
"Bima..Bima? Kalau gitu Rora punya dua cita-cita sekarang,Rora ingin jadi Barbie yang pintar memasak supaya Bima lindungi Rora terus".
Lagi dan lagi ingatan tentang gadis kecil bermata biru itu tercetak jelas di ingatan gw,saat gw sedang memeluk bianca erat.
Siapa kamu sebenarnya? kalau kamu memang ada ada didunia ini,cepatlah muncul di hadapan gw.
Terserah kalau kamu mau marah atau mau pukul gw hingga cacatpun gw akan diam.
Gw cuma akan bilang maaf kepadamu,karena dulu gw terlalu pengecut dan tidak bisa melindungi kamu.
Mungkin karena rasa bersalah dan penyesalan tidak bisa lindungi kamu lah,gw berubah seperti ini.
Menjadi tidak terkontrol saat orang lain mencoba sakiti orang-orang terdekat gw.
Rora atau siapapun namamu Bima siap menjadi Ultramen yang akan selalu lindungi kamu jadi cepat-cepatlah loe muncul.
###
Saat fikiran gw melayang kemana-mana,Bianca melepas pelukan gw pelan.
Dia menatap sendu ke wajah gw yang terdapat darah mengalir dari pelipis gw dan sudut bibir gw.
Tanpa mengucap sepatah katapun dia mengusap darah yang mengalir itu dan menyeka sudut bibir gw lembut.
"Bimo maaf,aku tau kamu melakukan ini untuk lindungi aku.Tapi aku takut melihat kamu seperti orang lain seperti itu". Bianca bicara dengan menuduk.
Gw pengang kedua pipinya dan gw angkat untuk melihat gw.
"Kamu gak salah Bie,mungkin gw terlalu takut aja mereka akan sakiti kamu.Jadi gw gak berbelas kasih".
"Dan gw suka kalau loe mau selalu ingatkan gw,kalau suatu saat nanti gw melewati batas lagi".
"Loe mau kan lakukan itu untuk gw??"
"Aku mau Bimo,aku mau" Bianca bicara dan memeluk gw erat.
Gw tersenyum dan menyambut pelukan Bianca.
Bang Anton yang tepat di depan gw,tersenyum seakan mendengar suara hati gw.
"Bie sekarang kita jalan lagi ya! disini masih berbahaya kita harus cepat keluar dari gedung ini".Gw bicara dan melepaskan empuknya pelukan Bianca.
Dan bianca hanya mengganguk dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
"Bang Anton kita jalan lagi".
"Ok Bim! jawab bang Anton singkat.
Gw menengok kebelakang dan langsung bertemu kepala Reza yang terbungkus helm full face yang dia ambil dari orang yang gw buat pingsan.
"Plaakk!!! gw pukul pelan itu helm.
"Kagetin gw aja lu yet,Ayok kita jalan tetap dalam formasi dan lu Din tetep waspada liat belakang".
"Ok Abang tampan".
Tumben itu anak cebong puji gw.
Dan kita pun berjalan memasuki pintu darurat warna merah.
Di depan gw liat banyak anak tangga menurun.
"Setiap lantai ada berapa tangga bang Anton?" Gw bertanya sambil kita berjalan pelan turun.
"lantai 3 ini menuju ke lantai 2 ada 45 tangga Bim,begitu juga lantai 2 ke lantai 1.Jadi kita harus menuruni 90 anak tangga untuk sampai di lantai dasar". Bang Anton menjawab sambil kami terus menuruni anak tangga.
"Bie,kamu capek gak?".Gw bertanya sama Bianca yang ada di depan gw.
"Enggak Bimo,emang kenapa?" Dia menjawab tanpa melihat gw.Wajar sih bisa glinding ke bawah dia kalau meleng dikit aja.
"Gak apa-apa,kalau kamu capek biar loe gw gendong".
Gw liat dari belakang merah itu kuping dia.
