Preman Campus

Preman Campus
IBLIS 2


Pria yang tubuh dan wajahnya tepat nempel di atas gw terus saja meronta dan berteriak-teriak disaat gigi tajam gw masih menempel di daging alat menarik okisigen yang bernama hidung.


Mulut gw rasanya juga sudah penuh akan darah dan sebelum gw nelen darah orang, gw kendorkan pegangan tangan gw di kepala musuh dan dengan sekali hentak dia bisa meloloskan diri dan mundur merangkak ke belakang sambil memegangi hidungnya.


Gw segera berdiri dan memuntahkan darah dari mulut, gw meludah beberapa kali tapi rasa asin darah masih saja menyengat.


"Aaahhh.. Hidung gua!!!!". Pria itu juga berdiri dan berteriak sambil terus memegangi hidungnya yang berlumur darah.


"Kenapa tong hidung lu?! Hahaha". Gw tertawa mencibir walaupun wajah juga nyeri akibat hantaman tadi tapi setidaknya gw kagak nunjukin rasa sakit yang gw alami di depan musuh. "Tenang tong walau hidung lu ancur masih ada lobang pantat buat lu bernafas". Gw lanjutkan mengihina dengan lidah dan mulut gw yang sudah kagak terkontrol dan tanpa sensor.


"Bajingan! Gw hancurin loe bangsat!". Masih dengan memeriksa hidungnya dia berteriak murka.


"Dari tadi bacot mulu lu tong, gw masih hidup dan baik-baik saja ini dan juga pukulan lu tadi kek pukulan banci, itu mukul apa nyolek lu!". Gw memprovokasi dengan senyum tipis merendahkan.


"GUA BUNUH LOE!!".


"GUA BUNUH LOEEE.. BANGSAAAAATTTTT!!!!".


Dengan kesetanan dia berlari menuju gw disaat hidungnya masih mengucur darah segar yang dia abaikan, terkadang memang seperti itu jika emosi sudah mengontrol fikiran manusia.. Nafsu membunuh lebih mendominasi daripada rasa sakit di tubuh.


"LU JUAL GUA BELI ANJINNGG!". Gw juga berteriak dan memfokuskan diri, kalau kali ini gw kagak bisa jatuhkan itu orang dengan 3 serangan, gw akan membuat malu nama Pramono yang ada di belakang nama gw ini, tekad gw bulatkan untuk segera abisin itu orang.


Serangan pukulan brutal dia lancarkan dan gw yang sudah menduga arah bogem itu dengan mudah menghindar dengan mundur kebelakang dengan gesit kek kancil abis nyolong timun dan dikejar pak tani.


Dia terus maju mengejar dengan serangan yang membabi buta yang hanya mengenai udara dan gw sangat suka dengan situasi seperti ini disaat musuh tidak berfikir jernih dan tibalah gw untuk bersinar.


"Wussssshhh!". Pukulan kuat tangan kanan meluncur ke wajah gw dan kali ini gw kagak mundur untuk menghindar melainkan menunduk dengan cepat dan menarik siku kebelakang, siap untuk menyerang.


Sebelum dia menyerang lagi, tinju gw sudah meluncur di saat posisi gw yang masih menunduk dan jongkok, sasaran pukulan pertama gw tentu saja alat bercocok tanam berbentuk batang.


"Buggkkkkk!". Hantaman gw mengenai sasaran tanpa ada kendala.


"Engeehhh..!!!". Suara tertahan keluar dari mulutnya dan kedua matanya terbelalak lebar.


"Aaaaaaa..!!!". Dilanjutkan dengan teriakan merdu yang gw tunggu-tunggu.


Reflek dia memegang alat vitalnya dan meloncat-loncat kecil sambil terus meronta.


"Berisik lu tong!". Gw dengan cepat maju menghampiri disaat dia rentan dan kagak fokus karena rasa sakit yang mungkin tidak seberapa tapi ngilunya itu yang tidak tertahankan.


Dia yang membelakangi gw, segera gw raih bahunya dan membalik tubuhnya untuk menghadap gw lagi.


Sontak dia terkejut dengan aksi gw dan ingin segera menjauh tapi pukulan kedua sudah gw siapkan dan meluncur terbang.


