
Tidak ada adegan lanjutan setelah gua tarik tangan gila dari gundukan empuk, ekspresi wajah Bianca tampak aneh yang seakan-akan kecewa dia tadi itu, mungkin kecewa karena gua berhenti meremas.
Segera gua beralasan dengan kaki yang kram karena dia duduki dari tadi dan dengan cemberut Bianca kembali duduk di belakang kemudi.
"Sayang kamu enggak lupa kan?". Bianca bertanya sambil benerin gaunnya.
"Lupa tentang?". Tanya gua balik juga sambil pijit pelan kedua paha.
"Pesanan aku sayang, sebelum kamu ke Blora kan.. Aku udah pesan sesuatu ke kamu, jangan bilang kamu lupa?". Dengan penuh selidik Bianca menatap gua masih dengan cemberut
"Oh, ulat dan belalang itu ya?". Gua langsung menebak
"Ungker sayang bukan ular".
"Sama aja itu Bie". Gua langsung ambil tas dan membukanya, di perjalanan tadi dus kecil berisi pesanan Bianca gua masukkan ke dalam tas agar aman.
"Ini pesanan kamu, ulat nya masih mentah tapi untuk belakangnya udah di goreng itu kata penjualnya bisa busuk jika jual mentah". Belum gua sodorkan, tangan Bianca secepat kilat udah ambil dus kecil dari tangan gua.
"Belalang memang jualnya sudah di olah sayang tidak ada yang mentah". Sambil bicara Bianca membuka dus.
Kedua mata dia langsung berbinar melihat apa yang dia inginkan di dalam dus itu.
Seperti orang yang tidak sabar dia langsung mengambil beberapa belalang goreng dan mengunyahnya, " Hem.. enak sayang".
Cepat banget itu perubahan Bianca, abis nangis langsung cemberut, abis cemberut langsung tersenyum dan tampak bahagia banget cuma gara-gara ulat dan belalang goreng.
Sepertinya buat bahagia dia mudah banget, gua harus calling Jono ini.. Minggu depan jika dia ke Jogja harus bawa ulat dan belalang lagi.
"Bie bisa gak kamu makannya di rumah saja? Masih di pinggir jalan ini kita". Walau gua kagak mau ganggu kesenangan dia tetap saja gua ingin cepat balik kost dan mandi.
"Hehe, maaf sayang lupa aku kalau ada kamu". Bianca tersenyum jahil melihat gua.
"Bercanda kamu enggak lucu Bie, ayo ah cepat jalan.. Simpan dulu itu oleh-olehnya". Gua memberi perintah.
"Ke rumah aku kan sayang kita?". Sambil membersihkan bibirnya dengan tissue Bianca bertanya.
"Ngapain ke rumah kamu Bie? Ya antar aku ke kost lah".
"Masak kamu ke kost dalam keadaan gitu sayang, menginap di rumah aku aja.. Kamu udah pernah juga kan menginap di rumah dan juga nanti biar aku obati luka kamu itu".
"Aku capek sayang kalau di rumah kamu malah gak bisa istirahat nanti, pasti kakak kamu akan ajak ngobrol dan bertanya banyak hal.. aku ingin tidur nyenyak malam ini Bie".
"Terus luka kamu gimana?".
"Tenang saja, setelah istirahat juga akan berkurang sakitnya kamu jangan terlalu khawatir".
Bianca terdiam dan malah menunduk dia berubah sedih lagi, bener-bener cepat banget itu mood gua berganti.
"Aku kan masih rindu sayang sama kamu, aku menginap di kost kamu kalau gitu ya?". Bianca mendongak memandang gua penuh harap.
"Bie jangan mulai deh, kalau kamu menginap terus Joko gimana kalau tau kamu gak pulang? Bisa jadi tersangka aku, lupa ya jika kita masih backstreet di belakang Joko". Gua mengingatkan.
"Dan juga kalau kamu menginap malah aku enggak bisa istirahat, berada bersama kamu malam hari di ruangan tertutup pula".
