
Bersama bang Jack gw menikmati whiskey yang langka setiap sesapan dan tegukan memang sangat terasa berbeda dari semua minuman setan yang pernah gw perkenalan ke lambung.
"Gimana Bim, apa minuman ini cocok dengan selera kamu". Bang Jack tersenyum sambil meminta gw untuk bersulang.
"Tingg!!". Suara dentingan 2 gelas bergesekan.
"Sangat cocok bang, ini merupakan asupan vitamin yang bagus untuk tubuh saya". Gw menjawab dan langsung menengak lagi whiskey setelah bersulang dengan bang Jack.
"Ha-ha-ha-ha, kamu memang unik". Bang Jack tertawa setelah meminum minumanya.
"Setelah ini rencana anda apa bang?".
"Mungkin saya akan mencari mata-mata itu di setiap markas Zeus. Saya ingin melihat siapa yang berani menghianati saya". Bang Jack berbicara dengan mengeluarkan nafsu membunuh yang tebal, terlihat dari sorot matanya yang tajam dan tegas.
"Iya itu lebih cepat lebih baik bang". Gw menjawab singkat
"Gimana menurut kamu Bram?". Bang jack bicara meminta pendapat tangan kanannya.
"Benar yang dikatakan Bimo bang, lebih cepat kita menangkap penghianat ini itu lebih baik". Bang Bram terlihat setuju dengan ucapan gw.
"Baik sekarang kita datangi markas cabang kita satu persatu dan kita liat apa ada orang memcurigakan, suruh semua orang untuk berkumpul di markas cabang kita masing-masing dan bilang saya akan membagikan bonus atas kemenangan menyerang Apollon kemarin, dengan begitu tidak ada anggota yang curiga".
"Siap bang, saya akan menghubungi setiap pemimpin cabang terlebih dahulu". Bang Bram langsung meraih hpnya dan berjalan ke luar ruangan dengan langkah cepat.
"Bim apa kamu mau ikut saya dan melihat penghianat itu?".
"Itu masalah internal Zeus bang dan saya bukan anggota, nanti kesanya aneh dilihat sama anggota Zeus yang lain. Mungkin sebaiknya saya membantu abang dari balik layar saja".
"Kamu sungguh membuat saya kagum Bim, masih muda tapi sudah menjadi seorang pemikir yang sangat cerdas dan juga sangat ahli dalam petarungan".
"Bang Jack terlalu memuji, saya cuma sedikit tau saja, dan sebenarnya saya itu bodoh dan masih perlu banyak belajar".
"Ha-ha-ha..! Kamu terlalu merendah Bim". Bang Jack ketawa lagi.
Gw cuma tersenyum masam melihatnya, dibilang gw bodoh kagak percaya ini orang.
Gw lihat bang Bram kembali masuk dengan dengan tergesa-gesa.
"Gimana Bram sudah kamu hubungi semua pemimpin cabang markas kita?".
"Sudah bang saya sudah bilang seperti yang bang Jack perintahkan".
"Ok kita berangkat sekarang!". Bang Jack berdiri dari duduknya, auto gw juga ikut berdiri.
"Kalau gitu saya juga pamit bang mau kembali ke kost".
"Kamu enggak mau bicara sama Bianca dulu Bim? susah saya kalau dia cemberut terus seperti itu".
"Apa enggak apa-apa saya disini bang, sementara bang Jack keluar".
"Saya malah senang Bim dan tidak kawatir sama adik manja saya itu jika kamu disini".
"Ya udah bang saya akan tunggu di luar, kata bang Anton tadi Bie baru di jemput dari Campus".
"Non Bianca sudah kembali kok Bim, tadi saya lihat saat menelfon di luar". Bang Bram berbicara.
"Ya udah kamu tolong ngobrol sama Bianca Bim, saya akan keluar dan mencicang penghianat itu!".
Ngeri cok, kata-kata ne! pakai kata cincang segala emang dikira kambing apa yak. Gw cuma tersenyum doang mendengar itu dan mengomentari dalam hati.
Gw berjalan mengikuti bang Jack dari belakang keluar dari ruangan pribadinya ini bersama bang Anton dan bang Bram juga tentunya.