"Praaakkk!". Suara nyaring bogem mentah menghantam tulang rawan dan itu tepat sesuai dengan incaran gw yaitu lehernya.


"Aaaaaaaaa..!!! Uhukk-uhukkl!". Teriakan berserta batuk darah langsung gw dengar dan gw saksikan, sekarang kang parkir yang sempat buat gw kewalahan terjatuh di tanah dan glesotan dengan nafas megap-megap kek orang mau mampus.


Bimo kamu gak apa-apa?". Pelan gw dengar suara mbak Suci dari belakang.


"Diam disitu dulu mbak, jangan mendekat!". Gw langsung melarang disaat mbak Suci akan melangkahkan kakinya.


Dia tampak patuh dan kembali mundur dan tidak berucap apapun lagi.


Gw amati bajingan yang kesulitan bernafas di tanah, dia masih glesotan sambil memegangi batang lehernya dan tidak lama kemudian terlihat nafasnya mulai teratur kembali walau masih terengah-engah, sialan kagak jadi mampus ini orang.


Gw segera mengalihkan pandangan di sekeliling melihat ada batu besar tidak jauh dari gw, tanpa fikir panjang langsung gw hampiri dan ambil, gw angkat dengan dua tangan karena lumayan besar dan kuat.


Bimo kamu mau ngapain?!". Mbak Suci berteriak dari belakang dan langkah kakinya bisa gw dengar berlari dan benar saja kali ini dia kagak nurut dan menghampiri gw dengan cepat.


"Bimo, udah Bim.. Dia udah kalah dan kamu menang.. Udah ayo kita pergi saja". Mbak suci di samping gw berbicara sambil memegang lengan kanan gw, wajahnya sendu memandang adik yang baru saja dia kenal ini.


Gw langsung tatap tajam mbak Suci, entah ini gw sengaja atau memang secara gak sadar gw kagak tau, yang pasti gw masih haus akan darah.


Gw rasa saat ini muka gw tampak mengerikan karena Bimo yang ceria untuk sementara terdidur nyenyak dan tergantikan dengan Bimo yang tanpa belas kasih dan tanpa rasa peduli, Bimo yang haus akan darah.


Bagai seorang psikopat gila gw menampik dan melepaskan diri dari mbak Suci yang memegang gw, masih dengan mata merah yang menyala-nyala menatap tajam wajah cantiknya.


"Bimooo?". Mbak suci memanggil gw lirih dan pelan mundur menjauh dari gw, raut wajahnya tampak ketakutan tapi pandangan teduh dia kagak bisa lepas dari gw.


Gw alihkan pandangan ke depan tapi calon korban pemuas nafsu amarah gw menghilang tiba-tiba dan cuma ninggal darah doang di tanah.


Gw maju beberapa langkah kedepan dan melihat ke sekitar.


"Anjing! Lari kemala lu Anjing!!". Gw berteriak dengan murka.


Apa itu orang kabur saat gw teralihkan oleh mbak Suci.


Sialan Keparat! Walau gw menang dalam fight ini tapi masih ada hal yang menganjal kalau belum buat itu orang cacat.


Gw juga banyak kena tonjok tadi, setidaknya gw harus hancurin muka dia sama batu yang gw pegang ini.


Segala umpatan kekesalan gw teriakkan dalam hati tapi itu hanya sesaat karena fokus gw tiba-tiba berubah saat melihat kedepan, pintu rumah musuh dadakan gw itu terbuka yang semula tertutup.


Gw langsung tersenyum bengis, pasti kabur ke dalam itu orang.. Jika ketemu bakalan abis lu gimbal, gw tanpa ragu melangkahkan kaki mendekati pintu dengan rencana mencari itu orang.


Baru 2 langkah gw jalan indra pendengaran gw bereaksi saat ada suara memburu dari dalam rumah dan itu adalah suara orang berlari mendekat.


Gw langsung waspada dan benar saja pria itu muncul lagi dan berdiri di tengah pintu dengan membawa golok yang tampak mengkilap tajam di tangan.


"GUA CINCANG LOE BANGSAT!!!". Dia berteriak mengacungkan goloknya dan langsung berlari menuju gw.