"Sekuat-kuatnya iman aku dan sebersih-bersihnya otak ini tetap saja pasti akan tergoda untuk tusuk kamu".
Cuma 1 alasan yang tidak bisa gua katakan yaitu tentang keberadaan Amora.
"Sa yanggg..?". Bianca malah merengek, meraih dan memainkan tangan kanan gua, dia goyang ke kiri dan ke kan pelan.
"Jangan seperti anak kecil dong sayang".
"Tapi aku masih ingin sama-sama kamu Bimo". Bianca tetap kekeh, "Aku udah dandan gini masak cuma jadi supir?".
"Bie besok kan kita masih bisa bertemu di campus, besok aku ingin mengikuti mata kuliah untuk pertama kali".
Bianca langsung tampak terkejut, "Ada angin apa ini sayang kok kamu tiba-tiba ingin belajar".
"Ya gak ada angin apa-apa, aku kan juga mahasiswa wajar dong mengikuti pelajaran".
"Jadi besok aku bisa jemput kamu dong ya?". Bianca langsung bersemangat.
******! Harus cari alasan apa lagi ini gua buat nolak itu.
"Kita bertemu di campus saja sayang, campus sama kost aku kan berlawanan arah sama rumah kamu.. Mana tega aku liat kamu capek pagi-pagi".
"Mana mungkin aku capek sayang, malah senang kok aku jika berangkat ke campus bareng kamu". Bianca masih kekeh.
"Simpan saja tenaga kamu untuk kencan kita di campus nanti Bie, aku enggak mau kamu kecapekan.. please jangan melawan perkataan cowo kamu ini".
"Kencan?". Bianca tampak tersenyum bahagia.
"Iya nanti kita kencan di campus, kita bisa baca buku di perpustakaan atau makan di kantin dan juga mojok di tempat sepi".
"Sayang apa sih?". Bianca tampak malu-malu tapi kagak bisa nutupi senyuman di wajahnya, "Kata kamu kita backstreet dulu?".
"Iya asal tidak ketahuan kakak kamu soal anak-anak campus terserah lah kalau mereka tau, toh banyak yang gak kenal aku.. Mungkin mereka kita kita hanya temenan".
Gua mengambil resiko saat ini daripada Bianca bertemu Amora, di campus mungkin aman karena tidak ada salah satu peliharaan gua di sana.
Mungkin hanya ada satu wanita yang kemarin malam sempat hadir di dalam mimpi tapi gua kagak mau ambil pusing, toh gua dan Nissa kagak ada status apa-apa.
"Baik kalau gitu kamu berangkat sendiri saja, aku akan bangun pagi dan langsung ke salon.. untuk pertama kali jalan sama kamu di campus pokoknya aku harus dan wajib tampil cantik". Bianca mengepalkan tangannya bersemangat.
Berlebihan dan sampai segitunya ya cewe gua ini tapi gua langsung merasa lega dan bisa senderan di jok mobil dengan nyaman mengambil nafas panjang, dari tadi tegang gua.
Resiko punya cewe berceceran yang kek gini, apalagi 4 dari lima berada di kota yang sama.. Gua harus berusaha agar mereka tidak bertemu satu sama lain.
Gua juga harus pintar-pintar atur jadwal dan mempersiapkan berbagai alasan agar lebih mudah kedepannya untuk menghadapi berbagai situasi dan kemungkinan yang mendadak.
"Senang boleh Bie tapi jangan lupa kita masih di pinggir jalan ini dan juga adzan Maghrib udah berkumandang itu". Gua mengingatkan.
"Ok sayang kita berangkat sekarang, kamu tidur saja nanti saat udah mau sampai kost kamu aku bangunkan". Bianca langsung menyalakan mesin mobil.
"Tunggu sampai adzan selesai Bie, enggak baik tau.. Dulu aja saat aku tawuran di STM saat dengar adzan di pending dulu tawurannya dan sholat berjamaah bareng".
"Kalau aku percaya sama perkataan kamu itu berarti aku gila sayang, udah kamu tidur saja.. Kita berangkat sekarang". Pelan Bianca menginjak gas dan mobil pun melaju pelan.