Gw ngikut aja kek orang bego sampai parkiran depan, gw malah kek jadi tuan rumah ini yang ngantar tamunya pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gw tenang saat melihat masih banyak orang yang menjaga di luar, kan kagak lucu kalau semua orang pergi.
Gw kembali berjalan masuk ke Rumah bang Jack, gw tunggu di ruang tamu saja mungkin Bianca ada di kamarnya. Kagak enak gw kalau langsung nyelonong aja kesana.
Gw duduk dan meraih hp di saku terlihat ada notif pesan WA dari Amora yang bilang dia rindu, gw tersenyum membacanya, gw masukin lagi hp di kesaku.
Sengaja kagak gw balas, karena mau jual mahal biar Amora penasaran. Gw ketawa dalam hati memikirkan Amora yang mungkin sekarang lagi cemberut.
Gw langsung berdiri saat terdengar ada suara langkah kaki yang mendekat dan ternyanta itu bukan Bianca melainkan Simbok asisten Rumah tangga.
"Den Bimo kok disini, enggak ikut tuan keluar?".
"Enggak mbok, saya ada keperluan sama Bianca soalnya. Tolong dong mbok panggilin Bianca mungkin dia ada di kamarnya sekarang".
"Non Bianca sejak pulang tadi langsung berenang den di kolam renang, saya suruh makam dulu enggak mau non Biancanya".
"Masih berani aja mbok itu anak renang, enggak takut kelelep lagi apa".
"Non Bianca akhir-akhir ini sering uring-uringan den, simbok enggak berani menasehati".
"Ya udah Mbok, biar saya temui Bianca dulu".
"Iya den silahkan tolong bujuk non Bianca untuk makan".
"Iya mbok akan saya usahakan". Gw menjawab dan langsung berjalan ke arah kolam renang.
Gw saat ini antara kesel dan penasaran sama Bianca.
Kesel karena kagak kapok itu anak dan masih berenang aja padahal udah pernah kelelep juga.
Dan penasaran karena pengen lihat Bianca dengan baju renang seksi itu, yang kek BH sama CD doang menampilkan pemandangan Wonderfull Indonesia yang buat gw nelan air liur. Kaki mulus panjang seksi dengan pinggul bulet kek bakpau, dengan perut ramping rata dan tidak lupa dadanya yang besar dan berontak itu.
"Plaak". Gw berhenti dan sejenak dan menampar pipi gw sendiri pelan. Bisa-bisanya berfikiran kek gitu ini otak.
Gw menarik nafas panjang dan pelan kembali melangkah dan entah kenapa gw jadi jalan nunduk dan mengendap-ngendap seperti orang lagi mau ngintip saja.
Suara Bianca berenang terdengar walaupun gw belum sampai, seperti lagi berantem aja itu bocah sama air.
Tak berselang lama sampailah gw di dekat kolam renang tepatnya depan pintu kaca yang mengubungkan dalam rumah dan area kolam beserta taman.
Dan seperti yang sudah gw duga Bianca berenang dengan kostum yang mengundang batang gw untuk berdiri tegak.
Itu anak udah kek ikan pari aja meliuk-meliuk di dalam air.
"Wiiuuwitt!". Mulut gw autu bersiul saat melihat pinggul Bianca naik.
Gw langsung mengutuk ini mulut dalam hati, kumat mulu kalau liat kek ginian.
"Bimoooo!!". Bianca teriak dan melihat gw dari tengah kolam renang.
"Setttt!! Jangan teriak Bie, lanjutin aja renang kamu. Aku liatin dari sini"
"Pergi aku enggak mau liat pembohong!". Bie kelihatan benar-benar marah sama gw, terdengar dari nada suaranya yang ngusir itu.
"Ya udah aku tunggu di ruang tamu ya, nanti aku jelasin semuanya, Kamu lanjutin aja renang kamu dulu".
"jangan buat aku nunggu lama ya Bie!". Gw tersenyum dan berbalik pergi.
"Bimooooo!!!".
Baru aja 5 langkah gw berjalan gw dengar teriakan Bianca yang sangat terdengar familiar.
"Mampus! Kagak kelelep lagi kan itu bocah". Gw langsung berbalik dan berlari ke arah kolam renang lagi.