka kemungkinan besar dia akan mati.
Untungnya saja Tian Yan tidak mampu menampilkan potensi penuhnya, jika tidak bahkan Han Sen sekalipun tidak akan mampu menghadapinya.
Pedang Kekacauan adalah Artifak yang dibuat Dewa Penyuling dijaman kuno. Han Sen hanya pernah membacanya dibuku dan tebakannya tidak mungkin salah, Artifak yang sudah lama hilang dan melampaui semua Artifak terbaik sekarang sudah muncul.
Jika hal ini terdengar ditelinga sekumpulan orang tua di Alam Mistik maka ini akan memicu perang besar dimana mereka akan memperebutkannya.
Setelah satu bulan Han Sen sudah bisa menggerakkan tubuhnya, dia menelan beberapa Pil Roh dan mulai bermeditasi untuk memulihkan dirinya. Kecepatannya sangat lambat dalam pemulihan dan bahkan dengan bantuan energi alam butuh waktu yang cukup lama.
Setahun sudah berlalu dengan cepat dan Han Sen segera keluar dari tempurung kura-kura hitam, perlahan ukurannya mulai menyusut seperti perisai dan Han Sen menyimpannya kembali.
"Sepertinya Dewa Pedang sudah meninggalkan Benua ini, tunggu saja saat waktunya tiba maka semua hal buruk ini akan aku balas berkali-kali lipat. Sekarang aku harus berusaha yang terbaik untuk menyembuhkan Meridianku, setelah itu aku akan mencoba menerobos dengan cepat." Han Sen menetapkan niatnya dan segera pergi.
"Tidak heran mengapa tidak ada satupun orang yang dapat masuk ke Lapisan kelima, bahkan aku sendiri tidak yakin untuk berani menerobos masuk kesana !" Han Sen berkata dengan santai sambil menyembunyikan hawa keberadaannya.
Han Sen melihat kebawah dan terlihat sebuah jurang yang sangat dalam. Tepat dibawah seharusnya ada sebuah Gua dan sepertinya ini tidak akan berjalan dengan mudah untuknya mengingat Han Sen dapat merasakan Aura Beast Alam Virtual.
Bayangan hitam menyelimuti tubuh Han Sen dan segera dia masuk kedalam dengan sangat cepat, dia menyusuri Jurang itu dan melewati Beast dengan sangat hati-hati.
Kondisi tubuhnya yang sekarang tidak memungkinkan baginya untuk bertarung, bahkan untuk lari saja pasti akan merepotkan untuknya. Jadi dia harus melangkah dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian sekumpulan Beast yang berbahaya.
Setelah beberapa waktu akhirnya Han Sen melihat sebuah Gua atau lebih tepatnya sebuah lorong yang dibuat oleh manusia. Han Sen segera masuk kedalam dan tidak memikirkan apapun lagi.
Buku Rahasia Alam tiba-tiba keluar dari dalam Laut Kesadaran Ilahinya dan bersinar, Buku itu seolah sedang menuntun Han Sen untuk mengambil rute dan setiap belokannya Han Sen merasakan sesuatu yang aneh.
Setelah beberapa waktu akhirnya Han Sen sampai disebuah tempat yang cukup luas, Aura disana membuat tubuhnya menggigil dan Han Sen melihat sebuah Teratai hitam yang penuh dengan energi Kekacauan.
"Apakah tempat ini adalah sumber pembatas Qi Kekacauan yang ada diluar ?" Han Sen mulai menilai keadaan sekitarnya.
*Ngung.*
Buku Rahasia Alam mulai berdengung dan halaman demi halaman terbuka. Informasi yang sangat gila masuk kedalam kepala Han Sen dan dia benar-benar sangat terkejut.
"Yang benar saja... Teratai Kekacauan... apakah Buku ini menyarankanku untuk bunuh diri. Aku diminta untuk menyempurnakan Seni Qi dengan menyatukan energi alam Cincin Semesta dan Teratai Kekacauan. Bahkan dipuncak kekuatanku mustahil bagiku untuk melakukan hal tabu seperti ini, energi alam memang luar biasa namun Qi Kekacauan itu menolak kehidupan. Bahkan seorang yang dikenal dengan Dewa Penyuling berakhir mati dengan karya terakhirnya yaitu Pedang Kekacauan." Han Sen berpikir keras untuk sekarang dan memperhitungkan semuanya dengan matang.