"Lain kali aja Bimo,aku gak mau repotin.Kamu kan lagi terluka".
"Cak,diriku capek cak! gendong dong" Reza membuka kaca helm full facenya dan minta gw gendong.
"Badan loe kan bulet dek Za,glinding aja biar cepat sampai bawah".
"Sudah berada di pihak Bimo ya dirimu kak Din? Kenapa dirimu takut ya, liat adik Wu Jing brutal seperti tadi?".
"Loe jangan memutar balikan fakta ya Za,siapa tadi yang minta dipeluk dan tutup mata saat liat Bimo gelut,kan elo!".
Gw,bianca dan bang Anton yang mendengar itu tidak bisa menahan tawa kami.
"Ahh kau cak,kenapa dirimu bilang itu disini! Dari suaranya Reza terlihat malu.
"Bim jujur gw bangga punya temen seperti loe"
"Iya cak dirimu keren banget tadi,kata-kata yang kamu ucapkan dan cara kamu jatuhin orang-orang kekar tadi sangat keren.Diriku juga bangga punya temen seperti dirimu".
"Gw yang kagak bangga nyet punya temen kek lu berdua" Jawab gw ngasal yang membuat Bianca dan bang Anton kembali tertawa.
"Bicara dirimu bikin kita sakit hati cak,bukan begitu kak Din?"
"Betul itu dek Za?".
"Ingat Bim,rahasia loe ada ditangan kami semua! Udin mengancam.
"Rahasia apa?" Bianca di depan gw bicara.
"Gak kok Bie,jangan percaya sama 2 anak cebong ini mereka emang gitu kalau lagi ngambek".
"Oh aku kira rahasia apa".
Gw menengok kebelakang dan langsung gw beri 2 anak cebong ini tatapan tajam.
Yang membuat Reza langsung menutup lagi kaca helm yang dia pakai.
Dan Udin pura-pura melihat ke arah samping.
Rombangan formasi kami sudah melewati lantai dua dan sekarang kami masih menuruni tangga menuju lantai dasar.
Bang Anton tiba-tiba berhenti,yang membuat kami pun berhenti.
"Ada apa bang?" Tanya gw waspada.
"Gw denger suara orang naik tangga Bim?".
Dan benar saja di bawah sana gw liat ada satu orang memakai helm menaiki tangga dengan cepat dan bang Anton pun melihat itu.
"Bim,jaga noona Bianca.Ini tugas gw dibagian depan".
"Ok bang! hati-hati kalau butuh bantuan sebut aja nama gw 3x". Gw bercanda agar bang Anton sedikit tenang sebelum bertempur.
Dan itupun berhasil,dia tersenyum dan terlihat lebih tenang.
"Tenang aja Bim,sebagai anggota Zeuz gw sangat percaya diri dengan kemampuan gw.
Pria berhelm itu pun telah sampai di hadapan kami lebih tepatnya dihadapan bang Anton.
"Bie kamu jangan liat Bie".
Tanpa menunggu jawaban Bianca,gw balik tubuh dia dan langsung gw masukan kepelukan gw.
Bianca hanya diam saja dan kepala dia bersandar di pundak gw dengan mata terpejam sambil gw elus punggung dia.
"mau gw nyanyiin nina bobo gak Bie?".
"Plaakk!! tanpa bicara bianca memukul dada gw pelan.
Dan gw merasakan leher belakang gw di sentil-sentil sama jari.
Kampret ini 2 anak cebong,ganggu aja liat temennya senang.
Gw liat di depan tepatnya di anak tangga,bang Anton dan pria ber helm itu saling bertukar pukulan.
terlihat bang Anton lebih mendominasi,bang Anton juga terlihat Brutal saat bertarung.
Tangan dia sangat cepat dan yang buat gw kagum adalah dia dengan santai menghantam helm besar itu dengan tangan kosong berulang kali seakan itu tulang tangannya terbuat dari besi.